Tajuk : CSR Horison Ultima Layak Jadi Contoh

Bagikan Bagikan

KEHADIRAN Hotel Horison Ultima di Kota Timika boleh dibilang baru seumur jagung. Bahkan hotel berbintang empat yang mulai dibuka tanggal  1 Juli 2017 ini belum diresmikan kehadirannya karena masih melakukan pembenahan di sejumlah bidang yang masih kurang. Walau demikian hotel ini sesungguhnya tidak hanya sudah sangat dikenal dan terkenal, tapi juga telah menyatu dengan masyarakat Mimika, karena kehadirannya tidak hanya mengedepankan bisnis tapi juga kegiatan sosial kemasyarakatan.

Tercatat sudah dua kali hotel yang terletak cukup mencolok di Jalan Hasunuddin Nomor 9 Timika ini menggelar kegiatan Corporate Social Reponsibility (CSR) atau bentuk pertanggungjawaban sosial perusahaan terhadap lingkungan sekitar. Kegiatan CSR pertama dilakukan pada Juli 2017 lalu, dalam bentuk donor darah, hasil kerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Mimika. Saat itu terkumpul 50 kantong darah.

Kegiatan CSR kedua dilakukan pada Minggu, 22 Oktober 2017 dalam bentuk kegiatan bazaar yang total dana yang terkumpul disumbangkan ke PMI Mimika.  Sementara rencana kegiatan donor darah dipending karena ketiadaan kantong darah di PMI dan RSUD Timika. 

Bila ditilik secara mendalam, CSR Hotel Horison Ultima ini ibarat sekali mendayung dua pulau terlewati. Betapa tidak. Pada setiap CSR ada begitu banyak makna dan nilai sosial yang ditaburkan. Ada makna membangun hubungan kebersamaan dengan pihak lain, terlebih dengan para relasi yang sudah terbangun selama ini. Sekaligus ada nilai sosial yang tidak hanya berasal dari manajemen hotel, tapi juga relasi dan para tamu ikut berpartisipasi secara sadar menyumbangkan  dana melalui kegiatan bazaar. Manajemen Hotel, relasi dan para tamu melaksanakan suatu tugas kemanusiaan yang bernilai mulia di mata Tuhan dan manusia.

Melakukan kegiatan CSR bagi perusahaan hotel dan perusahaan lain, merupakan perintah Undang-Undang (UU) No. 40 Tahun 20017 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan juga sejumlah UU lainnya. Dalam UU ini disebutkan, Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.

Untuk diketahui, perusahaan tidak hanya mempunyai kewajiban-kewajiban ekonomis dan legal (artinya kepada pemegang saham atau shareholder) tapi juga kewajiban-kewajiban terhadap pihak-pihak lain yang berkepentingan (stakeholders) yang jangkauannya melebihi kewajiban-kewajiban di atas.  Selain itu, pemilik perusahaan sejatinya bukan hanya shareholders, melainkan pula stakeholders, yakni pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan.

Artinya, program CSR dianggap sebagai investasi jangka panjang yang berguna untuk meminimalisasi risiko sosial, serta berfungsi sebagai sarana meningkatkan citra perusahaan di mata publik. Salah satu implementasi program CSR adalah dengan pengembangan atau  pemberdayaan masyarakat (Community Development). Program CSR merupakan investasi bagi perusahaan demi pertumbuhan dan keberlanjutan (sustainability) perusahaan dan bukan lagi dilihat sebagai sarana biaya (cost centre) melainkan sebagai sarana meraih keuntungan (profit centre).

Kini masyarakat Mimika, selain bangga dan berterimakasih kepada pemilik dan Manajemen Hotel Horison Ultima atas CSR yang telah dilakukan, tentu juga sangat berharap pemilik dan manajemen hotel berbintang lain di Timika, yang telah sekian tahun atau belasan tahun hadir di Timika dan meraup keuntungan lumayan, bisa melakukan kegiatan CSR yang sama atau berbeda, sebagai bentuk tanggung jawab sosial kemanusian kepada masyarakat disekitarnya.

Sekali lagi, CSR adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada. Program ini lahir dari sebuah kesadaran dan keinginan sosial dari hati nurani, untuk membagikan apa yang telah didapat  agar ikut dinikmati masyarakat disekitarnya. Intinya keuntungan yang didapat tidak ‘dimakan’ sendiri. (yulius lopo)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment