Renungan Minggu : Kasih Yang Tiada Batas

Bagikan Bagikan



“Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” --- Lukas 10:27

PRIORITAS pertama dan utama kita adalah mengasihi Tuhan Allah kita. Seterusnya sebagai bukti cinta kasih kita kepada Allah adalah mengasihi sesama. “Jikalau seorang berkata : "Aku mengasihi Allah," dan “ia membenci saudaranya, “Aku mengasih Allah,” dan ia membeci istrinya, “Aku mengasih Allah,” lalu ia membeci suaminya, “Aku mengasih Allah,” dan ia membeci rekan-rekan kerjanya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya, istrinya, suaminya dan rekan kerjanya  yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia : Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (1 Yoh 4:21-22). “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yoh 13:34-35)

Kita bisa melihat contoh dari perumpamaan tentang “Orang Samaria” (Luk 10:30-37). Ia tak mengenal orang Yahudi yang menjadi ‘korban’ perampokan. Sebagai orang Samaria, ia sadar, dirinya sangat dibenci oleh kaum Yahudi. Ia menolong si korban, warga dari kaum yang membencinya. Sedang orang Yahudi sendiri yang lewat tempat kejadian: Seorang Imam dan orang Lewi yang memilih menghindar atau mungkin takut mengambil resiko menolong orang yang tidak dikenal padahal orang tersebut adalah dari kaumnya sendiri.

Sebagai pengikut Kristus kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang Samaria itu : menolong dan mengasihi sesama, apapun suku dan keyakinannya, termasuk orang yang membenci kita. Mengapa? Karena kita menyadari bahwa Allah lebih dulu mengasihi kita (1 Yoh 4:16). Patut juga dalam hal ini, kita  perlu mohon agar memiliki kemampuan untuk berbelas-kasih kepada semua orang tanpa pandang bulu.

Jika kita memiliki iman yang teguh di dalam Kristus, maka belas kasih bukanlah sesuatu yang sulit untuk kita lakukan, malah sebaliknya belas kasih akan menjadi kekuatan yang akan terpancar dari diri kita. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga" (Mat 5:16).


Mari kita menangkap makna dari sepenggal Sabda Allah itu dari kedalam kasih yang tidak terbatas dan menjangkau kasih Allah lewat sesama yang kita jumpai sehari-hari. Artinya seseorang yang tidak terbatas kasihnya adalah seseorang yang tidak terbatas dalam kesucian hidupnya. Kesucian dari pancaran kasih yang bercahaya dalam hidupnya pasti mempesonakan, kebenaran, keadilan dan kejujuran. Hanya b ia terjadi di dalam terang dan kesucian, dan kita bisa menangkap titah dan bisikan Allah lewat suara hati kita. Memang tidak mudah! Tetapi, kita bisa merebahkan diri dihadapan Allah sambil memohon Bapa, berikanlah kami kemampuan untuk menyatakan KasihMu kepada sesama kami sesuai dengan apa yang Engkau kehendaki. Maka “pergilah dan perbuatlah demikian.” (Luk 10:35). Semoga! (Fidelis SJ)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment