DPRD Kunjungi Kampung Kwamki Yang Terlibat Perang

Bagikan Bagikan

Anggota DPRD Kab. Mimika berkunjung ke Kwamki Narama

SAPA (TIMIKA) - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mimika berkunjung ke Kwamki Narama. Kunjungan ini untuk mendengarkan aspirasi dari 3 kampung yang terlibat perang suku di daerah tersebut.

Perwakilan dari warga kampung tengah mengatakan perang tidak bisa dihentikan. Pemerintah dan kepolisian tidak bisa menghentikan perang karena kampung tengah berada dalam posisi yang kalah. Sehingga perang harus terus di lanjutkan.

"Kami saat ini dalam kubu yang kalah, sehingga tidak mungkin pemerintah dan kepolisian menghentikannya. Kami akan tetap perang. Berikan kami kesempatan dua minggu sampai 1 bulan untuk berperang," kata salah seorang warga.

Warga menilai munculnya masalah harus jeli di lihat oleh kepolisian.  DPRD diminta untuk melakukan pertemuan dengan pihak kepolisian dengan warga untuk menyelesaikan masalah. Perdamaian sudah sering dilakukan tapi tetap saja muncul lagi perang. Pemicu permasalahan harus di tinjau oleh kepolisian lagi mulai dari rentetan kejadian mulai dari awal hingga perang saat ini terjadi lagi.

Warga juga meminta kepolisian melakukan penyisiran untuk mengamankan tempat perang. Perang harus dilakukan di satu tempat. Bukan dilakukan disembarang tempat, karena akan mengganggu jalan umum di Kwamki Narama.

Kalau pihak keamanan mau mengamankan silakan pihak keamanan tembak satu orang di kubu sebelah. Maka baru dapat dilakukan perdamaian. Namun, kalau tidak bisa jangan halangi masyarakat untuk berperang.
Yang terjadi disini merupakan perang suku murni jangan dikaitkan dengam perang yang terjadi di Tembagapura. Kepolisian tidak bisa menggunakan senjata untuk melarang masyarakat untuk berperang.

"Ini perang murni antar suku. Jangan dikaitkan dengan perang yang di Tembagapura. Kalau kepolisian ingin menggunakan senjata, perang di Tembagapura saja," kata warga.
Ketua DPRD Elminus Mom di hadapan warga kampung tengah Rabu (15/11) mengikuti apa yang menjadi kehendak dari warga Kwamki Narama. Ia mengatakan sesuai dengan adat masyarakat Papua bahwa kepala harus dibayar dengan kepala.

Apabila perang terjadi maka perang tidak bisa dilakukan dengan sistem kurung. Sistem ini mempunyai arti perang dilakukan dikampung bawah dan kampung atas sehingga membuat kampung tengah terjepit. Perang seperti itu tidak bisa dilakukan. Kalau warga diatas ingin gabung boleh, demikian juga dengan warga yang di kampung bawah.

Pihak kepolisian di minta serius menangani permasalahan yang ada. Kalau ada pelaku harus di tindak tegas. Jangan dibiarkan sehingga membuat perang terus berlanjut.
“Pemerintah dan kepolisian tidak bisa melarang apa yang menjadi kemauan warga. Karena sesuai dengan adat orang Papua, Kalau mau perang silakan saja. Perang dilakukan dalam satu atau 2 hari saja,” ujarnya.

Elminus menghimbau kalau mau perang itu jangan sampai mengganggu anak anak yang sekolah. Kalau mau perang harus disepakati satu tempat yang tidak menganggu ketertiban umum di Kwamki.

Rombongan anggota DPRD juga menyambangi kampung atas dan kampung bawah. Pimpinan DPRD meminta kepada masyarakat 3 kampung agar dalam berperang dilakukan di satu titik atau tempat. Hal ini dilakukan agar tidak mengganggu perekonomian di Kwamki Narama.

Rombangan DPRD terdiri dari gabungan komisi A, komisi B dan C. Kunjungan ini rombongan DPRD dipimpin oleh ketua DPRD Kabupaten Mimima Elminus Mom dan gabungan sekretariat DPRD. Dalam kunjungan ini juga DPRD memberikan Bahan Makanan (Bama) kepada warga di Kwamki Narama. (Tomy)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment