2017, BNPP Tangani 32 Musibah di Mimika

Bagikan Bagikan
Kepala Seksi Operasi BNNP Timika, Syahril, SE.
SAPA (TIMIKA) - Kantor Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) Timika selama 2017 berhasil mengevakuasi atau menyelesaikan 32 musibah yang terjadi di Kabupaten Mimika. Dalam musibah tersebut, 214 jiwa berhasil dievakuasi.

Kelapa Seksi Operasi BNPP Timika, Syahril, SE saat di temui Salam Papua di ruang kerjanya Kantor BNPP Timika, Jalan Yos Sodarso, Kamis (2/11) mengatakan, musibah paling banyak berupa kecelakaan laut pada daerah pesisir atau di laut. Hal ini karena banyaknya masyarakat yang menggunakan transportasi laut.

Sedangkan untuk musibah yang terjadi di darat yang berhasil di evakuasi oleh BNPP, yakni kejadian longsor di Tembagapura, korban pendakian puncak Carstensz dan musibah banjir.

“BNPP berhasil mengevakuasi korban-korban dari kejadian tersebut. Paling banyak kejadian bencana alam di laut dan darat. Sedangkan untuk  musibah melalui jalur udara untuk tahun ini belum ada. Dan mudah-mudahan jangan sampai terjadi,” katanya.

Ia menambahkan, dari data yang dikantongi oleh BNPP Timika, sebanyak 214 jiwa berhasil  dievakuasi, 190 jiwa berhasil diselamatkan, 8 jiwa meninggal dunia dan 2 orang mengalami luka-luka. Sedangkan korban jiwa yang tidak ditemukan berjumlah 14 jiwa.

“Data itu yang ada di BNPP Timika. Dari total musibah yang terjadi sebanyak 32. Kejadian tersebut terjadi di laut dan di darat,” ujarnya.

Untuk dapat mengantisipasi dan meminimalisir kejadian yang memakan korban jiwa, jelas Syahril, BNPP Timika selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda)  melalui aparat-aparat kampung yang di pedalaman pesisir pantai agar mengingatkan  masyarakat jika hendak melaut harus melihat situasi dan kondisi alam.

“Jika terjadi musibah bencana alam, atau informasi kecelakaan agar segera menyampaikan informasi ke BNPP untuk segera menindak lanjuti,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, bagi masyarakat yang melakukan perjalanan ke pedalaman atau  pesisir pantai diharapkan dapat mempersiapkan alat keselamatan. Hal ini untuk mengantisipasi apabila terjadi kecelakaan di laut dapat meminimalisir adanya korban jiwa.

“Kita selalu berikan informasi kepada masyarakat yang ingin melakukan perjalanan dengan jalur laut, agar memperhatikan keselamatan dalam perjalanan. Banyak hal yang menjadi perhatian, salah satunya melihat kondisi cuaca. Karena di Timika dan Papua secara umum cuacanya sangat ekstrim,” ungkapnya.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) sebelumnya bernama Badan Pencarian dan Penyelamatan (Search And Rescue; SAR) Nasional atau yang disingkat Basarnas. Adalah kegiatan dan usaha mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam musibah-musibah seperti pelayaran, penerbangan, dan bencana. Istilah SAR telah digunakan secara internasional, tak heran jika sudah sangat mendunia sehingga menjadi tidak asing bagi orang di belahan dunia manapun tidak terkecuali di Indonesia.

Operasi SAR dilaksanakan tidak hanya pada daerah dengan medan berat seperti di laut, hutan, gurun pasir, tetapi juga dilaksanakan di daerah perkotaan. Operasi SAR seharusnya dilakukan oleh personal yang memiliki ketrampilan dan teknik untuk tidak membahayakan tim penolongnya sendiri maupun korbannya. (Tomy/Salma)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment