OPINI : KOTA TIMIKA MENUJU SMART CITY

Bagikan Bagikan


Oleh: Darius Sabon Rain, SE, M.Ec.Dev.
(Penulis adalah ASN Pemda Kabupaten Mimika)
Istilah “Smart City” dalam beberapa waktu terakhir ini sangat populer terdengar di masyarakat, baik lewat media cetak maupun media sosial. Sebagai warga Mimika, patut kita memberikan apresiasi kepada Kepala Dishubkominfo Bapak John Rettob, yang tengah berupaya mewujudkan kota Timika menjadi sebuah kota cerdas atau disebut Smart City. Smart City merupakan suatu konsep pengembangan dan pengelolaan kota dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk memonitor dan mengendalikan berbagai sumber daya yang ada di dalam kota dengan lebih efektif dan efisien untuk memaksimalkan pelayanan kepada warganya serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Dengan kata lain Smart City adalah sebuah konsep kota cerdas atau kota pintar yang membantu masyarakat kota  mengelola sumber daya yang ada dengan efisien dan memberikan informasi yang tepat guna kepada masyarakat atau lembaga dalam melakukan aktivitas secara real time.

Jika dipahami lebih dalam, sebenarnya konsep Smart City merupakan sebuah kebutuhan, bukan soal gaya-gayaan. Karena konsep Smart City merupakan sebuah cara bagaimana pemerintah daerah  mentransformasikan sebuah pelayanan publik dan prosedur dari yang lambat menjadi cepat, kurang transparan menjadi transparan, pendekatan pembangunan dari atas ke bawah (top down) menjadi partisipatif, dari manual menjadi digital, dan melalui konsep ini banyak ruang yang berpeluang untuk korupsi menjadi tertutup.

Paling tidak konsep Timika Smart City yang telah dicanangkan menunjukan adanya suatu itikad baik dari pemerintah daerah untuk open government dalam arti pemerintah ingin lebih terbuka dalam hal pelayanan publik dan membuka ruang yang lebar bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan pengawasan terhadap pelayanan publik.

Pembangunan Timika Smart City dengan penggunaan teknologi dan informasi diharapkan terjadi interaksi yang lebih dinamis dan erat antara warga masyarakat dengan pemerintah daerah sebagai penyedia layanan. Interaksi dua arah ini akan terus berkembang dan berproses sehingga nantinya kota Timika akan menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali serta tangguh dalam merespon perubahan dan tantangan yang baru dengan lebih cepat.
Kota Timika terpilih menjadi salah satu kota dari 25 kota di Indonesia mengikuti Gerakan Menuju 100 Smart City dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkoinfo) tahun 2017.

Hal ini ditandai dengan penanda tanganan MoU (Memorandum of Understanding) oleh Bapak Bupati Mimika dengan perwakilan Pemerintah Pusat dalam acara seremoni peluncuran program Gerakan Menuju 100 Smart City di Indonesia, yang berlangsung di Kota  Makassar beberapa waktu lalu. Di Indonesia sendiri, sudah ada beberapa kota yang sudah menerapkan Smart City yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Makasar, Semarang dan beberapa kota lainnya.
Berdasarkan studi literatur dan pengamalan beberapa kota baik di Indonesia maupun di dunia yang telah mengimplementasikan konsep Smart City, ada enam dimensi yang menjadi fokus pembangunan Smart City antara lain:

Smart Governance (pemerintahan pintar)
Kunci utama keberhasilan penyelengaraan pemerintahan adalah Good Governance. Yaitu paradigma, sistem dan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang mengindahkan prinsip-prinsip supremasi hukum, kemanusiaan, keadilan, demokrasi, partisipasi, transparansi, profesionalitas, dan akuntabilitas ditambah dengan komitmen terhadap tegaknya nilai dan prinsip “desentralisasi, daya guna, hasil guna, pemerintahan yang bersih, bertanggung jawab, dan berdaya saing”.

Keberpihakan pemerintah daerah perlu ditingkatkan untuk mengembangkan wilayah-wilayah tertinggal sehingga wilayah-wilayah tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara lebih cepat dan dapat mengejar ketinggalan pembangunan. Hal yang dapat dilakukan adalah membangun wilayah-wilayah tertinggal melalui peningkatan produktivitas dan pemberdayaan masyarakat, meningkatkan keterkaitan antara wilayah tertinggal dengan wilayah-wilayah pusat kota serta mengelola dan mengendalikan pemanfaatan sumber daya yang ada.

Smart Economy (ekonomi pintar)
Smart economy dalam kehidupan kota mengacu pada industri yang smart yaitu dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses produksi dan distribusi barang dan jasa. Jika semakin banyak inovasi-inovasi baru yang dikembangkan maka akan menambah peluang usaha baru dan meningkatkan persaingan pasar usaha/modal. Meningkatnya jumlah pelaku usaha mengakibatkan persaingan pasar menjadi semakin ketat. Sehingga inovasi-inovasi baru perlu diciptakan untuk mempertahankan eksistensi bisnis pelaku usaha tersebut.

Smart Mobility (mobilitas pintar),
Smart mobility yang dimaksud yaitu kemampuan kota dalam memberikan kesempatan akses yang seluas-luasnya pada lokal maupun internasional. Smart mobility termasuk pada transportasi dan pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur diwujudkan melalui penguatan system perencanaan infrastruktur kota, pengembangan aliran sungai, peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih, pengembangan system transportasi, pengembangan perumahan dan permukiman, dan peningkatan konsistensi pengendalian pembangunan infrastruktur. Dengan ketersediaan sarana/prasarana transportasi dan infrastruktur yang memadai akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Smart Living (kualitas hidup).
Rasa nyaman dapat diperoleh masyarakat dengan adanya beberapa indikator berikut dalam sebuah kota, yaitu kesehatan, perumahan, aksesibiltas, persampahan, energi, keanekaragaman hayati, air, teknologi, dan transportasi. Berbudaya, berarti bahwa manusia memiliki kualitas hidup yang terukur (budaya). Kualitas hidup tersebut bersifat dinamis, dalam artian selalu berusaha memperbaiki dirinya sendiri. Pencapaian budaya pada manusia, secara langsung maupun tidak langsung merupakan hasil dari pendidikan. Maka kualitas pendidikan yang baik adalah jaminan atas kualitas budaya, dan atau budaya yang berkualitas merupakan hasil dari pendidikan yang berkualitas.

Smart People (masyarakat pintar).
Smart people berarti penduduk kota yang dapat dikatakan smart, tidak hanya mengacu pada kualifikasi edukasi seseorang tapi juga kualitas interaksi sosial yang terbentuk. Pembangunan senantiasa membutuhkan modal, baik modal ekonomi (economic capital), modal manusia (human capital) maupun modal sosial (social capital). Modal manusia dapat dikembangkan dengan berbagai kegiatan yang bisa menumbuhkan kreatifitas. Modal sosial termasuk seperti kepercayaan, gotong royong, toleransi, penghargaan, saling memberi dan saling menerima serta kolaborasi sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi melalui berbagai mekanisme seperti meningkatnya rasa tanggungjawab terhadap kepentingan publik, meluasnya partisipasi dalam proses demokrasi, menguatnya keserasian masyarakat dan menurunnya tingkat kejahatan. Tata nilai ini perlu dipertahankan dalam kehidupan sosial masyarakat smart city.

Smart Environment (lingkungan pintar).
Lingkungan pintar berarti lingkungan yang bisa memberikan kenyamanan, keberlanjutan sumber daya, keindahan fisik maupun non fisik, visual maupun tidak,bagi masyarakat dan public. Menurut undang-undang tentang penataan ruang, mensyaratkan 30 % lahan perkotaan harus difungsikan untuk ruang terbuka hijau baik privat maupun public. Lingkungan yang bersih tertata merupakan contoh dari penerapan lingkungan yang pintar.

Disamping itu berdasarkan rencana pengembangan Smart City di Indonesia dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, ada 6 komponen Smart City menuju kota berkelanjutan antara lain:
Smart Governance, meliputi; pengembangan e-governance dan adanya partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan.

Smart Economy, meliputi; pengembangan city brandin, pengembangan kewirausahaan dan pengambangan e-commerce.

Smart Infrastructure, meliputi; pengembangan jaringan IT, pengembangan transportasi berbasis IT dan pengembangan sistem informasi, manajemen, berbasis IT.

Smart Living, meliputi; kemudahan akses terhadap layanan pendidikan, emudahan akses terhadap layanan kesehatan, pengembangan peran media dan kemudahan akses terhadap jaminan keamanan.

Smart People, meliputi; pendidikan dan pengembanganSDM yang melek teknologi,  dukungan penelitian dan pengembangan karakter sosial budaya masyarakat.

Smart Environment, meliputi; pengelolaan lingkungan berbasis IT,  pengelolaan SDA berbasis IT dan pengembangan sumber energi terbarukan.

Keenam dimensi kota cerdas ini dapat dikembangkan berdasarkan karakteristik daerah dan kebutuhan penduduk perkotaan, yang tentunya  tidak sama antara kota yang satu dengan yang lainnya.

Untuk Kabupaten Mimika, upaya untuk mewujudkan Timika Smart City sementara dalam proses. Sebagai tahap awal, pemerintah Kabupaten Mimika tentunya berfokus pada menyiapkan pondasi dan infrastruktur, melatih aparatur supaya lebih smart dan tech-oriented serta mulai berinisiatif open government. Kita tentu bersyukur, walaupun masih dalam tahap awal, namun telah dilaunching sebuah aplikasi Akai Meno. Dengan adanya aplikasi ini paling tidak dapat memberikan dampak praktis dan efisiensi dalam pengelolaan kota Timika ke depan. Segala permasalahan kota Timika seperti kemacetan/ kesemrawutan lalu lintas, penumpukan sampah, jalan rusak, kasus kriminal dan lainnya dapat secara real time diketahui dan dicari solusi terbaiknya dengan cepat. Ini merupakan manfaat langsung yang dapat diterima oleh masyarakat dengan adannya Smart City.

Satu hal yang lebih penting adalah penyusunan Road Map Timika Smart City dan sosialisasi kepada stakeholder dan masyarakat. Road Map Timika Smart City harus diintegrasikan dalam RPJMD Kabupaten Mimika, sehingga kebijakan, strategi, tujuan, sasaran, maupun program tercakup dalam RPJMD Kabupaten Mimika.

Dengan demikian maka prakarsa maupun inisiatif Timika Smart City dapat diakomodasi dalam penyusunan RKPD Kabupaten Mimika maupun dalam Rencana Strategis SKPD terkait sehingga implementasi Timika Smart City dapat dilaksanakan melalui program maupun kegiatan pada SKPD terkait. Disamping itu sosialisasi perlu terus dilakukan agar semua pihak memiliki satu pandangan atau visi tentang Timika Smart City dan seluruh warga Kabupaten Mimika mengetahui dan dapat berpartisipasi dalam program Timika smart city.

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment