Gubernur dan Pangdam Hadiri Pesta Budaya Asmat

Bagikan Bagikan
Gubernur Papua dan Pangdam hadiri pesta budaya asmat ke 32.
SAPA (ASMAT) – Gubernur Papua, Lukas Enembe dan Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Goerge Elnadus Supit menghadiri Pesta Budaya Asmat ke-32 di Lapangan Yos Sudarso, Agats, Kabupaten Asmat.

Selain itu, hadir pula Komandan Korem 174/ATW, Brigjen TNI Asep Setia Gunawan, Irwasda Polda Papua, Ketua DPD PDI-P Papua Edo Kaize dan tamu undangan. Gubernur Papua dan rombongan tiba di Bandara Ewer, Senin (23/10) siang, dan pada sorenya langsung mengikuti pelelangan hasil kerajinan tangan berupa ukiran dan anyaman karya masyarakat setempat.

Gubernur Papua, Lukas Enembe dalam sambutannya sebelum acara pelelangan mengatakan, suku-suku di Papua memiliki keanekaragaman budaya yang luar biasa, salah satunya seni dan budaya yang dimiliki masyarakat Asmat. Harkat dan martabat orang Papua ada pada seni budaya.

“Saya berterima kasih, lahir, hidup dan besar di Tanah Papua dengan budaya yang luar biasa. Oleh karena itu, budaya kita harus terus dijaga dan dilestarikan,” kata Enembe.

Enembe mengaku baru pertama kali menghadiri Pesta Budaya Asmat. Ia memberikan apresiasi kepada masyarakat asli Asmat yang telah menjaga dan melestarikan budayanya. Gubernur berharap agar budaya Asmat dapat menarik perhatian banyak orang.

“Acara ini harus terus dilaksanakan, sehingga semakin banyak orang yang datang untuk menyaksikan pesta budaya ini,” pungkasnya.  

Sementara Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito OFM mengatakan, ide penyelenggaraan pesta budaya Asmat awalnya dicetus oleh Uskup Keuskupan Agats yang pertama, yakni Uskup Alfons Suwada.

“Beliau menginginkan supaya budaya Asmat dilestarikan, tidak punah oleh perubahan-perubahan jaman. Sehingga salah satu sarana untuk melestarikan seni budaya masyarakat Asmat ini ialah dengan menyelenggarakan pesta budaya setiap tahun,” terang Mgr. Aloysius.

Dikatakan, Pesta Budaya Asmat ke-32 tahun 2017 dengan tema ‘Jangan Padamkan Api Tungku Wayir’, memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Asmat. Tungku api wayir merupakan tungku utama dalam rumah adat.

“Tungku ini mempunyai peranan yang penting, lebih daripada fungsi material sebagai tempat perapian. Tungku ini merupakan suatu tempat di mana, wakil-wakil masyarakat di kampung berkumpul bersama mengambil kebijakan-kebijakan yang menentukan masa depan masyarakat di kampung itu sendiri,” terang Mgr. Aloysius.

Uskup Agats menambahkan, kesempatan pesta budaya tersebut merupakan suatu kesempatan istimewa bagi masyarakat untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur. (Nuel)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment