Mobil Freeport Ditembak Satu Karyawan Terluka

Bagikan Bagikan



Cap mobil patrol yang ditembak KKB


SAPA (TIMIKA) – Aksi penembakan terhadap kendaraan operasional PT Freeport Indonesia (PTFI) kembali terjadi lagi di Mile Point 69 Selasa (14/11) sekitar pukul 08.20 WIT. Kali ini menimpa kendaaraan dengan nomor lambung 01-4887.

Saat itu kendaraan patroli zona Tembagapura sedang melakukan pengawalan (escort) terhadap bus karyawan yang hendak menuju ke Mile Point 72. Akibat aksi tersebut mengakibatkan seorang karyawan, Raden Totok Soedewo terkena tembak di bagian paha kiri, dan kini dirawat di Rumah Sakit (RS) Tembagapura.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Papua Kombes Pol AM Kamal dalam rilisnya menjelaskan, kejadian berawal dari pengawalan kendaraan karyawan oleh anggota Brimob Sumbar dari MP 68 tujuan MP 72. Saat tiba di MP 69 heliped arak-arakan kendaraan bus karyawan yang dikawal oleh anggota Brimob Sumbar ditembak sebanyak 3 kali oleh KKB. Anggota Brimob yang melakukan pengawalan langsung mengeluarkan tembakan balasan secara rentetan dalam keadaan kendaraan yang sedang melaju beriringan.

Sekitar 50 meter kedepan, KKB melakukan penembakan dari arah depan sehingga mengenai paha kiri salah satu karyawan kontraktor PT Freeport Indonesia. 

Selanjutnya anggota Brimob melakukan tembakan balasan. Tidak sampai disitu saat pengawalan sampai di pos 69 kontak tembak terjadi lagi dan serangan tersebut dibalas oleh anggota yang melaksanakan patroli.

"Selain mengenai korban, aksi penembakan yang dilakukan KKB juga mengenai badan mobil," kata Kamal.

Menurut Kamal, Tim dari QPR langsung melakukan penyisiran dan kondisi bisa dikendalikan oleh pihak keamanan. “Saat ini masih dilakukan penyisiran dilokasi kejadian,” kata Kamal.

Sementara itu korban luka tembak Raden Totok Soedewo merupakan electrical low voltage di highland Tembagapura telah dievakuasi ke RS Tembagapura. Sementara itu satu regu anggota brimob masih disiagakan di mile point 69.

“Korban sudah dibawa ke RS untuk dirawat dan satu regu lagi bersiaga dipos 69,” terangnya.
 
Operasional Freeport Normal

Sementara itu Kapolres Mimika, Papua AKBP Victor Dean Mackbon memastikan operasional perusahaan tambang PT Freeport Indonesia di Tembagapura masih berjalan normal meskipun ada gangguan dari kelompok kriminal bersenjata/KKB di wilayah itu.

 "Kalau operasi pertambangan PT Freeport tidak ada masalah, masih kondusif. Cuma yang terjadi permasalahan atau dampak dari keberadaan KKB yaitu di beberapa kampung sekitar Tembagapura terutama Banti dan Kimbeli. Masyarakat di sana masih terisolasi karena diantara kampung-kampung itu dengan Tembagapura dikuasai oleh KKB," kata Victor, Selasa (14/11).

 Victor memastikan seribuan warga sipil di kampung-kampung itu masih beraktivitas seperti biasa, hanya saja ruang gerak mereka dibatasi oleh KKB untuk bisa bepergian secara bebas ke Tembagapura.

 Sejak beberapa hari lalu, aparat menyediakan barang-barang kebutuhan pokok bagi masyarakat sekitar Tembagapura yang mengaku kekurangan bahkan kehabisan stok bahan makanan. Warga dapat mengambil bahan kebutuhan pokok itu dengan berjalan kaki ke dekat Kantor Polsek Tembagapura.

Selain itu, di lokasi itu juga disiagakan para petugas kesehatan dari Rumah Sakit Tembagapura untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.



Ibu hamil tua minta bantuan medis.
.
 Pada Minggu (12/11), seorang ibu dalam kondisi hamil tua berjalan kaki dua kilometer dari Kampung Banti ke Polsek Tembagapura untuk meminta bantuan tenaga medis guna proses persalinan.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Polisi AM Kamal mengatakan beberapa hari lalu terdapat sebuah peralatan berat eksavator terlihat menggali untuk merusak ruas jalan yang menghubungkan Tembagapura menuju Kimbeli dan Banti.

Setelah ditelusuri, peralatan berat tersebut milik salah satu perusahaan subkontraktor PT Freeport yang selama ini membantu perusahaan dalam pembangunan di wilayah tiga desa sekitar Tembagapura yaitu Waa-Banti, Aroanop dan Tsinga.

"Ada perusahaan subkontraktor yang bekerja di wilayah tiga desa di Banti, alat berat mereka itu yang digunakan oleh salah seorang stafnya untuk menggali dan merusak akses jalan ke Banti," jelas Kombes Kamal.

Polisi belum bisa memastikan apakah staf perusahaan subkontraktor Freeport tersebut tergabung dalam KKB atau tidak. "Kita tidak bisa menyimpulkan seperti itu".


Dari pantauan aparat kepolisian, ruas jalan yang dirusak cukup panjang. "Ada beberapa titik yang dirusak, dibuat parit. Ada yang ditimbun dengan batu besar. Mungkin itu untuk menghalangi kehadiran rekan-rekan anggota yang hendak menuju beberapa titik di sana," kata Kamal. (Red/Ant)



Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment