Uskup Timika Tahbiskan 4 Imam Asli Papua

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) - Uskup Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr mentahbiskan empat imam baru asli Papua di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Sabtu (7/10). Usai ditahbiskan, keempat imam yang baru, langsung memimpin perayaan Ekaristi didampingi kurang lebih 52 Pastor dan disaksikan orang tua serta ribuan umat yang hadir.

Empat imam yang baru ditahbiskan yaitu, Yance Yanuarius Yogi,Pr, Ibrani Gwijangge,Pr, Selpius Goo,Pr, dan Yosias Ferdinand Wakris,Pr. Keempat Imam baru akan bertugas melayani umat di wilayah pedalaman Papua yaitu, wilayah dekenat Moni di Puncak Jaya, dekenat Paniai, dekenat Kipia, dan Dekenat Mimika tepatnya di Agimuga.

Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr dalam kotbahnya menyampaikan, menjadi murid Yesus berarti melakukan karya pelayanan secara total. Sepanjang hidup sang imam, tidak ada hal lain dalam dirinya, tidak ada kata keras, seorang imam berusaha hanya untuk Tuhan.

“Yesus dengan tegas mengatakan bahwa engkau hanya milik Tuhan, dan hanya ada Tuhan dalam dirimu. Tidak ada keluarga, tidak ada adat istiadat dalam dirimu yang ada hanya Tuhan,” kata Uskup John.

“Dalam Gereja Katolik, kalau sudah memberikan anak untuk menjadi Imam, maka orang tua tidak punya urusan lagi. Karena dia sudah milik Tuhan, milik Gereja. Dia  menyatakan saya menjadi imam untuk seumur hidup saya,” tambah Uskup John.

Menjadi Imam berarti dia menyatakan siap memikul salib, masuk dalam penderitaan orang lain, bertanggung jawab  menyelamatkan banyak orang yang menderita.

"Saya mau hidup seperti Yesus yang menderita  di kayu salib. Itulah tugas yang melekat pada seorang imam,” kata Uskup John.

Ada empat tugas yang melekat pada seorang Imam yaitu, menjadi murid Kristus, menjadi Rasul, menjadi Presbiter yang tugasnya untuk menjaga rumah Tuhan, dan menjadi pemimpin perayaan sakramen Ekaristi.

Ketua Dewan Pertimbangan Tunggal, Pusat Pengendali Masyarakat Adat Pegunungan Tengah Papua (P2MA PTP) wilayah Mee-Pago Provinsi Papua, Aloysius Giyai kepada Salam Papua di Gereja Katedral Tiga Raja, Sabtu (7/10) mengatakan, sebagai tokoh awam Katolik, ia mengucap syukur kepada Tuhan, terutama kepada suku Biak dan Amungme-Nduga yang menyerahkan anaknya untuk di tahbiskan menjadi seorang Pastor. Suku Mee sudah sekian kalinya.

“Untuk suku Mee, peristiwa ini sudah sekian kalinya. Tetapi untuk suku Biak dan Amungme-Nduga, saya mengucapkan terima kasih kepada suku-suku yang telah menyerahkan anaknya menjadi Pastor, terutama kedua orang tua yang telah membesarkan dan mendidik mereka,” katanya.

Aloysius berharap empat imam baru ini mengajak dan memberi semangat, juga mampu mewartakan kabar suka cita Injil di bumi ini dengan sungguh-sungguh. “Sehingga apa yang diserahkan oleh umat dan keluarga, betul-betul menjadi sebuah perwujudan iman untuk menyatakan karya penyelamatan di dunia ini,” harapnya.

Yance Yanuarius Yogi,Pr mewakili tiga temannya yang baru ditahbiskan menyampaikan, “Apakah boleh kami mendirikan empat honai, honai pertama untuk Tuhan Allah, honai kedua untuk Bapak Uskup, honai ketiga untuk kami Pastor baru dan honai keempat adalah untuk umat paroki.  Tetapi sebuah keharusan harus turun tangga karena itu kami siap di mana saja Bapak Uskup tempatkan,” katanya.

Sementara itu orang tua Imam baru mengatakan, tidak bisa membalas dengan sesuatu apapun. Tetapi orang tua serahkan kepada Tuhan, dan sangat berterima kasih kepada semua pihak dan keluarga yang  telah membantu. (Maria Welerubun)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment