Diminta Freeport, Pemda dan LMA Bantu Warga Korban KKB

Bagikan Bagikan


Humas RSMM, Elfinus Jangkup
SAPA (TIMIKA) -Tokoh Intelektual Amungme yang juga Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Rumah Sakit Mitra Masyarkat Elfinus Jangkup Omaleng meminta Freeport, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Mimika dan  Lembaga Masyarakat Adat (LMA) membantu warga korban Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)  berupa bahan makanan (Bama) yang masih menetap di Kampung Banti dan Kampung Kimbely, Distrik Tembagapura.

“Ada pihak yang menggunakan masyarakat sebagai objek padahal ada opsi yang bisa diambil. PT Freeport Indonesia, Pemda, Lemasko dan Lemasa bisa bicara tentang hal ini.  KKB pernah menyampaikan pertempuran hanya dilakukan di kawasan Gresberg sampai Portsite dan tidak akan menyebar ke daerah lain. Kampung Arwanop dapat menjadi opsi untuk mengirim bantuan makanan untuk kedua kampung tersebut,” katanya kepada Salam Papua di Kantor Redaksi Salam Papua di kawasan Jalan Elang,  Jumat (17/11).

Bantuan Bama menurutnya jika bisa dibantu  diturunkan di Kampung Arwonop. Karena kampung  tersebut aman. Pemda, PT Freeport dan lembaga adat yang ada  tidak menurunkan bantuan ke Kampung Aaron. Kampung Aaron hanya berjarak beberapa kilometer dari kampung Banti dan Kimbeli.

“Saya melihat pemerintah tidak berpikir tentang pendidikan, kesehatan yang ada di daerah tersebut. Saya sudah himbau kepada Pemda, Freeport dan lembaga adat untuk melakukan opsi tersebut. Tapi mereka terkesan tidak mau tahu. Pendidikan dan kesehatan harus segera dibuka di Kampung Arwanop,” ujarnya.

Warga takut  keluar dari tempat tersebut karena warga kuatir pihak keamanan TNI/Polri menganggap warga yang keluar bagian dari KKB. Sehingga warga memilih bertahan di tempat mereka.

“Saya tahu keadaan daerah tersebut. Karena saya orang Banti. Himbuan sudah saya sampaikan. Pendidikan, kesehatan  harus dibuka, bantuan dapat diberikan. Asalkan jangan ada TNI/Polri yang ikut. Saya sudah sampaikan stakeholder di Timika, bahwa Kampung Banti 1, 2 dan Kimbeli membutuhkan bantuan hidup seperti makanan tanpa harus ada argument dari pihak mana pun.

Dia mengakui kalau mengetahui persis kondisi yang terjadi di sana. Opsi terbaik yaitu memberikan bantuan ke Arwanop dengan menggunakan helicopter tanpa ada kekuatiran apapun.
Kami juga meminta Pemda segera melayani pendidikan dan kesehatan. Supaya mereka dapat melanjutkan pendidikan tanpa rasa  takut. Opsi terbaik ini yang dapat dilakukan,”ujarnya.

Jangkup menyayangkan PT Freeport Indonesia tetap saja beroperasi. Padahal perang yang terjadi di wilayahnya. Tragisnya TNI/ Polri sudah ada yang menjadi korban.  “Mereka (Freeport)  tidak menghargai. Apabila hal ini dibiarkan, kami akan mengambil tindakan tegas untuk menutup PT Freeport. Karena yang menjadi korban selama ini masyarakat,” katanya.

Manajemen Freeport ibarat air susu dibalas dengan air tuba. Pribahasa ini kata Elfinus sangat  pantas disematkan. Karena,  PT Freeport selama ini berdiri di tanah masyarakat Amungme tapi tidak pernah di perhatikan.

“Saya akan laporkan masalah ini ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas Ham Internasional terkait PT Freeport yang tidak menghargai masyarakat. Sekarang ini keamanan masyarakat khususnya Amungme sudah dirampas. Freeport tidak boleh main main dengan Amungme,” katanya. (Tomy)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment