Tajuk : Melawan Lupa Lestarikan Batik

Bagikan Bagikan




HARI Senin (2/10) kemarin, dimana-mana di seluruh Indonesia, prosesi memperingati hari Batik Nasional yang diperingati  2 Oktober setiap tahun gegap gempita. Berbeda dengan suasana kita di Timika terlihat sepi, bahkan memaknai hari itu sama sekali luput dari ingatan kita. Pada hal, kita di Papua memiliki batik khas Papua yang mencerminkan kasanah budaya, identitas kultural sebuah daerah.

Terlepas dari kita lupa dan tidak memaknai hari batik nasional. Kita semestinya agenda peringatan hari batik tidak sekedar merayakannya, teapi bagaimana hari Batik itu menjadi sebuah momen kebangkitan budaya batik Papua sebuah simbol kultural Papua. Simbol kultural yang meningkatkan dan menjadi percaturan ekonomi lokal, dan membumikan batik Papua menjadi busana nasional. Karena, tren pemanfaatan kain bermotif batik dalam rancangan busana modern membuat batik semakin banyak disukai berbagai kalangan. Batik tak lagi lekat dengan kesan tua dan kuno. Tren busana masa kini berhasil mengangkat kain batik menjadi lebih trendi dan disukai kalangan muda.

Kini, pakaian batik tak lagi identik dengan acara-acara tradisional di daerah. Perhelatan nontradisional pun kini kerap diwarnai berbagai busana dan aksesori bercorak batik. Batik tak hanya menjadi tren busana untuk acara pernikahan ataupun acara formal lainnya. Berbagai kalangan mulai dari pekerja kantoran, wirausaha, pekerja seni, hingga pelajar dan mahasiswa mulai bangga mengenakan pakaian batik. Apalagi kalau kita mengenakan batik Papua di Jakarta misalnya, pasti semua mata memandang kita dan meminta berselfi bersama. Luar biasa khan magnet atau daya tarik dari Batik Papua. Hanya sayangnya kita semua lupa dengan kebanggan dan identitas khas negri kita Papua dan khususnya Timika.

Ingat! Fakta hari ini, berbusana batik sudah menjadi bagian dari gaya berbusana masyarakat Indonesia. Dalam hasil jajak pendapat Kompas. Separuh responden yang berhasil terjaring dalam jajak pendapat ini mengaku memiliki pakaian bermotif batik lebih dari lima potong. Bahkan, 37 persen responden mengaku menyimpan pakaian batik lebih dari 11 potong dengan berbagai model di lemari mereka.

Batik semakin diminati lantaran kegunaannya tidak lagi terbatas untuk acara-acara formal. Sejumlah kantor pemerintah dan perusahaan swasta mewajibkan karyawan mengenakan baju batik pada hari-hari tertentu, termasuk kita di Papua.

Motifnya pun tidak melulu harus seragam. Karyawan di sejumlah perusahaan bebas menggunakan pakaian batik dengan motif sesuai dengan selera masing-masing.Sebagaimana yang saya saksikan setiap hari Rabu ASN di Kabupaten Asmat menjadi hari wajib berpakaian batik Asmat. Tanpa diminta pun banyak karyawan baik laki-laki maupun perempuan sukarela berbatik ria ke kantor.

Motif batik juga sudah menjadi tren seragam sekolah. Banyak instansi pendidikan yang mewajibkan murid-muridnya mengenakan baju batik. Sekolah swasta di Kabupaten Asmat saya sempat menyaksikan salah satu sekolah yang menerapkan aturan wajib memakai baju batik Asmat kepada murid-muridnya. Setidaknya sekali dalam sepekan, aneka corak dan warna-warni motif batik dikenakan siswa mulai dari SD hingga sekolah menengah atas.

Menurut asal kata batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu amba,yang berarti 'menulis' dan tik yang artinya 'nitik' atau 'membuat titik'. Istilah itu kemudian berkembang menjadi kata batik. Batik secara luas artinya proses menggambar motif pada kain dengan menggunakan lilin (malam) yang dipanaskan dan diteteskan pada kain. Kurang lebih proses pembuatan batik seperti itu.

Saya minta maaf, apabila di Kabupaten Mimika sudah mulai menerapkan dan mewajibkan berpakaian batik bagi para ASN dan pegawai perusahaan hingga menjamur sampai sekolah-sekolah. Jika saya tidak salah melihat dan merekam suasana serupa di Mimika. Maka kita mulai membangkitkan dan mewajibkan kelompok yang paling mudah diajak berbusana batik khas Mimika. Supaya ciri khas dan identitas kultural Amungme dan Kamoro lewat berbusana batik tetap terawat hingga anak cucu kita di kemudian hari. Kalau tidak sekarang kapan lagi. (Fidelis SJ)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment