Tajuk : Senandung Rindu Dibalik HUT Mimika

Bagikan Bagikan




TANGGAL 8 Oktober 2017, Kabupaten Mimika tepat berusia 21 tahun. Sebuah usia yang secara manusia sudah memasuki masa dewasa. Sudah matang untuk menata diri, menjadi lebih baik, lebih berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Tahu mana yang baik dan benar. Mana yang buruk dan salah. Mana yang adil dan yang tidak adil.

Lalu bagaimana kalau usia tersebut terjadi pada sebuah daerah baik itu kabupaten, provinsi atau negara? Tentu saja kabupaten, provinsi dan negara hanyalah sebuah wilayah, yang didalamnya ada pemerintahan dan juga warga sebagai penghuninya. Artinya saat wilayah tersebut berulang tahun, sesungguhnya yang berulang tahun adalah pemerintahannya plus warganya. Semakin bertambah usia suatu kabupaten/provinsi/negara, semestinya semakin baik, bagus dan maju pemerintahannya, juga semakin sejahtera warganya.

Lalu bagaimana dengan Kabupaten Mimika yang kini berusia ke 21 tahun? Apakah sudah baik pemerintahannya? Apakah sudah sejahtera warganya? Jawabnya sudah pasti belum. Bahkan kalau mau jujur, disaat merayakan usia 21 tahun, Mimika sesungguh  semakin kacau. Masih seperti bayi yang baru belajar merangkak. Lebih banyak jatuhnya. Gerak kemajuannya pun lambat. Tabrak sana sini. Tidak jelas.

Disaat berusia 21 tahun, Kabupaten Mimika seakan tidak punya pemimpin. Bupati lebih banyak menghabiskan waktunya di Jakarta. DPRD bahkan sempat lumpuh total, baru jelang tiga bulan bangkit dari mati suri. Itu pun setelah ada campur tangan tegas dari Kemendagri.

Banyak masalah juga terjadi di daerah ini yang tidak tertangani secara baik. Sebut saja konflik antar suku yang  entah sampai kapan baru berakhir. Pembangunan seakan tidak ada. Dana APBD Mimika tiap tahun mendekati Rp 3 triliun, tapi wujud nyata pembangunan fisik, yang terlihat hanya miliaran rupiah saja. Masyarakat pun bertanya, dana triliun itu digunakan untuk apa? Kalau sudah begini jadinya, bagaimana bisa merasakan kesejahteraan?

Sampai saat ini, setiap kali hujan turun lebat, sejumlah titik tempat tinggal warga berubah menjadi bendungan dadakan. Air meluap memasuki rumah warga sudah bukan berita baru, tapi jeritan warga ini menjadi senandung duka yang masuk telinga kiri tembus telinga kanan para pejabat pemerintah daerah ini. Jalanan yang berlubang juga masih menjadi keluhan warga kabupaten ini. Entah sampai usia Mimika ke berapa, barulah masalah warga ini teratasi, tidak ada yang tahu.

Secara khusus di bidang pendidikan, boleh dikata di tahun 2017, disaat Mimika berusia 21 tahun, timbul banyak masalah yang membuat pendidikan tambah suram. Baru terjadi di tahun ini, di usia 21 tahun, terdapat banyak demo yang dilakukan guru-guru. Bahkan beberapa kali Kantor Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (Dispendasbud) dipalang para guru kontrak karena mendapat perlakukan tidak adil berkaitan dengan pembagian dana insentif. Demo guru kontrak ini sempat membuat proses belajar mengajar di puluhan sekolah di pedalaman dan pesisir Mimika menjadi terbengkalai.

Masalah yang terjadi antara nelayan lokal Suku Kamoro dengan nelayan pendatang di Pomako juga sampai saat ini belum mampu diatasi oleh pemerintah daerah. Sebenarnya masih banyak permasalahan yang terjadi di kabupaten ini, namun tidak bisa disebutkan semuanya di tulisan ini.


Memasuki usia ke 22, tentu saja ada senandung rindu yang didendangkan warga kabupaten ini untuk Pemkab Mimika. Senandung rindu ini intinya tentu bersyair tentang keamanan, kedamaian, kenyamanan, ketenangan, keadilan dan kesejahteraan. Lirik lagu senandung rindu ini tentu diperuntukan untuk pemimpin yang dicintainya, yang selalu ada bersama di dekatnya, di sisinya. Karena itu, liriknya tentu bukan, “Ku nyanyikan laguku untukmu yang jauh di sana (Jakarta).”  Atau penggalan lirik lagu Ebiet G Ade, “Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan. Banyak cerita yang mestinya kau saksikan…” yang berujung pada “Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.” (yulius lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment