Tajuk : Menimang Ketegaran Hidup dan Sepiring Cinta di Tahanan

Bagikan Bagikan




KETIKA saya berjumpa seorang ibu korban PHK dari PTFI, di salah satu tempat santai sambil menikmati minum kopi kesukaan saya di kawasan Jalan Budi Utomo, Sabtu (31/9) kemarin. Saya mendapat pelajaran yang sangat berharga dalam hidup dari seorang ibu paruh baya korban PHK dan mogok kerja dari PTFI. “Hai...., Anda Wartawan ya?” sapanya sambil menyodorkan tangannya dan memperkenalkan diri. “Ya, ya bu. Anda kenal saya dari mana?” tanyaku sekenanya untuk mencairkan suasana sambil berharap saya mendapat informasi berharga dari balik keramahan ibu itu. Memang dasar seorang wartawan tidak mau melewatkan begitu saja sebuah kesempatan dan kata-kata berharga dari siapapun yang dijumpainya. “Anda bisa mendengar rintihan hati saya dan harapan anak-anak saya?” tanyanya sambil menahan linangan air mata yang penuh di kelopak mata dan nyaris menetes di pipinya yang tanpa hiasan bedak.

“Anda jangan kaget dan menilai saya seorang ibu yang berhati lemah dan memperhatikan tetesan air mata saya. Saya sangat bahagia dan ketika anda melihat linangan air mata di kelopak mata saya, itu air mata bahagia,” tuturnya setengah menarik nafas panjang. Lalu, dia berseru:  “Meski suami saya yang selalu dan senantiasa menjadi tulang punggung hari-hari hidup saya dan anak-anak saya berada dibalik ruangan tahanan. Dia sosok lelaki yang pantang menyerah mencari sesuap nasi. Dia malekat pelindung siang dan malam dalam hidup kami. Keringat tubuhnya tatkala bekerja sebagai buruh di PTFI mengalirkan berkat dan rezeki. Sehingga, saya dan anak-anak saya tidak pernah merasa kelaparan, walau tidak berlebihan. Dia sosok lelaki yang sangat disiplin dan merawat harga diri dan martabat keluarga. Saya sangat mencintainya. Dan anak-anak saya selalu menantinya siang dan malam dengan tetesan air mata. Saya tahu mereka sangat rindu dengan bapa mereka. Maka hari lepas hari, saya menjenguknya dengan sepiring cinta sambil berharap dia masih setia menimang ketegaran hidup, walau berada di balik ruangan kumuh. Saya ingin menikmati dibalik senyumnya mampu mendekap kepedihan hidup. Karena, saya tahu dia laki-laki terkuat bukan lelaki yang selalu menang, melainkan lelaki yang tetap tegar ketika dia jatuh,” tuturnya sesekali menopang pipinya dengan kedua telapak tangannya. 
  
Ibu itu mengaku dengan jujur, kemarin hidupnya dan perasaannya bagai sepatah kata yang tak bersuara...., didalam pikiran dan kegilasan jiwanya. “Hari ini...., ketika saya menjumpai anda. Saya ingin mendendangkan sebuah nyanyian cinta untuk suamiku di balik tahanan. Karena saya tahu kerinduanku yang tak terkira biasanya terpuaskan ketika suamiku hanya berseloroh dengan kata-kata yang jenaka dan mengundang gelak tawa dari anak-anaknya selalu menghiasi hari-hari hidup kami. Hari ini...., saya puas dan bahagia. Anda menjadi corong kerinduan saya. Pengganti mulut dari anak-anak saya. Ketika suami saya membaca isi hati saya dan suara lirih anak-anak saya, ini menjadi konsumsi publik dan mendapat perhatian dari PTFI. Itulah yang saya rasakan dan ibu-ibu korban PHK dan mogok kerja dari PTFI,” katanya.

Kalaupun pihak penegak hukum memandang kesalahan dari aksi yang dilakukan suami saya sebagai sesuatu yang melanggar hukum. “Saya berharap aksi yang dilakukan suami saya tidak dinilai berdiri sendiri. Penegak hukum mencari benang merahnya. Apabila, mereka masih berbelas hati sambil merenung tanggung jawab seorang lelaki dan sebagai kepala keluarga terhadap istri dan anaknya. Andai kata penegak hukum mengalami seperti yang dialami suami saya. Saya sangat yakin sekali. Mereka pasti melakukan sesuatu yang lebih parah dari apa yang dilakukan suami saya. Maka saya memohon penegak hukum, andai  mereka masih bernurani dan merasakan kerinduan istri dan anak-anak siang dan malam mengharapkan sosok suami dan ayah selalu berada bersama dalam keluarga. Tolong suami saya dibebaskan, karena dia hanya korban dari doktrin orang-orang pintar yang menyulutkan emosinya melakukan sesuatu yang keliru,” tuturnya lirih.

“Saya berharap pula management PTFI tidak menghitung pelanggaran yang dilakukan suami saya. Karena, dia ikut mogok dan hidup dibalik ruang tahanan hanya sebuah solidaritas buta. Akibat dari suami saya tidak memahami banyak hal soal Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) PTFI. Maka, saya berharap jangan menghukum saya sebagai istri dan anak-anak saya yang sedang menanti masa depan yang cerah. Dan saya minta Sudiro melihat, menjenguk dan merasakan kepedihan hati suami saya dibalik tahanan. Karena, dialah yang mengobarkan semangat dan menyalakan bara api hingga menyulutkan emosi suami saya.”
Ibu itu berpesan kepada suaminya dengan sebuah puisi yang kaya raya tentang nilai-nilai cinta dalam kehidupan keluarga berseru: “Jangan bersedih..., suamiku dan berbahagialah. Karena kita disatukan bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah...., kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan dan memacu engkau selama ini membahagiakan hidup anak-anak kita. Perisailah hatimu dengan sikap yang tegar dan selalu tawakal sambil memegang kaki sang juru selamat menuntun kita ke Yerusalem Baru.(Fidelis S J) 
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment