Kampak Minta Kapolres Mimika Serius Tangani Korupsi *Terkait Dugaan Korupsi di Dispendasbud

Bagikan Bagikan
Johan Rumkorem saat mendampingi dalam aksi.
SAPA (TIMIKA) - Sekjen LSM Kampak Papua Anti-Korupsi Wilayah DKI, Johan Rumkorem, mempertanyakan kinerja unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Mimika yang dianggap lamban menangani kasus dugaan korupsi pada Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (Dispendasbud) Kabupaten Mimika.

Melalui laporan guru-guru kepada LSM Kampak Papua di Mimika, kepala Dispendasbud di anggap telah menyelewengkan dana Tunjangan Tambahan Penghasilan (TTP) atau yang di sebut insentif guru senilai Rp47.656.800.000.

“Atas laporan ini, saya melakukan wawancara langsung di lapangan dan investigasi langsung dengan guru-guru yang dirugikan. Ternyata kepala Dinas Pendidikan Dasar ini sudah melakukan perencanaan kejahatan sebelumnya,” kata Johan dalam rilisnya yang diterima Salam Papua, Senin (23/10).
Untuk mengetahui rencana kejahatan yang dilakukan oleh Kepala Dispendasbud, Kampak melakukan investigasi awal dengan mengumpulkan data dan bukti-bukti dari para guru melalui DPA 2016  dan 2017, ternyata, diketahui banyak yang di mark up“Kami sudah melihat bukti-bukti itu, ternyata benar juga,” katanya.

Jadi, di anggap sudah tepat masyarakat dalam hal ini guru-guru melaporkan ke unit Tipikor Polres Mimika karena sudah diamanahkan dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang di ubah menjadi Undang-Undang nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi.

“Yang mana pada pasal 3 menyebutkan setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau karena kedudukan yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara, di pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 20 tahun dan atau denda paling sedikit 50 juta rupiah dan maksimal 1 miliar,” jelasnya.

Atas dasar Undang-Undang di atas, kata Johan, sangat tepat para guru melaporkan perilaku Kepala Dipendasbud Mimika Jenny O. Usmani kepada Tipikor Polres Mimika. Karena para guru merasa dirugikan.

“Barangkali kepala dinas sebagai pemimpin yang mempunyai kekuasaan di dinas pendidikan, sehingga seenaknya saja melakukan tindakan seperti itu. Makanya saya kira sudah tepat sasaran masyarakat dalam hal ini guru-guru melaporkan itu, agar pihak Tipikor segera memeriksa aduan laporan masyarakat guru,” katanya.

Bukan itu saja, dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 juga menjelaskan bahwa guru dan dosen pada pasal 14 dan pasal 15 ayat 1, dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya, guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum.

“Jadi, kami sampaikan kepada masyarakat Mimika atau guru-guru, kalau ada yang merasa dirugikan atau ada indikasi, segera melaporkan kepada lembaga hukum yang ada, karena berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 71 Tahun 2000, masyarakat berperan penting melakukan pencegahan dan pemberantasan korupsi. Itu dasar peraturan pemerintah, jadi harus masyarakat melaporkan itu, dan pihak Tipikor Polres Mimika harus menghargai laporan masyarakat,” katanya.

Kampak meminta agar lembaga penegak hukum yang mendiami bumi Amungsa, tidak boleh tunduk terhadap koruptor. Negara harus bangkit dan menyelematkan rakyatnya dari tindakan kejahatan korupsi, karena korupsi merupkaan kejahatan luar biasa.

“Penanganan kasus dugaan korupsi dari lembaga hukum yang ada maka, para guru melakukan aksi demo damai di depan Polres Mimika. Namun, Kapolres sendiri langsung menemui pendemo di lapangan Timika Indah. Kami sudah sampaikan kepada Kapolres bahwa, kasus yang ditangani Tipikor Polres Mimika segera ditindaklanjuti,” tuturnya.


“Kami minta Kapolres serius mendepankan Undang-Undang, apalagi Kapolres sebagai putra terbaik Papua yang saat ini bertugas di tanah Amungsa. Kami tetap mendukung Kapolres untuk memberantas korupsi di bumi Amungsa. Jadi tujuan kami hanya minta kejelasan dari Kapolres tentang laporan guru-guru,” tegas Johan. (Ricky)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment