Kapolda dan Pangdam Geram

Bagikan Bagikan



SAPA (TIMIKA) – Pasca terjadinya kontak senjata antara Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Versus TNI/Polri di Tembagapura dan  penyanderaan warga masyarakat sipil di Banti dan Kimbeli di Distrik Tembagapura. Kapolda dan Pangdam menilai sejak saat itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika  tidak peduli  dan tidak campur tangan dalam proses penyelesaiannya.
Hingga detik-detik pengevakuasian ribuan  masyarakat yang disandera, perwakilan petinggi Pemkab Mimika termasuk Bupati tidak tampak. Menyikapi hal itu, Kapolda Provinsi Papua, Irjen Pol . Drs. Boy Rafli Amar, M.H. Boy Rafli Amar dan Pangdam XVIII Cenderawasih, Mayor Jendral TNI, George Elnadus Supit mengaku geram dan meminta Pemkab harus peduli dan mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan yang saat ini terjadi.
“Tidak banyak yang kita minta. Hadir saja disaat masyarakat kita dievakuasi itu sudah cukup. Yang penting masyarakat tahu bahwa mereka mempunyai pemerintah. Ini bukan hanya masalah aparat penegak hukum. Mereka semua adalah warga kita. Hadirlah di sana beri mereka rasa lega,” kata  Boy kepada Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan, Martin Paiding di halaman Graha Eme Neme Yauware, Senin (20/11).
Puncak kemarahan  petinggi Polri dan TNI tersebut meluap secara silih berganti ketika mengetahui tidak adanya kesigapan Pemkab Mimika dalam menyiapkan sarana dan prasarana di tempat penampungan sementara bagi masyarakat yang akan dievakuasi dan menyusul yang telah dievakuasi beberapa hari lalu.
“Pemkab Mimika ini sama sekali tidak pernah hadir di tengah-tengah masyarakat di atas. Jangan Pemkab beralasan menunggu informasi dari aparat kemanan. Datang langsung ke TKP dan berpihak ke masyarakat. Itu kan rakyat milik Pemkab Mimika. Kalau soal keamanan itu tanggungan kami. Memang kepala Kesbangpol sempat ada di sana, tapi hanya sebentar saja dan menghilang. Apa jadinya kalau begini?,” katanya.
Dalam persoalan separah ini, menurut Boy, Pemkab seharusnya lebih sigap dalam menyediakan sarana dan pra sarana yang diperuntukan bagi masyarakat yang akan dievakuasi. Menurut dia, Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Mimika sempat hadir dalam proses pengevakuasian masyarakat di Tembagapura, namun hanya sesaat saja dan kemudian menghilang.
Terkait hal ini, ia menyarankan pemerintah harus mengunjungi langsung masyarakat di wilayah bertikai tersebut dengan menyalurkan bahan makanan dan bantuan lainnya. Sehingga masyarakat tidak merasa diterlantarkan.
“Pemkab jangan kuatir dengan keamanan di atas. Petugas TNI dan Polri sudah ada di sana, Pemkab hanya menyalurkan bantuan saja seperti, makanan, obat-obatan dan keperluan lainnya,” sarannya.
Kapolda dan Pangdam akan terus menunggu adanya langkah-langkah inisiatif dari Pemkab mimika agar bisa terlibat dalam membantu masyarakat di Tembagapura.
Senada dengan Kapolda, Pangdam George mengatakan, Pemkab Mimika sama sekali tidak berperan dalam persoalan yang terjadi di Tembagapura. TNI dan Polri sangat menyesali ketika aparat TNI dan Polri berhasil mengevakuasi masyarakat, namun Pemkab tidak mendukung dengan mempersiapkan sarana dan prasarana yang kelak dipergunakan bagi masyarakat tersebut.
“Di atas itu masyarakat yang belum kita evakuasi masih terlalu banyak. Di mana peran pemerintah di Mimika ini? Jangan hanya bicara dan mengagendakan rapat terus menerus. Mana actionnya? Kalau tempat penampungan tidak disediakan tenda, MCK dan yang lainnya, bagaimana jadinya?,” kata  Pangdam.
Manyikapi hal itu, Asisten II Pemkab Mimika, Martin Paiding yang didampingi Staf Ahli, Cristian Karubaba bersama beberapa petinggi Pemkab mengaku sangat memahami kemarahan Kapolda dan Pangdam. Dengan demikian, jajaran petinggi Pemkab akan mendisksikan terkait langkah-langkah yang akan diambil untuk dalam melayani masyarakat yang akan dievakuasi.
“Kami akan bahas bersama langkah-langkah apa yang akan kami ambil bersama DPRD, baik untuk kesehatan, pendidikan dan yang lainnya. Yang jelas bukan karena kami tidak ada dana, tapi kami akan sesuaikan dengan seberapa banyak dan berapa lama mereka akan tinggal dipenampungan. Kita belum tahu pasti berapa jumlah masyarakat yang nanti akan dievakuasi tapi berdasarkan informasi sementara diperkirakan mencapai lima ratusan,” katanya. (Acik)




Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment