Menteri Khofifa Kunjungi Masyarakat Korban Kontak Senjata

Bagikan Bagikan


Dirjen DPSKBS Kemensos RI, Suprapto
SAPA (TIMIKA)  Kementirian Sosial (Kemensos) RI, Dra. Khofifa Indar Parawangsa dijadwalkan, Rabu (23/11) (Besok -Red) mengunjungi masyarakat korban Kontak senjata antara Aparat Keamanan dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang telah dievakuasi ke Graha Eme Neme Yauware (ENY) Timika. Kunjungan itu dalam rangka mengoptimalkan penanganan masyarakat korban pristiwa kriminalitas yang dilakukan KKB di Kampung Kimbeli dan Banti, Distrik Tembagapura.

“Ibu Kohofifa pasti akan datang, karena memang telah dijadwalkan. Kecuali kalau misalnya ada panggilan dari Presiden itu berarti ada kemungkinan dibatalkan. Beliau sangat komit dengan apa yang telah dijadwalkan,” kata Kepala Seksi Pendayagunaan Sumber Daya, Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosisal (Dirjen DPSKBS) Kemensos RI, Suprapto ketika diwawancarai di halaman Graha Eme Neme, Selasa (21/11).

Berdasarkan fakta kemampuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika dalam menangani persoalan yang terjadi khusus dalam bidang logistik menurut Suprapto, masih sangat minim sehingga diperlukan bantuan dan kunjungan langsung dari Kemensos.

Sebelaum kedatangan Kemensos Khofifa Indar Parawangsa, Senin (20/11) Kemensos telah mendatangkan sebanyak 5 orang yang tergabung dalam tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) sekaligus menyalurkan bantuan beras sebanyak 5 Ton. Selain beras,  perlengkapan tidur seperti selimut sebanyak 600 lembar,  matras ratusan buah, tenda gulung serta pasokan lauk pauk yang dibelanjakan dari pasar lokal Timika.

Tim LDP akan memberikan pelayanan khusus konsultasi secara psikologis yang diakibatkan oleh adanya pengaruh pasca insiden bersenjata tersebut.

Sedangkan Koordinator Tim LDP Kemensos, Milly Mildawati mengatakan, masyarakat yang merupakan korban dari adanya suatu bentrokan sangat perlu diungsikan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan pemulihan  psikososial melalui kebutuhan-kebutuhan dasar.

Dengan demikian, masyarakat Banti dan Kimbeli saat ini membutuhkan penanganan kesehatan, pendidikan dan pakaian. Selain itu, yang paling penting adalah menangani anak-anak untuk kembali menemukan kebutuhan mereka dalam bermain bebas.

Setiap masyarakat yang bebas dari suatu insiden khusus peperangan diakuinya, sangat besar kemungkinan akan mengalami dampak berupa reaksi psikologis yang berupa kecemasan,  tidur tidak tenang, kaget serta rasa was-was.

Reaksi-reaksi tersebut  jika tidak segera diatasi akan menimbulkan gangguan trauma. “Memang untuk sekarang, mereka secara keseluruhan masih belum mengarah ke trauma. Yang kita tangani saat ini sebatas mengatasi reaksi kecemasan. Untuk anak-anak, kita sengaja belikan mainan-mainan seperti bola dan yang lainnya. Supaya mereka melupakan keadaan ketika terjadinya kontak senjata di kampung mereka,” kata Milda.

Dengan demikian tugas LDP meminimalisir arah trauma pada setiap korban bentrokan yang diawali dengan proses penyeleksian berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, kondisi masing-masing korban.

“ Penanganan yang kami lakukan berdasarkan kategori dan jenis kelamin seperti anak usia SD, Remaja, wanita, Pria, lansia dan distabilitas. Kalau prosedur pemilahan kategori itu, baru kita lakukan interfensi layanan,” katanya.

Dia menyebutkan, fasilitas bermain anak-anak korban bentrokan harus diupayakan mencukupi, meski di tempat pengungsian, termasuk dengan ibu-ibu. Ibu- ibu harus disiapkan dengan berbagai kelengkapan masak-memasak untuk melakukan aktivitas memasak sendiri. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment