Nyalakan Api Wayir Merawat Keluhuran Budaya Asmat

Bagikan Bagikan


SAPA (ASMAT) – Setiap kali mendengar gema pesta budaya Asmat, warga dari berbagai planet bumi Indonesia, Eropa, Amerika, termasuk mantan Duta Venezuela dan crew media cetak dan eletronik mendatangi Asmat. Para tamu itu ingin menyaksikan dan mendorong warga setempat tetap menyalakan api Wayir dan merawat nilai-nilai luhur budaya Asmat.

“Saya sudah kesekian kalinya mengikuti pesta budaya Asmat. Saya tidak pernah bosan. Karena, penitia pesta budaya Asmat sangat kreatif mengemas pesta budaya Asmat ini menjadi sebuah event yang sulit terlupakan dalam sejarah perjalanan hidup saya menjumpai warga Asmat dan eksotik budayanya. Maka kali ini saya berusaha untuk hadir lagi menyaksikan dari dekat,” kata tamu asal Jakarta yang mengaku bernama Feny, di Cafe Hotel Sang Surya Keuskupan Agats, Kamis (19/10) malam.

Dia mengaku bangga dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Asmat dan Keuskupan Agats selalu bergandengan tangan memotivasi, merawat pesta budaya Asmat dengan menyelenggarakan event pesta budaya Asmat setiap tahun. Ini salah satu bentuk betapa Pemda Asmat dan Keuskupan Agats memiliki kepedulian tinggi melestarikan budaya setempat.

“Saya akui dan acung jempol. Kalau semua pejabat pemerintah di Papua dan pihak gereja punya komitmen seperti di Asmat, luar biasa. Keunikan budaya dan seni tari di seluruh Papua ini sangat menarik dikembangkan menjadi pariwisata budaya. Sektor wisata budaya kalau dikemas dan dipromosikan dengan baik. Maka, warga setempat bisa hidup dari potensi wisata budayanya. Itu yang saya amati ketika setiap kali saya mengikuti even ini,” katanya.

Dari data yang dihimpun media ini, dari panitia penyelenggara pesta budaya Asmat 2017 yang berlangsung dari 19-24 Oktober 2017 terpampang sebuah moto bertuliskan: “Jangan Padamkan Api Wayir untuk terus menghidupkan nilai-nilai budaya Asmat.” Dari deretan kata-kata moto itu dilatar belangkangi rumah Jew (rumah bujang) suku Asmat dipadu dengan sosok warga Asmat sedang memandang nyala api wayir dihadapannya. Sekilas sebuah isyarat yang sedang menyerukan kepada semua pihak bahwa:  “api wayir tak akan pernah padam.”

Memang budaya Asmat sangat unik, seunik mahkota alamnya yang dihiasi sunggai-sungai melingkar mendandani bumi persada Asmat. Percikan alam yang melahirkan berbagai ragam budaya: Eksotik seni ukir, manuver perahu perang, tari-tarian dan bunyi Tifa yang sangat beragam suaranya menginspirasi semua orang.

Menurut Panitia penyelenggara pesta budaya Asmat yang diketuai oleh Emerikus Sarkol, memaknai pesta budaya Asmat adalah sebagai moment untuk menghargai sekaligus mendukung proses pelestarian budaya dan jati diri suku Asmat.

Pelestarian budaya Asmat dan ekspresi nilai-nilai luhur budaya Asmat dalam pesta budaya Asmat 2017, para tamu akan disuguhkan berbagai agenda kegiatan yang bisa dinikmati Kamis (19/10) melihat panitia meregistrasi peserta, ukiran, anyaman dan perahu. Rangkaian agenda Jum’at (20/10), panitia bersama Pemda dan Keuskupan Agats menyambut mantan Duta Venezuela dan menggelar pembukaan pesta budaya, Karnaval NKRI dan eksibisi tungku api “Wayir.”

Kegiatan Sabtu (21/10), Pantia menyuguhkan para tamu dengan warga Asmat mendemostrasikan seni mengukir, mengayam dan eksibisi tarian. Minggu (22/10), merayakan perayaan syukur pesta budaya Asmat 2017 di Gereja Katedral Agats. Dan pada siang hari, para tamu akan menikmati seni manuver perahu perang Asmat di Sungai Asuwet dan eksibisi tarian.

Dan agenda yang ditunggu-tunggu para pemburu ukiran dari hasil seni ukir Asmat, Senin (23/10) akan menyaksikan prosesi pembukaan lelang ukiran, manuver perahu perang di sungai Asuwet dan eksibisi perahu di lapangan Yos Soedarso dan diakhiri dengan lelang ukiran.


Selasa (24/10) panitia mengagendakan dua kegiatan yaitu, lelang ukiran dan prosesi penutupan pesta budaya Asmat 2017. (Fidel)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment