Deseminasi KEKR Triwulan II Perekonomian Papua Meningkat 4,91 Persen

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) - Pertumbuhan ekonomi provinsi Papua mengalami peningkatan pada Triwulan II tahun 2017. Tercatat, kinerja perekonomian provinsi Papua meningkat mencapai 4,91 persen dibanding triwulan sebelumnya yang hanya mencapai 3.36 persen.

Meskipun demikian, realisasi pertumbuhan ekonomi Papua lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, yang mencapai 5,01 persen pada triwulan II.

Kepala tim advisory ekonomi dan keuangan kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) provinsi Papua, Fauzan, mengatakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan, dipengaruhi kinerja sektor usaha pertambangan dan penggalian yang tumbuh signifikan. Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya penjualan konsentrat tembaga hasil pertambangan. Namun di sisi lain, lapangan usaha konstruksi mengalami penurunan dari 9.42 persen triwulan I menjadi 3.84 persen pada triwulan laporan.

“Penurunan ini disebabkan oleh rendahnya realisasi belanja APBD provinsi Papua,” kata Fauzan.
Dari sisi inflasi, secara umum di provinsi Papua pada triwulan II mencapai 3.10 persen, menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 3.89 persen. Penurunan ini disebabkan rendahanya tekanan harga pada kelompok komoditas volatile foods.

Terjaganya pasokan komoditas seiring kondisi cuaca dan tinggi gelombang laut yang relatif kondusif. Itu menjadi factor peredam inflasi pada triwulan ini. Disisi lain tekanan inflasi sepanjang triwulan II, terutama berasal dari penyesuaian tarif komoditas oleh pemerintah.

“Penyesuain tarif komodiatas ini oleh pemerintah itu mencakup tarif listrik untuk pelanggan 900 Va, tarif angkutan udara dan tarif pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM), STNK serta BPKB. Hal ini menyebabkan tekanan inflasi meningkat signifikan,” jelasnya.

Dibandingkan dengan kota lain seperti Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua), kota Jayapura adalah kota dengan inflasi terendah pada triwulan II yang mencapai 2.57 persen. Sedikit lebih rendah dibandingkan dengan Kabupaten Bau-Bau yang menempati urutan kedua dengan inflasi sebesar 2.67 persen.

Perkembangan inflasi hingga bulan Agustus 2017, tercatat bahwa Papua mengalami deflasi sebesar -0.07 persen. Penurunan tekanan harga komoditas terutama di sebabkan oleh deflasi pada kelompok komoditas volatile foods.

Lebih lanjut, Fauzan mengatakan secara umum kondisi stabilitas sistem keuangan di Papua masih relatif terjaga, dimana kondisi keuangan dari pelaku ekonomi baik korporasi dan masyarakat masih terjaga dan relatif mampu memenuhi kewajiban finansialnya.

Tidak hanya itu, kinerja perbankan di sektor korporasi Papua pada triwulan II juga masih relatif terjaga. Kondisi ini tercermin dari beberapa indikator kinerja utama perbankan di sektor korporasi, dimana dana pihak ketiga (DPK) korporasi secara signifikan mengalami kenaikan dan kredit masih tumbuh, meski lebih lambat dari triwulan sebelumnya.

Dari sisi rumah tangga, pengelolaan keuangan rumah tangga pada triwulan II relatif stabil jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Berdasarkan hasil survei konsumen, tercatat bahwa persentase alokasi tabungan di atas 10 persen dari pengeluaran masih berada pada kisaran 26 persen hingga 33 persen.

“Kondisi ini mengindikasikan bahwa masyarakat masih menjaga kehatia-haian dalam pengelolaan keuangan,” ujarnya.

Kegiatan Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) provinsi Papua Triwulan II 2017 digelar di Hotel Horison Ultima, Jalan Hasanuddin, Rabu (4/10). Dengan menghadirkan pembicara Kepala Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua. Kegiatan ini dihadiri oleh pekerja perbankan dan perwakilan dari Dinas Perhubungan Kabupaten Mimika. (Tomy)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment