Pengukir di Atjs Terkendala Pemasaran

Bagikan Bagikan




SAPA (ASMAT) - Para seniman di Kampung Atsj, Distrik Atsj, Kabupaten Asmat sulit memasarkan karya ukiran berupa panel (hiasan dinding), patung dan hasil kerajinan kayu lainnya. Selama ini karya tangan mereka hanya dipasarkan seputar Distrik Atsj maupun di Distrik Agats, ibukota Kabupaten Asmat.

Para pengukir ini tergabung dalam Sanggar Acakap. Dalam kelompok itu ada sekitar 50 orang bapak-bapak. Saban hari mereka menekuni kegiatan mengukir di sanggar tersebut. Karya-karya tangan yang dihasilkan, antara lain patung, panel, meja dan sebagainya.

“Tidak ada pesanan, tapi kami inisiatif menuangkan pikiran pada kayu-kayu itu setiap hari. Supaya sanggar ini juga tidak kosong. Kalau pesanan itu kadang-kadang saja, seperti asbak, panel dan patung kecil,” kata Yohanis Tuanban, Ketua Sanggar Acakap pada Kamis (5/10).

Menurut Yohanis, Sanggar Acakap didirikan pada tahun 2002 lalu. Ia berinisiatif mendirikan sanggar tersebut guna mengakomodir para pengukir di Kampung Atsj agar bisa melanjutkan tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi.

“Hanya saja kami kesulitan untuk melakukan promosi maupun pemasaran ke luar Asmat. Jalannya (pemasaran) tidak lancar begitu. Kalau yang pembeli dari luar daerah, tidak seberapa. Dalam satu tahun mungkin 1-2 orang saja,” ungkapnya.

Yohanis berharap pemerintah daerah dapat membantu para pengukir di Atsj, terutama memasarkan karya tangan mereka ke luar daerah. “Kalau bisa pemerintah buka jalan untuk kami, harus ada pemasaran. Supaya kami bisa dapat penghasilan untuk menjamin kehidupan,” ujarnya.

Ia mengaku, hasil jualan sangat membantu kebutuhan keluarga, terutama membiayai anak-anak yang sedang mengenyam pendidikan. “Anak-anak saya jadi sarjana karena hasil dari ukiran. Makanya kami mau agar hasil ukiran bisa dipasarkan keluar,” tuturnya.

Harga karya seni tersebut dijual bervariasi, tergantung motif ukiran, ukuran dan posisi tawar antara pembeli dan penjual. Namun yang pasti satu ukiran nilainya berkisar 200 ribu rupiah hingga 1 juta rupiah.

Tiap anggota Sanggar Acakap bisa menghasilkan 4 hingga 5 ukiran dalam sebulan, seperti panel atau hiasan dinding, tiang teras rumah dan patung-patung besar. Untuk ukiran berukuran kecil seperti asbak, panel kecil dan patung kecil dikerjakan dalam waktu 2 hingga 3 hari.

“Bapak-bapak mengerjakan sesuai dengan ide maupun inspirasi yang mereka miliki. Sehingga setiap ukiran dari tiap pengukir itu selalu berbeda. Motifnya juga berbeda. Itu uniknya,” kata Yohanis.

Motif beragam yang digunakan umumnya terinspirasi dari alam atau menggambarkan kehidupan sehari-hari para leluhur, alam dan mahluk hidup. Hebatnya, para pengukir mampu membuat ukiran yang indah secara spontan tanpa terlebih dahulu membuat sketsa atau konsep obyek yang hendak diukir.


“Bahannya dari kayu lokal yakni kayu besi dan kayu putih (pala hutan). Kayu ditentukan atau dipilih sendiri oleh yang mengukir,” pungkasnya. (Nuel)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment