Tajuk : Ketika Bidak Robohkan Raja Koruptor

Bagikan Bagikan




MASIH terngiang-ngiang dalam gendang telinga kita soal korupsi di seputar Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Mimika yang disebut-sebut pelaku terjerat masalah dana insetif tahun anggaran 2016. Kasus ini  sempat menghiasi halaman media harian di Timika.  Apabila disejajarkan kasus korupsi dana insentif 2016 di Dinas Pendidikan Dasar dengan permainan catur. Para pelaku yang baru tersentuh hukum masih sebatas bidak. Sementara, raja yang biasanya memiliki kuasa mengelola dan memerintah memanfaatkan dana tersebut  belum terjerat alias belum tersentuh. Mungkinkah bidak-bidak sekeliling raja masih melindungi rajanya supaya tidak roboh  akibat kasus tersebut?” Jika itu yang terjadi, mampukah bidak-bidak merobohkan raja dengan bernyanyi bersama dihadapan hakim?” Walau kedengarannya ibarat maling teriak pencuri dan koruptor teriak korupsi.

Menariknya, semakin digelorakan anti korupsi, semakin menjadi perilaku para pencuri. Tapi, begitulah para pencuri. Setiap kali dibuatkan kuncinya agar harta tidak didekati, maka mereka juga berinovasi agar mampu membuka kunci tadi. Semakin canggih alat pencegah korupsi, para maling juga semakin berani. Apa sebenarnya yang terjadi dengan masalah kita saat ini? Masalah besar kita adalah bercokolnya para pejabat dan para elit di pemerintahan yang berjiwa dan berperilaku koruptor, berlagak alim di depan masyarakat, kemudian berubah menjadi setan di balik tabir, berlagak dermawan di depan fakir miskin, tapi berubah jadi drakula di kegelapan malam.

Mereka berteriak keras di hadapan publik "Basmi korupsi...Basmi Korupsi". Padahal mereka sendiri sudah korupsi ratusan juta bahkan milyaran uang negara. Mereka adalah kaum yang membuncitkan perut mereka dan mengendutkan rekening mereka, dengan bermandikan keringat derita rakyat jelata.

Tidak ada lagi budaya malu. Semuanya sudah ditelan hawa nafsu. Makanya Tuhan berfirman: “Jikalau kamu tidak malu, lakukan apapun yang kamu inginkan.”

Mengapa?  Sebab ia bukan manusia lagi. Orang yang sudah tercabut rasa malunya, tidak layak dilabeli manusia. Sebab akalnya dan logikanya sudah hilang dan sirna.

Mereka adalah manusia-manusia yang hanya akan menyisakan bau busuk di tengah peradaban manusia. Mereka adalah bangkai-bangkai hidup yang berjalan layaknya zombie menghisap darah anak negeri.

Maka anak-anak negri yang bekerja di birokrasi ibarat bidak papan catur jangan mau dijadikan tameng menjaga raja. Bila perlu bidak-bidak dengan berkat menjaga harga diri dan martabat harus mampu menumbangkan raja yang rakus mengorbankan bidak demi kenyamanan priadi.

Strategi lain, anak-anak negri jangan mudah terbius dan mempersembahkan suara kita  untuk para politikus tak bernurani. Karena, setiap kali pemilu, suara para politikus busuk masih saja mampu menusuk tabir-tabir kebenaran yang sudah bentangkan di langit-langit kekuasaan.

Dan itu artinya, anak negeri ini pun sudah banyak yang terkena virus korupsi, yang sengaja ditularkan para penghisap darah anak negeri. Dengan bekal amplop Rp 50.000 sampai Rp 100.000, kekuasaan bisa kembali diraih. Padahal, uang itu adalah uang rakyat jua, yang sengaja dibagikan lagi demi kembali mendapatkan kursi.

Dimana akal kita? dimana logika kita? dimana nurani kita? Sudahkah tumpul karena tertutupi gelapnya awan korupsi atau hanyut bersama senyuman manis para koruptor itu?. Ini tidak boleh terjadi. Kita harus sepakat memberantas bidak-bidak yang setia melindungi raja. Bila perlu, kita tidak memberikan tempat dalam nurani dan seia sekata menumbangkan para raja yang memanfaatkan keluguan atau memanfaatkan kekurangan kita memuluskan akal busuk mereka. Kita juga bersedia meneriakan siapa saja yang memungut sesuatu diluar aturan. Semoga kita semakin hari semakin menjadi manusia yang memiliki kecerdasan intelektual dan memiliki kecerdasan nurani melawan maling teriak maling dan koruptor meneriak korupsi. Dan bersedia pula menelanjangi setiap raja yang membelok anggaran negara demi kepentingan pribadi. Semoga! (Fidelis SJ)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment