Diajak Kerja Keras Persiapkan SDM Asmat Cerdas

Bagikan Bagikan
Rapat monitoring dan hasil supervisi Dinas Kesehatan Asmat terhadap program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
SAPA (ASMAT) – Kesimpulan sementara hasil kerja keras Dinas Kesehatan melalui tenaga medis di 13 Puskesmas, sebagai ujung tombak melaksanakan pemberian makan tambahan dan asupan gizi kepada ibu hamil dan pasca melahirkan dari usia nol tahun sampai lima tahun memperlihatkan titik terang, bisa terwujud.

Walau mereka mengakui program itu, setelah dilaksanakan tercatat ibu hamil yang tersebar di 13 Puskesmas belum memenuhi target tahun ini 890 orang. Dan baru terealisasi 571 orang ibu hamil dan bayi sedang ditangani asupan gizinya. Dukungan biaya untuk mewujudkan program tersebut tahun ini dianggarkan senilai Rp9 miliar lebih.

“Saya mewakili Bupati dan Wakil Bupati Asmat mengucapkan terima kasih kepada semua petugas medis yang serius melaksanakan program ini. Memang, program ini program prioritas yang membutuhkan kerja keras semua lintas sektoral untuk mewujudkannya. Karena visi misi bupati dan wakil bupati memprioritaskan investasi mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) Asmat yang berkualitas dan cerdas 20 tahun mendatang,” kata Sekda Asmat, Bartholomeus Bokoropces dalam rapat monitoring dan hasil supervisi Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat terhadap program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) manusia sejak 2016 lalu dihadapan Kepala Dinas lintas sektoral Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dilingkup Pemda Asmat, Jum’at (27/10), di Aula Mandala Dinas Pendidikan Kabupaten Asmat.

Sekda Asmat sempat pesimis ketika memberikan sambutan dan membuka rapat monitoring dan supervisi program 1000 HPK manusia itu. Dia mengakui kalau pelaksanaan program tersebut dari berbagai informasi dan nada sumbang dari lapangan disebutkan bahwa program itu sebagai salah satu sumber rezeki dan peluang mendapatkan uang.

Dikatakannya visi-misi program ini sejatinya bertujuan bisa menyentuh masyarakat, terutama ibu-ibu disetiap kampung yang mulai ada tanda-tanda hamil dan melahirkan baynya selama lima tahun diberi asupan gizi sesuai standart kesehatan.

“Ini program sangat mulia untuk mempersiapkan SDM Asmat yang berkualitas dan cerdas tahun-tahun mendatang. Maka saya berharap dalam rapat monitoring ini kita menyampaikan apa adanya yang terjadi di lapangan. Apakah tenaga kurang, sementara jumlah ibu hamil dan anak melebihi anggaran yang dianggarkan atau uang yang berkurang. Jadi, mari kita bersama-sama mencari solusi dan jalan keluarnya dalam evaluasi ini,” katanya.

Menurutnya program pemberian asupan gizi kepada anak-anak sekolah juga diharapkan bisa mendorong anak-anak Asmat yang datang dari keluarga yang kurang beruntung bisa bersaing dengan anak-anak yang datang dari keluarga yang ekonomi orang tuanya cukup.
“Saya berharap kita bekerja sesuai nurani dan dituntut memiliki kepedulian yang tinggi. Sehingga kita bisa menghantar anak-anak Asmat yang unggul, cerdas dan berkualitas sesuai visi dan misi bupati Asmat,” harapnya.

Diakui Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat, dr. Pieter Pajala menyampaikan, program ini mulai dilaksanakan tahun lalu, dengan pilot project di Puskesmas Agats melebihi dari angka yang ditargetkan. Berdasarkan pengalaman dari Puskesmas Agats dalam tahun anggaran 2017 diterapkan di 13 Puskesmas.

“Nanti kita dengar  bersama hasil supervisi Dinas Kesehatan soal keberhasilan dan kendala yang dihadapi di lapangan dalam presentasi masing-masing Kepala Puskesmas. Saya kira itu yang saya bisa sampaikan,” katanya singkat.

Dari hasil catatan media ini dalam rapat monitoring itu, dr. Steven Langi dari Dinas Kesehatan Asmat yang ditunjuk sebagai moderator memaparkan secara sekilas dari sisi medis program 1000 HPK. Dia menyampaikan keberhasilan program ini untuk memberi makanan tambahan kepada ibu-ibu yangmulai hamil dan pasca melahirkan hingga usia empat sampai lima tahun perlu didukung lintas sektoral. Peralatan yang memadai, seperti alat pemeriksaan hemoglobin. Ibu-ibu hamil menghindari kebiasaan merokok dan makan pinang serta membudayakan kebiasaan  hidup sehat.

“Kita akan mendengar hasilnya seperti apa di lapangan dan kendala-kendala yang dihadapi petugas medis  dari 13 Puskesmas dan mendengar pemaparan singkat dari ahli gizi Dinas Kesehatan pa Darman,” katanya.

Menurut Darman kunci keberhasilan program ini kalau  bercermin dari hasil supervisi yang dilakukan dinas kesehatan sejak diterapkan program ini di lapangan membutuhkan berbagai sarana pendukung. Ia menyebutkan sarana pendukung salah satunya alat pemeriksaan Hemoglobin.

“Alat ini hampir di semua Puskesmas tidak memiliki alat pemeriksaan hemoglobin, ini fakta. Kemudian banyak ditemukan kendala yang dihadapi petugas budaya hidup sehat masih membutuhkan kerja keras. Menu makanan yang berprotein tinggi, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan masih terbatas. Meski ditengah kendala itu, teman-teman di lapangan sudah bekerja keras mewujudkan visi misi bupati dan wakil bupati Asmat,” katanya singkat.

Setelah Darman mempresentasikan hasil supervisi di lapangan, moderator mempersilahkan Kepala Puskesmas Agats Nantanrias menyampaikan hasil pelaksanaan program 1000 HPK di Puskesmas Agats. Nantanrias menyampaikan pelaksanaan rogram tersebut di Puskesmas Agats melebihi dari target dan berjalan sesuai standart kesehatan. Kendala yang ditemukan di lapangan kurang aktifnya Kepala Distrik dan kampung ikut mencukseskan program ini.

“Saya kira seperti itu yang terjadi di Puskesmas Agats,” katanya sambil memperlihatkan visualisasi kegaiatan pemberian makan tambahan kepada ibu hamil dan baynya di Gor Asmat dan Puskesmas Suru.

Setelah Kepala Puskesmas Agats disusul bergiliran dari 13 Puskesmas menyampaikan presentasi hasil pelaksanaan di lapangan. Dari data yabg tercatat kendala di lapangan, Puskesmas yang jauh dari Kota Agats mengeluhkan mahalnya harga barang, menu makanan ikan dan ayam rata-rata ikan dan ayam es. Budaya hidup sehat dan sejumlah pantangan menurut tradisi setempat berlawanan dengan menu makan yang sesuai standart kesehatan.

Dari sejulah kendala itu, dalam diskusi, Sekda mengucapkan terima kasih, karena ia mengakui kalau pelaksanaan  1000 HPK di lapangan berjalan sesuai standart kesehatan. “Saya mewakili bupati dan wakil bupati menyampaikan terima kasih bahwa impian kita semua bisa terwujud. Dan saya secara pribadi jangankan ratusan orang. Satu dua orang anak-anak dari mama-mama yang kita usahakan melahirkan anak yanh berkualitas dan cerdas, itu sudah cukup,” akunya.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Asmat, M. Iqbal Rimosan Sp,M.Si mengajak semua SKPD lintas sektoral  tidak pesimis dengan program tersebut. “Saya mengajak kita semua tidak pesimis dan tetap optimis. Meskipun kita berhadapan dengan kebiasaan warga kita yang masih jauh dari budaya hidup sehat. Saya percaya program ini bisa sukses. Dan apa yang disebut soal sumber protein dan karbohidrat itu tanggung jawab saya. Nanti kita bekerja sama dengan PPL di lapangan,” katanya.


Senada dengan Kepala Dinas pertanian, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Asmat, Donatus Tamot menyarankan untuk mendukung program ini dari semua SKPD harus menerapkan tugas pokok dan fungsi masing-masing. “Saya kira itu yang lebih penting untuk mensukseskan program ini,” katanya. (Fidel)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment