Manusia dan Bermegah-megahan

Bagikan Bagikan


Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).[At-Takatsur/102:1-8]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kecintaan terhadap dunia, kenikmatannya dan keindahannya, telah melalaikan kamu dari mencari akhirat. Dan itu terus terjadi pada kamu sehingga kematian mendatangimu dan kamu mendatangi kuburan serta menjadi penghuninya”. [Tafsir Ibnu Katsir, surat at-Takatsur, ayat 1]

Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “At-Takatsur (bermegah-megahan) mencakup berbangga dengan banyaknya harta, qabilah, kedudukan, ilmu, dan semua yang memungkinkan terjadi saling berbangga dengannya. Ini ditunjukkan oleh perkataan pemilik sebuah kebun kepada kawannya: Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat [Al-Kahfi/18: 34. Tafsir Juz ‘Amma, hlm: 305-306]

Beliau rahimahullah juga berkata, “Makna ”telah melalaikan kamu” yaitu, telah menyibukkan kamu sehingga kamu lalai dari yang lebih penting, yaitu dzikrullah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Perkataan ini ditujukan kepada seluruh umat, namun itu dikecualikan orang yang disibukkan oleh perkara-perkara akhirat dari perkara-perkara dunia, dan mereka ini sedikit”. [Tafsir Juz ‘Amma, hlm: 305]

Ayat ini juga telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para Sahabat sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits berikut: Dari Mutharrif, dari bapaknya, dia berkata, “Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang membaca ayat “Al-hakumut Takatsur”, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Anak Adam mengatakan, ‘Hartaku, hartaku!’, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, “Bukankah engkau tidak memiliki harta kecuali harta yang telah engkau makan, sehingga engkau habiskan; Atau apa yang telah engkau pakai, sehingga engkau menjadikannya usang; Atau apa yang telah engkau sedekahkan, sehingga engkau meneruskan (yaitu terus memilikinya sampai hari kiamat-pen)”. [HR. Muslim, no. 2958]

Di dalam riwayat lain, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan: Dan selain itu, maka dia akan mati dan akan meninggalkan hartanya untuk manusia (ahli waris-pen)”. [HR. Muslim, no. 2959, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu].

Begitulah sifat manusia umumnya, rakus dan bakhil terhadap harta, sampai ajal menjemputnya, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah Azza wa Jalla .

Firman Allah Azza wa Jalla:  Sampai kamu mengunjungi (masuk ke dalam) kuburan.
Ada tiga penafsiran kalimat ini (Lihat Tafsir al-Qurthubi): Yaitu sampai kematian mendatangimu, sehingga kamu berada di kuburan sebagai orang-orang yang mengunjungi kuburan, lalu kamu akan kembali dari kuburan menuju surga atau neraka, sebagaimana kembalinya orang yang berkunjung menuju rumahnya. Yaitu bermegah-megah telah melalaikan kamu sehingga kamu menghitung orang-orang yang telah mati. Namun penafsiran ini lemah karena jauh dari rangkaian ayat. [Tafsir Juz ‘Amma, hlm. 307, syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah]

Ayat ini juga mengisyaratkan agar manusia banyak mengingat kematian, karena barapapun harta yang berhasil dia kumpulkan di dunia ini, capat atau lambat, semua harta itu pasti akan dia tinggalkan seiring dengan kematian yang datang.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , yang artinya, “kelak kamu akan mengetahui”, yakni kamu akan mengetahui akibat buruk prilakumu, bahwa bermegah-megah ini tidak memberikan manfaat kepada kamu”. [Tafsir Juz ‘Amma, hlm. 307, karya Syaikh Muhamad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu, seandainya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang sampai ke dalam hatimu tentang apa yang ada di hadapanmu, maka pasti prilaku bermegah-megahan tidak akan bisa melalaikankamu, dan kamu benar-benar akan bergegas melakukan amal-amal shalih.

Tetapi ketiadaan ilmu yang hakiki telah menjadikan kamu seperti apa yang kamu lihat”. [Tafsir Taisîr al-Karîmirrahman].  (Red)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment