Hari Cinta Puspa dan Satwa Masyarakat Makin Peduli Biodiversity

Bagikan Bagikan
Komunitas Pecinta Hewan RTC ketika menyerahkan satwa jenis ular
SAPA (TIMIKA) – PT Freeport Indonesia (PTFI) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) melalui  Departemen Enviromental menggelar berbagai kegiatan menyambut peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa (HCPS)  yang diperingati setiap tanggal 5 November.

Kegiatan yang terdiri atas Talkshow, dan lomba tanaman hias ini, digelar di Atrium Shoping Kuala Kencana (KK) bagi komunitas Kuala Kencana dan warga Timika, Jumat (27/10).

Kegiatan yang mengusung tema “Upaya Perlindungan Satwa di sekitar Kabupaten Mimika” ini, dihadiri oleh berbagai peserta dari institusi pemerintah, pelajar tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan melibatkan mitra kerja lainnya. Diantaranya pihak dari Taman Nasional Laurens, Karantina Pertanian, USAID Lestari, TNI/Polri, serta kelompok Pecinta Satwa dari Reptil Timika Community (RTC), Animal Care, dan Mimika Reptile Lover.

Roberth Sarwom selaku Gen.Supt. LL Reclamation and Biodiversity mengatakan, kegiatan itu guna untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan pelestarian puspa dan satwa serta untuk menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan. “Hanya ingin mengingatkan kepada semua kalangan untuk lebih meningkatkan kecintaan pada keanekaragaman hayati itu sendiri,” kata Roberth kepada wartawan.

Menurut Roberth, tingkat kesaradan masyarakat terhadap keanekaragaman hayati sudah mencapai 40%. Hal itu terlihat pada aktivitas penyerahan satwa pada BKSDA untuk dilepaskan.

“Sejauh ini, penyerahan kepada kami semakin banyak. Itu artinya semakin baik. Biasanya BKSDA membeli tapi sekarang masyarakat menyerahkannya pada kami dengan sendirinya yang nanti akan kami lepas,” ujarnya.

Roberth menjelaskan saat ini sudah ada empat puluhan ribu lebih kura-kura. Selain itu, kelompok burung juga banyak. Ia mengatakan, program semacam itu akan terus dilakukan, mengingat perlindungan akan satwa di wilayah Kabupaten Mimika masih rendah.

“Program konservasi menjadi komitmen PTFI. Semua jenis satwa apapun yang ada dipelihara secara illegal akan disikapi sesuai undang-undang. Tentu hal ini harus melibatkan semua kalangan,” katanya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan warga dan komunitas Timika mengenai pentingnya konservasi satwa agar kuantitas satwa  di Papua dapat terjaga dengan baik. “Semoga masyarakat semakin peduli dan kesadaran akan keaneragaman hayati semakin tinggi.  Mari kita tanam pohon agar rumah bagi satwa selalu tersedia,” kata Roberth.

Sementara itu, Kepala SKW II Timika BKSDA Papua, Bambang H. Lakuy mengatakan, belum adanya petugas maupun dokter yang tersedia lantaran belum adanya kandang transit bagi para satwa.
“Kehutanan hanya memiliki tiga volunteer. Karena itu, kita merangkul para stakeholder seperti BKSDA dan lapisan masyarakat. Selain itu, jika kita menyita banyak satwa, maka kita harus punya tempat penampung. Kehutanan belum memiliki itu. Dananya tidak ada. Jika kita tangkap, kita mau kemanakan? Untuk itu, kita kerjasama dengan PTFI,” ujarnya saat ditemui wartawan.


Puncak dari rangkaian peringatan HCPS tersebut akan dilaksanakan pelepasan satwa dilindungi dari pihak BKSDSA dalam menjaring penyelundupan satwa dilindungi keluar dari wilayah Papua. Satwa yang akan dilepaskan diantaranya, hewan labi-labi moncong babi, burung nuri kepala hitam, kaka tua putih, mambruk dan elang bondol Papua. (Salma)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment