Dampak Dualisme Kepsek, Guru Sepakat Mogok

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA)Dampak dari dualisme Kepala Sekolah (Kepsek) dan tidak memiliki Surat Keputusan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan terhadap siapa yang menjadi  Kepala Sekolah (Kepsek), di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 7 Mimika. Guru-guru setempat bersepakat mogok mengajar.

Menurut Wakil Kepsek SMP N 7 Mimika Asmiati  menjelaskan soal situasi itu, bahwasanya Kepsek  yang baru,  yakni Bastiana Kareth mengundurkan diri dari pelimpahan tugas Kepsek sebelumnya Agus S Kolawi. Setelah menjabat sebagai Kepsek selama 3 tahun, sampai saat ini, Bastiana Kareth belum dan tak kunjung dilantik.

“Belum ada Surat Keputusan (SK) dari dinas dan belum ada pelimpahan tugas Kepala Sekolah.  Ibu Bastiana sudah memberikan surat pengunduran diri dari jabatan. Itu karena rasa kekecewaan yang tak kunjung dilantik. Padahal sudah menerima surat pelimpahan tugas dari Kepsek sebelumnya,“ katanya kepada media ini di SMPN 7, Selasa (3/10).

Dia mengaku hampir seminggu proses pembelajaran di SMP N 7 ditiadakan.  Banyak guru memilih untuk tidak masuk sekolah hingga keputusan dari Dinas Pendidikan sudah jelas. Suasana sekolah, katanya  akan terus seperti ini hingga adanya keputusan.

“Kamis lalu, ada rapat komite. Sayangnya rapat tersebut tak memberikan hasil. Seluruh guru bersepakat untuk menonaktifkan tugasnya sebagai pengajar hingga status Kepsek disini sudah jelas,” ujarnya.

Guru yang membidangi matematika itu juga mengatakan, semua dana pendidikan berupa dana BOS tidak cair. “Situasi ini bearwal dari pemberian nota tugas sejak  Februari lalu. Disini sudah tidak ada spidol, penghapus atau ATK lainnya. Itu karena Dana BOS ynag tidak cair,” katanya.

Selain itu, kepala bagian kesiswaan Egi, mengaku sudah banyak persoalan akibat polemik status Kepsek.  Menurutnya, tidak adanya kepsek di sekolah itu turut berdampak pada aktivitas sekolah sehari-hari. Pasalnya banyak orang tua wali dari anak didik yang ingin memindahkan anak mereka di sekolah lain dengan alasan yang sama.

“Siswa disini jadi korban.  Jadi dampaknya tidak ada perkembangan terhadap sekolah. Bahkan nama sekolah ini dinilai buruk oleh para wali murid,”  ujarnya.

Para siswa tetap dianjurkan untuk masuk sekolah meski tidak ada proses belajar mengajar. Akibatnya, siswa hanya bermain di sekolah hingga terjadi kecelakaan pada seorang siswa kelas 8 dan seorang siswa yang tak kkunjung pulang kerumah dengan alasan berangkat sekolah.

“Kemarin ada siswa yang jatuh akibat bermain hingga tangannya patah. Tak hanya itu, barusan ada orangtua murid datang untuk menanyakan keberadaan anaknya yang belum pulang sejak berangkat ke sekolah,” ujarnya.

Terkait  hal tersebut, Ketua Osis (Ketos) SMP N 7 Mimika, menyanyangkan dampak yang diterimanya. Pasalnya, para siswa mulai kehilangan semangat dalam belajar.

“Sejujurnya kami semua tidak merasa nyaman dengan kondisi saat ini. Banyak guru-guru tidak masuk sejak Jumat lalu. Pembelajaran pun terhambat. Kami menjadi malas belajar. Tidak tahu dalam waktu berapa lama semua ini akan terjadi,”  ujarnya.

Selama belum adanya keputusan dari Dinas Pendidikan, SMP N 7 terus diawasi oleh pengawas yang ditugaskan.  Kepala bagian Kesiswaan, Egy berharap agar Pemerintah menyelesaikan persoalan ini dengan cepat dan mengambil langkah baru untuk mengembalikan nama baik sekolah.


Kita mengharapkan kasus ini mendapat respon dari pemerintah. Jika tidak ada penyelesaian demo adalah solusi terakhir. Jika minggu ini tidak ada langkah penyelesaian, maka demo itu akan terjadi,” harapnya. (Salma)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment