Duduk Satu Meja Pemerintah dan KKB

Bagikan Bagikan


KONFLIK berkepanjangan di Area Pertambangan Freeport, Tembagapura semakin memprihatinkan, tidak berperikemanusiaan dan tiada bertepi. Dua anggota Brimob Batalion B Papua, Brigadir Firman tewas dan Bripka Yongki Rumte dalam keadaan kritis. Tragedi itu disebut-sebut kedua korban tertembak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), Rabu (15/11) dini hari sekitar pukul 03.50 Wit. Peristiwa yang menyayat hati ini tersiar, setelah beberapa jam kabar gembira dari sarang para petinggi KKB di Banti hendak meninggalkan area konflik di Tembagapura. Informasi akurat yang diterima media ini, mereka berencana berkumpul di Arwanop mengadakan upacara adat bakar batu, sekaligus menyepakati dan menyudahi konflik. 

Jika itu benar, berarti sejalan dan sebangun dengan pernyataan  Staf Markas Komando Daerah Militer III Timika Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) Hendrik Wanmang. Hendrik membantah sejumlah keterangan dari polisi soal dugaan penyanderaan masyarakat sipil di Banti, Tembagapura. “Tidak benar ada penyanderaan dan intimidasi.” Itu pernyataan langsung Hendrik ketika diwawancarai  dan diberitakan  wartawan tempo Fajar Pebrianto, Minggu 12 November 2017.

Berkaca dari dua substansi itu, semestinya tragedi yang dialami Brigadir Firman tewas dan Bripka Yongky Rumte kritis tertembak KKB tidak terjadi. Kalau kita mengacu pada premis upacara adat bakar batu yang direncanakan para KKB. Dan logika kita semakin tumpul menganalisa peluru yang meregangkan nyawa Firman dan Yongky Rumte kritis. Sebab, bidikan peluru itu mengingatkan kita pada filem detektif Mozart yang berakurasi sangat cermat alias jitu dan sangat terlatih dibalik perisai anti peluru serta  hawa dingin yang mencekam. Berarti para KKB ini sangat terlatih dan sekelas dengan Mozart, menakutkan.

Mari kita mengakhiri konflik berkepanjangan ini dengan pendekatan kemanusiaan dan mengedepankan para tokoh agama bernegosiasi dengan para KKB. Saya teringat dengan peristiwa penyanderaan Mapunduma oleh almarhum Kely Kwalik. Kala itu, tim negosiator yang diutus Pemerintah bernegosiasi dengan kelompoknya Keli Kwalik adalah Uskup Jayapura, Herman Munninghof, OFM dan Ketua Sinode, Pdt. Rumsarwir. Jika itu salah satu solusi, selain Uskup, Ketua Sinode mungkin perlu ditambah dengan Ketua Sinode Gereja Kingmi. Ketiga tokoh ini diminta untuk menjadi tim negosiator dengan para KKB. Meski upaya manis Uskup dan Ketua Sinode dalam peristiwa Mapunduma itu masih mengisahkan kisah pertumpahan darah. Tentu, kita tidak menghendaki terjadi seperti itu dalam negosiasi dengan para KKB di Banti, Tembagapura.  Setidaknya, kita mencoba dengan meminta para tokoh itu dari pada kekerasan dibalas dengan kekerasan atau berkontak senjata.

Selain itu, kelompok piawai dari TNI/Polri yang bisa meyakinkan dan patut dipercaya dimata para KKB membangun jembatan silaturahmi yang bisa mendudukan pemerintah daerah atau pemerintah pusat duduk satu meja dengan para KKB. Sehingga, forum dialog dalam satu meja itu bisa menyampaikan uneg-uneg masing-masing. Karena, saya sangat percaya pendekatan silaturahmi atau pendekatan kasih bisa meruntuhkan segala kepongahan dan ego masing-masing institusi yang tanpa disusupi kepentingan sesaat. Tentu saja, kita berharap pula para KKB selalu berihtiar tidak mengedepankan kekerasan untuk menyelesaikan konflik di Papua. Tetapi, secara elegan duduk dalam satu meja bicara dari hati ke hati, berdialog mewujudkan Papua damai. Semoga! (Fidelis S J)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment