Mama-Mama Asmat di Atsj Jadi Pengrajin Noken

Bagikan Bagikan




SAPA (ASMAT) - Ketika mengunjungi Distrik Atsj, Kabupaten Asmat, alangkah baiknya juga kita menyempatkan diri mampir di Sanggar Seni Semenauts. Di sanggar ini, sekelompok mama-mama asli Asmat yang beranggotakan sekitar 50 orang menganyam noken (tas tradisional papua), hiasan kepala, dompet dan aksesoris lainnya.

Di sanggar yang didirikan pada 2013 lalu itu, saban hari mama-mama Kampung Atsj, Distrik Atsj tidak meninggalkan kegiatan menganyam demi memenuhi kebutuhan keluarga maupun anak mereka yang sedang mengenyam pendidikan.

“Bahan-bahan utama yang digunakan untuk membuat noken dari bahan lokal semuanya. Bahan utamanya dari pucuk pohon sagu, akar pandan dan tulang serta bulu burung kasuari,” kata Ketua Sanggar Seni Semenauts, Helena Yaknakap, Jumat (6/10).

Untuk memperoleh bahan-bahan tersebut, anggota kelompok secara bersama-sama mengambilnya di dusun dengan menggunakan perahu. Setelah itu, bahan lokal yang diperoleh diproses dalam waktu yang cukup lama. Selanjutnya dijadikan sebagai bahan dasar noken maupun aksesoris lainnya.

Dalam sehari, mereka bisa menghasilkan 1 hingga 2 noken berukuran kecil. Sementara dalam sebulan bisa menghasilkan 1 hingga 2 noken berukuran besar. “Pekerjaan menganyam ini sudah diwariskan turun temurun oleh tete-nene kami,” katanya.

Sementara, Bendahara Sanggar Semenauts, Monika Amanpari mengaku hasil karya tangan dari kelompok di sanggar tersebut terbilang laris. Hampir setiap hari selalu ada yang datang membeli. Umumnya pengunjung merupakan orang luar yang datang ke Atsj dengan kapal untuk berdagang maupun sekedar mengunjungi.

“Harganya bervariasi, mulai dari Rp100 ribu sampai Rp300 ribu rupiah. Ada juga yang dijual Rp1 juta, itu ukuran besar, dan tingkat kesulitannya tinggi. Dalam satu bulan selalu ada noken yang terjual,” ungkapnya.

Menurut dia, sanggar tersebut punya buku rekening kelompok. Sebagian besar uang hasil jualan diberikan kepada yang empunya noken atau aksesoris. Pemilik noken biasanya menyumbang ke sanggar untuk kebutuhan konsumsi selama mereka bekerja di sanggar tersebut.


“Hasil karya kami tidak hanya dijual di Atjs saja, tapi sudah dikenalkan keluar distrik dan keluar Asmat. Kami tetap mengharapkan dukungan dan bimbingan pemerintah, terutama untuk pemasaran,” tandasnya. (Nuel)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment