Taman Keanekaragaman Hayati Mapurupuwau Tidak Terawat

Bagikan Bagikan
Kepala Distrik Mimika Timur, Marike H. Marinussy.
SAPA (TIMIKA) - Taman keanekaragaman hayati Mapurupuwau yang berada di Jalan Poros Mapurujaya, kondisinya sangat memprihatikan karena tidak terawat. Padahal, taman ini direncanakan akan menjadi taman wisata yang merupakan aset milik daerah, terutama dari masyarakat suku Kamoro.

Kepala Distrik Mimika Timur, Marike H. Warinussy kepada Salam Papua di Hotel Horison Ultima, Jalan Hasanuddin beberapa waktu lalu mengatakan, kondisi taman Mapurupuwau seperti itu karena pada tahun ini tidak ada anggaran untuk pemeliharaanya. Baru direncanakan diakomodir ke dalam anggaran tahun 2018.

“Anggaran untuk perawatan tidak ada. Sebenarnya taman itu bukan tidak terawatt, sebab kami dari distrik biasanya melakukan kerja bakti, karena anggaran tidak ada," katanya.

Menurut sepengetahuan Marike, pembangunan taman Mapurupuwau dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Mimika. Tetapi, jika benar pembangunan taman Mapurupuwau ada kerlibatan lembaga adat dlaam hal ini Lemasko, pihaknya belum mengetahuinya sampai disitu.

“Sampai saat ini belum ada informasi, yang saya dapat kalau taman tersebut di bangun oleh Lemasko. Apabila lembaga tersebut yang bangun, harusnya sudah ada surat ke distrik soal itu, karena untuk pemeliharaannya sudah diserahkan ke distrik,” tuturnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika melalui BLH, melaksanakan pengembangan tugu taman keanekaragaman hayati berbasis kearifan lokal, menjadi Taman Mapurupuwau pada tahun 2015 dan 2016. Selanjutnya diresmikan langsung oleh Bupati Mimika, Eltinus Omaleng pada 19 Agustus 2017. Setelah peresmian taman tersebut, selanjutnya hanya dibiarkan begitu saja tanpa ada perawatan

Pantauan Salam Papua, di taman tersebut di tumbuhi rumput yang mengelilingi dan berserakan daun-daun kering, membuat taman tampak tidak terurus baik. Semestinya, taman yang merupakan kearifan lokal ini bisa diperhatikan pemerintah, terutama masyarakat setempat. Karena pembangunan taman keanekaragaman hayati ini menyimpan nilai histori dari masyarakat lokal suku Kamoro. Tidak hanya itu, taman tersebut pun menjadi kebanggaan dan aset bagi masyarakat Kamoro.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Adat (DPA) Lemasko, Hendrikus, mengatakan bahwa pemerintah keliru apabila tidak mengakui membangun taman Mapurupuwau dan tugu Mapuru yang ada.

“Pembangunan tugu tersebut dilakukan Lemasko, apabila pemerintah mengklaim yang bangun, saya kira mereka keliru. Hanya untuk renovasi diserahkan kepada pemerintah daerah,” kata Hendrikus.


Terkait pemeliharaannya, kata Hendrikus, belum ada koordinasi antara pemerintah dengan Lemasko. Bahkan, Lemasko sendiri di klaim setiap hari Jumat dan Sabtu melakukan kerja bakti di lokasi tersebut. Meskipun taman dan tugu sudah di serahkan ke pemda, ia berharap nilai histori dan mitos soal Mapuru jangan sampai hilang. (Tomy)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment