Melirik Bupati Asmat Borong Jualan

Bagikan Bagikan
Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos memborong jualan mama-mama.
Gaya Menyapa dan Menyentuh Hati Warga

Mana…! Ibu-ibu  hamil dan menyusui. Ikan khusus ibu-ibu hamil dan menyusui. Anak-anak sekolah dan kamu yang lain ambil pisang dan sagu, ya?” begitulah gaya Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos menyapa dan menyentuh jantung warganya, di Kampung Yawas, Basim, Distrik Fayit, Kabupaten Asmat, Jum’at (3/11) siang.

Terik mentari sekitar pukul 14.15, Jum’at (3/11) siang di Jalan Jembatan dari papan di Kampung Yawas, Basim, Distrik Fayit, Kabupaten Asmat menyengat kulit. Mama-mama Papua dari Kampung Yawas, Basim, Asmat tidak bergeming menjajakan ikan, pisang, dan sayur yang digelar tanpa alas di atas Jalan Jembatan itu. Mereka rupanya sudah sangat menghafal kalau gaya bupati Asmat menyapa dan menyentuh mereka satu persatu dengan memborong jualan yang mereka jual.

“Warga disini bukannya hanya menghafal cara bupati menyapa mama-mama dan orang tua disini dengan memborong jualan. Mereka bahkan sudah sangat menghafal bunyi mesin speadboad bupati. Mama-mama yang jualan ini, tadi waktu pa bupati ke sekolah menyaksikan dan melihat dari dekat anak-anak sekolah SD Inpres Basim menikmati program pemberian makanan tambahan setiap hari sepulang sekolah. Mereka tidak ada. Mereka tahu dari bunyi mesin speedboat. Sehingga, mama-mama yang sedang menjaring dan yang masih berkebun semua menuju kesini membawa jualan. Karena, mereka juga sudah tahu kalau bupati pasti memborong semua jualan mereka dan membagi kembali kepada warga yang lain,” tutur Kepala Sekolah SD Inpres Basim, Vabianus Sai kepada media ini.

Dia mengisahkan, warga disini sudah menganggap Bupati Asmat anak kandung mereka. Karena, Bupati Asmat ini sebelum menjadi bupati, pernah menjabat Kepala Distrik dan dia pulalah yang merintis dan membuka sekolah SMP Negeri Basim bersama Pastor Bavo Velendity, Pr. Warga sudah mengenal Bupati Asmat luar dalam. “Anda bisa menyaksikan sendiri bagaimana mama-mama itu menarik tangan bupati dan anak-anak tidak segan mendekati dia. Pembawaannya memang sangat dekat di hati warga Asmat,” kisahnya.

Dari pandangan mata media ini, Bupati Asmat sempat merogoh kantung saku celana kiri dan kanan serta mengambil dompet dari saku celanannya. Terlihat jelas, dia agak kikuk dan ketahuan kalau dia kehabisan uang untuk memborong jualan mama-mama itu. “Saya minta maaf. Uang sudah habis. Saya minta maaf ya,” katanya disahut mama-mama itu: ”Tidak apa-apa pa bupati.”

Menariknya, ikan-ikan yang diborong, perkiraan media ini untuk konsumsi sendiri. Ternyata, dia membagi-bagi ikan per tali itu khusus bagi ibu-ibu hamil dan menyusui. Sementara, hasil pembelian pisang dan sagu dibagi-bagi per tandan dan sisir untuk anak-anak sekolah dari kampung yang terjauh dari Basim yang sedang sekolah SMP dan SD di Basim. “Mana…, ibu-ibu hamil dan menyusui. Ikan khusus untuk mereka ya dan anak-anak sekolah. Kamu yang lain ambil pisang itu satu-satu sisir atau satu-satu tandan,” katanya disahut gelak tawa warga yang mendengar perkataan Bupati Asmat.

Dalam perjalanan pulang, media ini sambil menikmati perjalanan dan speadboad agak jumping, karena derasnya arus menerawang jauh, jauh sekali. Dan tersentak, ketika mengingat kembali saat rombongan Bupati memasuki Kampung Yawas. Ketua adat, Fransiskus C dan ibu-ibu menyambut bupati dengan tarian adat. Ketua Adat setempat memahkotai bupati dengan topi adat kebesaran setempat dan disusul dua ibu paruh baya menyuguhkan bupati dan rombongan dengan secuil sagu bola dan air putih.

Menurut kisah tokoh setempat, Vabianus Sai simbol sagu dan air itu cerminan dari kekuatan hidup serta lambang saling berbagi kasih. “Itu cermin dari kehidupan. Karena pa bupati sudah memberikan segalanya dan berbagi kasih kepada warga setempat. Maka mama-mama memberi kekuatan hidup yang sama kepada bupati dalam simbol sagu dan air, itu maknanya. Pemberian itu tidak sembarang dilakukan kepada setiap orang. Kecuali kepada orang yang sering hidup berbagi kasih. Jadi, Bupati Asmat ini tinggal copot jantungnya saja yang belum dia berikan untuk masyarakat Fayit,” tuturnya. (Fidelis Sergius Jeminta)
     


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment