Insiden Gas Beracun Satu Pekerja Tewas, Dua Kritis

Bagikan Bagikan
Insiden Gas Beracun
SAPA (TIMIKA) - Mewakili manajemen PT Freeport Indonesia, Vice Presiden Corporate Communications PTFI Riza Pratama mengakui sangat  menyesalkan insiden tewasnya seorang karyawan subkontraktor dari PT RUC  Hendry Munardi ID Freeport 80016371 dan berharap dua rekannya yang masih kritis, Nofi Rizal Fachrudhin S, ID 80016208 dan Sri Giri Dino Haryanto, ID 80015741 cepat sembuh akibat menghirup gas beracun di lokasi tambang underground (bawah tanah) Big Gossan.  

"Dengan sangat menyesal manajemen PT Freeport mengumumkan bahwa seorang karyawan kontrak  PT. RUC meninggal dunia dan dua rekannya,  sedang dirawat intensif di Rumah Sakit Tembagapura akibat  mengalami cidera saat bekerja di tambang Big Gossan tadi malam sekitar pukul 00.20 Wit," katanya ketika dihubungi dari Timika, Rabu (18/10).

Riza menuturkan, pada saat kejadian ketiga karyawan itu tengah mempersiapkan stope untuk kegiatan produksi. Ketiga korban ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri pada saat Emergency Respon Tim mendapatkan laporan melalui jalur Emergency Respon (7777). Tim ERG bersama tim Safety dan pihak Security Risk Management (RSM) yang mendapat informasi tersebut merespon cepat ke TKP dan langsung melakukan evakuasi terhadap 3 korban yang diduga pingsan.

"Tim Mine Rescue merespon ke tempat kejadian dan ketiga pekerja tersebut selanjutnya dibawa ke rumah sakit. Sangat disayangkan bahwa Hendry Munardi (49) dinyatakan meninggal dunia. Kedua rekannya, Sri Giri Dino Haryanto dan Nofi Rizal Fachrudin saat ini masih berada di bawah pengawasan intensif di Rumah Sakit Tembagapura," tuturnya.

Dari data yang dihimpun media ini dari berbagai sumber, setelah ketiga korban dilarikan ke Rumah Sakit Tembagapura, tim Rescue dan Crew Ventilasi langsung melakukan pengujian kadar udara di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Dari hasil pengujian tim tingkat atau kadar gas Carbon monoxide (CO) melebihi ambang batas yakni 1500 PPM, seharusnya ambang batas maksimal adalah 25 PPM. Ketika terjadi kondisi seperti itu, karyawan yang berada dilokasi kerja harus segera dievakuasi. Meski begitu, kegesitan tim Rescue dan Crew Ventilasi berselang beberapa saat, tiga korban berhasil dievakuasi dari TKP ke tempat yang aman untuk mendapat pertolongan pertama dan dilarikan ke Rumah Sakit Tembagapura.

Menurut sumber dari tim medis RS Tembagapura, dokter Reza mengaku ketika  memeriksa tiga korban. Henry Munardi (49) dinyatakan telah meninggal dunia dan jenazahnya langsung dibawa ke ruang jenazah untuk divisum. Sedangkan 2 rekannya, kini masih sempat kritis, namun setelah menjalani perawatan intensif di ruang ICU RS Tembagapura perlahan-lahan mulai stabil.

Akibat kondisi tersebut, sementara aktivitas kerja di areal Big Gossan seluruh Level 2640 Under Ground di tutup sementara waktu untuk proses investigasi sampai dinyatakan aman untuk melakukan aktivitas pertambangan.

Juru Bicara manajemen PTFI, Riza  menyebutkan, Hendry Munardi meninggalkan seorang isteri dan dua orang anak. Dan Almarhum Hendry ini baru saja bekerja di tambang  Underground  (di bawah tanah) PT Freeport sejak Agustus lalu.

"Kami sangat berduka atas kejadian ini serta menghaturkan ucapan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan," katanya.

Dari pantuan media ini sekitar  pukul 12.16 Wit, jenazah Almarhum Hendry Munardi tiba di Bandar Udara Mosez Kilangin melalui jalan darat dan direncanakan diberangkatkan ke Batam via Makassar, Jakarta menggunakan Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA.655.

Menurut Riza, penyelidikan lebih lanjut terkait peristiwa tersebut sedang dilakukan oleh pejabat berwenang dan pihak berwajib.

"Kami berharap dan mendorong setiap pekerja  untuk tetap fokus, tidak hanya atas keselamatan diri sendiri, tetapi juga atas keselamatan rekan-rekan yang bekerja di sekitarnya," harapnya.

Senada dengan Dokter Reza, Juru Bicara manajemen PTFI  juga menyebutkan dua rekan Almarhum Hendry masih selamat atas nama Nofi Rizal Fachrudhin S asal Ngawi, Jawa Timur dan Sri Giri Dino Haryanto asal Lebak, Banten, hingga saat ini kondisinya masih stabil dan menjalani perawatan intensif di RS SOS Tembagapura.

Terkait kejadian itu, Kapolres Mimika AKBP Victor Dean Mackbon, SH, S.IK, MH, M. Si membenarkan adanya tiga karyawan dari PT RUC Cementation Indonesia yang menjadi korban karena menghirup gas beracun. Satu karyawan dinyatakan meninggal dunia di areal Big Gozan level 2640 Cross Cut 21 Underground. Karena, diduga menghirup gas beracun pada saat bekerja. Sedangkan dua karyawan lainnya masih bisa diselamatkan dan kondisi mereka mulai stabil, setelah menjalani perawatan intensif pihak medis di Rumah Sakit Tembagapura.


"Tim kami masih menunggu informasi lanjutan dari Tim Departemen Underground PT Freeport apakah lokasi itu sudah steril untuk dilakukan olah TKP. Untuk sementara waktu operasi tambang di area tersebut dihentikan sementara. Sedangkan di area tambang bawah tanah lainnya masih tetap beroperasi seperti biasa," katanya.  (Ricky Lodar/Ant).
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment