Tajuk : Redam Tawuran Sebelum Ada Korban

Bagikan Bagikan




SAYA miris sekali menyaksikan para pelajar dua Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Timika mempertontonkan aksi tawuran Rabu (4/10). Aksi itu tersulut dari cemburu cinta moyet dua insan pelajar yang berujung pada penganiayaan. Kejadian serupa yang menelan korban jiwa terjadi di Jakarta, Jawa Barat dan Surabaya. Tentu kita semua bisa berharap budaya dari belahan barat republik ini, para pelajar di Timika tidak meniru dan menjadikan aksi seperti itu sebuah kebiasaan. Dan aksi seperti ini lampu hijau bagi para orang tua memperhatikan anak-anak. Paling tidak! Orang tua mulai waspada dan mengingatkan anak-anak tidak melakukan aksi tawuran yang membayakan masa depannya. Maaf!  Saya sama sekali tidak merasa nyaman memberi saran, apalagi memberikan nasihat atau mengkotbahi orang tua murid, termasuk guru. Karena, saya berpikir para orang tua di Timika lebih arif dan bijaksana dari pada saya sambil bersepakat meredam tawuran pelajar sejak dini sebelum aksi berikutnya menelan korban.

 Mungkin saja budaya meninabobokan anak-anak kita sebelum tidur menanti fajar pagi. Kita membisiki telinga mereka dengan motivasi bahwa terwujudnya perubahan di Indonesia berawal dari dari perjuangan kaum muda. Sejarah telah mencatat peran penting pemuda dalam membangun bangsa ini. Buktinya, gerakan pemuda melalui organisasi-organisasi perjuangan pemuda yang idealis, seperti : Budi Oetomo 1908, Sumpah Pemuda 10 Oktober 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945, proses pergantian Orde Lama dan Orde Baru tahun 1966 dan Era Reformasi 1998. Goresan sejarah peran pemuda tercatat dalam sejarah bangsa ini. Maka orang tua semestinya tidak bangga mencatatkan sebuah noktah hitam dalam perjalanan anaknya tercatat pernah tawuran antara pelajar. Dan para pelajarpun tidak boleh bersemangat tinggi mencatatkan profile hidup dengan tinta hitam pernah disabet dengan parang ataupun panah fair. Malu dah!

Mari kita meredam  angka perkelahian antar pelajar di Kota Timika dengan memperbanyak kegiatan extrakurikuler sekolah dengan  menambah  mata pelajaran kesenian, drama dan teater. Pendekatan ini bisa mengendalikan emosi para pelajar. Buktinya dengan pendekatan seperti ini di Kabupaten Sukabumi bisa menekan angka perkelahian  antara pelajar. Karena cara mengendalikan kekerasan melalui kesenian ternyata mampu menghaluskan budi para pelajar. Artinya metode dengan pendekatan seni dan budaya membuahkan hasil. Sebab, kita tidak pernah menyaksikan ada seniman tawuran dengan seniman lainnya.  Maka kita mendampingi anak-anak kita menjadi anak yang tidak hanya pintar, tetapi  pintar dan berkarakter. Seni musik tidak hanya mampu menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada para pelajar. Seni musik bisa menuntun anak-anak kita sehat dan pintar.

Dan bagi para pelajar perlu pahami bahwa bersatu itu memang sulit. Saya ambil contoh dalam perjalanan saya. Saya  bersaudara 12 orang. Kakak di atas saya dua orang dan di bawah saya sembilan orang, hidup semua 12 orang. “Kami sering sekali berantem karena berbeda keinginan. Tetapi, anehnya  saya dan kakak serta adiku saling mengalah. Itu kami sadar, karena  tidak mungkin semua ingin jadi satu. Tapi bersatu berarti menahan keinginan sendiri dan mementingkan kepentingan bersama.

Sekedar berbagi pengalaman, di Sekolah, dulu  pada pelajaran IPS, guruk saya  pernah bilang bahwa Indonesia bisa ada dan merdeka karena banyak yang menahan keinginan sendiri dan mendahulukan kepentingan bersama. Padahal dulu,  Indonesia terdiri dari banyak kerajaan, suku, dan agama. Kemudian menjadi satu atas nama Indonesia adalah suatu hasil keajaiban dari persatuan.

Tapi melihat kejadiaan kemarin, nyaris terjadi  tawuran dan perkelahian di negeri ini. Saya berpikir tidak ada guna menyakiti sesama anak negri, Indonesia. Jika dulu Indonesia merebut kemerdekaan dari tangan penjajah dengan begitu banyak pengorbanan, kenapa kita tidak bisa lagi untuk melakukan pengorbanan untuk mengisi kemerdekaan dengan tidak melakukan aksi tawuran bagi sesama pelajar Indonesia sambil bermimpi mengejar ilmu sampai ke negri tirai bambu, Cinta, kata pepatah kuno.  Namun, perlu diingat inti dari impian bukanlah seberapa besar dan tingginya mimpi itu dibuat, tapi seberapa kuat tekad untuk menjadikannya nyata. (Fidelis SJ)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment