Tajuk Kristen : Rumah Tuhan

Bagikan Bagikan
Jika bait Allah adalah rumah Tuhan, seharusnya menjadi tempat pemerintahan Allah. Artinya, bukan sekadar tempat umat beribadah, melainkan tempat di mana keadilan dan kebenaran dihidupi.



BAIT Allah adalah sebutan untuk menunjukkan tempat kediaman Allah di bumi. Ke sanalah seharusnya hati dan pikiran umat tertuju. Yesaya mengatakan bahwa Allah akan membangun bait-Nya pada hari-hari terakhir. Bait itu akan berdiri tegak menjulang (2) dan kekuatan-Nya akan menarik perhatian bangsa-bangsa untuk berduyun-duyun datang (3). Dan dari sanalah akan timbul pangajaran yang benar (3) dan kepemimpinan yang adil (4). Pada bait Allah itu umat dipanggil datang (5).

Keberadaan bait Allah bagi umat Israel di Yehuda sangat penting. Ke sanalah umat Allah berziarah untuk merayakan berbagai ibadah dan perayaan. Sekalipun disebut rumah Allah, namun tidak senantiasa bait Allah berisi hal-hal yang memuliakan Allah. Kerap kali terjadi ketidakadilan dan ketidakbenaran dalam bait Allah. Kita dapat membandingkan dengan kisah Yesus yang memorak-porandakan para pedagang bait Allah (lih. Yoh 2:13-16).

Yesaya mengingatkan umat Allah bahwa pada hari-hari terakhir, Allah sendiri yang akan mendirikan bait Allah. Itu berarti Allah akan memerintah secara langsung (band. Mi 4:1-3). Dalam pemerintahan-Nya, bait Allah akan menjadi pusat pengajaran yang benar. Umat yang beribadah akan menjadi para pejuang yang siap menegakkan keadilan dan kebenaran. Keadilan dan kebenaran yang berdiri tegak akan berdampak pada hadirnya kedamaian, yang ditandai tidak adanya perang lagi (4). Itulah hakikat yang sesungguhnya dari rumah Tuhan. Jika bait Allah adalah rumah Tuhan, seharusnya menjadi tempat pemerintahan Allah. Artinya, bukan sekadar tempat umat beribadah, melainkan tempat di mana keadilan dan kebenaran dihidupi.

Allah tidak dapat dipenjara di rumah buatan manusia. Kehadiran Allah tidak ditandai dengan bangunan yang indah. Sebaliknya ditandai dengan hadirnya kehidupan di mana pengajaran yang benar terus-menerus disampaikan. Pengajaran yang benar senantiasa memperjuangkan keadilan dan kebenaran yang membawa kedamaian dalam kehidupan.

Firman Tuhan ini juga mengajarkan kita untuk senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidup kita. Bukan harta benda atau hal lainnya.  Namun pengalaman umat Allah menunjukkan bahwa mereka mengandalkan harta benda (7). Mereka juga terpengaruh pada bangsa sekitarnya sehingga menaruh kekuatan pada berhala-berhala (8). Di balik itu semua, mereka adalah orang yang mengandalkan diri sendiri (11). Padahal semuanya itu tidak berarti. Karena dalam sekejap saja Tuhan mampu melenyapkan apa yang dibanggakan dan diandalkan oleh manusia.

Mengandalkan diri sendiri berawal dari kesombongan. Orang sombong merasa dirinya mampu melakukan segala sesuatu. Pernyataan nabi Yesaya menunjukkan bahwa kesombongan itulah yang menjadi akar persoalan. Berulang kali Yesaya menuturkan pokok kesombongan ini (11, 12, 17). Karena merasa diri mampu, umat seolah-olah merasa berhak menentukan hidupnya sendiri. Allah tidak lagi mereka pedulikan. Karena itu mereka bebas mengikuti bangsa-bangsa sekitar untuk memilih pada ilah mana mereka akan beribadah. Mereka juga tidak lagi peduli apakah tindakan mereka sesuai dengan kehendak Allah atau tidak.

Allah membenci orang yang sombong. Karena itu mereka akan direndahkan. Kesombongan dilukiskan seperti pohon aras dan terbantin yang berdiri tegak seakan-akan siap menembus langit. Namun pohon itu dengan mudahnya dirubuhkan oleh kekuatan Allah (13). Manusia perlu mengingat bahwa keberadaannya bagaikan hembusan napas belaka (22). Walau kuda, emas, perak, dan lainnya (7) dicari dan dianggap penting dan dijadikan andalan dalam hidup ini, namun Yesaya menegaskan bahwa semua kebanggaan dan milik mereka akan lenyap seketika.

Pada umumnya, kita berusaha mendapatkan apa yang dianggap paling berharga bagi dunia. Dengan segala usaha kita berusaha menggapainya, termasuk hal-hal yang di luar kehendak-Nya. Akibatnya kita melupakan kebaikan Tuhan. Pengalaman umat Israel menunjukkan bahwa mengandalkan manusia dan dunia akan membawa hidup kita berakhir dengan kekecewaan dan kebinasaan. (***)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment