Kodim dan MUI Gelar Nobar Film G30S/PKI

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) – Kodim 1710/Mimika bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mimika, menggelar nonton bareng (Nobar) film Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI). Kegiatan nobar ini berlangsung di ruang serbaguna masjid Ar-Rahman, Jalan Kartini, Sabtu (30/9) malam.  

Nobar yang juga dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Mimika, Ausilius You, dimulai sekitar Pukul 20.00 WIT. Kegiatan nobar ini sedniri merupakan permintaan dari MUI terhadap Kodim 1710/Mimika.

“Nobar film G30S/PKI sebelumnya sudah dilaksanakan Kodim 1710/Mimika di beberapa titik. Malam ini, pelaksanaan kegiatan di tempat ini atas permintaan MUI Mimika,” kata Komandan Kodim (Dandim) 1710/Mimika, Letkol Inf Windarto, saat diwawancara Salam Papua di sela-sela kegiatan nobar.

Film yang pernah terhenti sejak tahun 2003 tersebut, kata Windarto, saat ini kembali ditayangkan atas instruksi langsung Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Karena antusiasme masyarakat yang begitu tinggi, pada malam yang sama nobar juga dilaksanakan pada beberapa titik di Kabupaten Mimika, salah satunya di Pondok Indah Amor, wilayah SP 3.

“Ini merupakan instruksi langsung Panglima TNI. Masyarakat Mimika sangat antusias menonton film tersebut. Pada malam ini saja, selain di tempat ini, diminta juga diputarkan di Tembagapura, di Koramil Kuala Kencana, di Aula masjid Al-Akbar, di Lanud, di Lanal dan di beberapa tempat yang lain,” katanya.

Film yang disutradarai Arifin C. Noer pada tahun 1984 tersebut, dijelaskan, ditonton oleh semua kalangan usia. Tujuannya sebagai pembelajaran sejarah bagi masyarakat tentang kekejian yang dilakukan oleh PKI. Selain itu, saat ini telah terindikasi beberapa kelompok baik dari internal maupun eksternal bangsa, yang hendak memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk mengganti dasar Negara, yaitu Pancasila. Oleh sebab itu, melalui pemutaran film G30S/PKI ini, masyarakat agar sadar dan terhindar dari pengaruh kelompok-kelompok yang dimaksudkan.

“Tujuannya supaya masyarakat mengetahui sejarah dan mengantisipasi berbagai pengaruh gerakan-gerakan yang memecah belah bangsa yang berlandaskan Pancasila. Sebab saat ini sudah ada kelompok-kelompok, baik dari dalam maupun dari luar yang menghendaki negara ini terpecah,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia kegiatan dan sekaligus Kepala Humas MUI Mimika, Hasrun, mengatakan nobar ini dihadiri sekitar 700 penonton. Walaupun panitia hanya menyediakan 500 kursi, ada juga penonton yang rela berdiri sehingga membuat gedung serbaguna masjid Ar-Rahman penuh sesak. Suasana gedung yang begitu panas karena padatnya penonton tidak mengendorkan semangat mereka hingga akhir kegiatan. Itulah wujud antusiasme peserta nobar yang begitu tinggi.

Menurut dia, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk menumbuhkembangkan kepekaan masyarakat dalam merespon secara cepat adanya upaya dari pihak-pihak tertentu, yang hendak meruntuhkan ideologi Pancasila. Di samping itu, MUI Mimika berkomitmen akan menjadi salah satu benteng mempertahankan keutuhan NKRI, sekaligus menjaganya dari pihak-pihak yang hendak mengganti ideologi Pancasila, khususnya di Kabupaten Mimika.

“Setelah nobar ini, masyarakat nantinya bisa peka dalam merespon dengan cepat adanya berbagai upaya mengacaukan ideologi negara Indonesia, yakni Pancasila. Selain itu, MUI Mimika akan menjadi salah satu benteng mempertahankan keutuhan NKRI dan Pancasila. Serta akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait dalam menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat, khususnya di Kabupaten Mimika,” ujarnya.

Seorang penonton, Lewi Handayani, mengaku senang dengan kegiatan nobar tersebut. Karena Ia sebelumnya belum pernah menonton film G30S/PKI. Dia berharap, kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara intensif dalam membekali masyarakat dengan wawasan kebangsaan dan mempertajam nilai-nilai nasionalisme.

Menurutnya, sikap PKI sama sekali tidak perlu dicontoh, walaupun dengan alasan membela Negara. Sebab, melalui tindakan kekerasan apalagi menghilangkan nyawa orang, tidak dapat diizinkan di negara hukum seperti di Indonesia. Jadi, komunisme sangat bertentangan dengan Pancasila, khususnya sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”.


“Saya sebelumnya belum pernah menonton film ini. Jadi saya senang sekali. Saya berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan untuk menambah wawasan kebangsaan masyarakat. Memang cara-cara PKI begitu sadis dan tidak boleh terjadi lagi di Indonesia. Sangat bertentangan dengan Pancasila,” ujarnya. (Jimmy)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment