Menyematkan Nilai Kejuangan Dalam Memperkokoh Persatuan

Bagikan Bagikan


Oleh Amirullah
Detik-detik peringatan Hari Pahlawan ke-72 pada 2017, sejak Jumat (10/11) pagi mulai membahana di seantero negeri.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, sejak pagi hari antusiasme masyarakat di seluruh penjuru negeri terlihat dengan kesiapan mereka mengikuti upacara untuk mengenang perjuangan para pahlawan.

Para pahlawan bangsa tidak hanya mengorbankan harta, tetapi juga menumpahkan darah yang tak ternilai untuk negeri ini. Mereka mengokohkan harga diri bangsa dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah.

Tentu saja, peringatan Hari Pahlawan yang setiap tahun dilaksanakan bukan sekadar acara seremonial yang jatuh setiap 10 November dengan berbondong-bondong menuju lapangan untuk mengikuti upacara dan kemudian mendengarkan sambutan.

Di hadapan para pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dan peserta upacara lainnya dalam peringatan Hari Pahlawan di daerah itu, Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar mengingatkan pentingnya pemaknaan atas hari penting tersebut.

Peringatan Hari Pahlawan harus dimaknai dan dihayati bersama-sama bukan sekadar seremonial setiap tahun.

Jika nilai-nilai Pancasila dan semangat kepahlawanan terus dipupuk bersama-sama oleh selurun bangsa, ucapnya, tidak ada lagi terorisme dan berbagai aksi demonstrasi yang tidak konstruksif bagi pembangunan bangsa.

Apa yang disampaikan Gubernur Ali Baal pada peringatan Hari Pahlawan di daerah itu menjadi renungan bagi peserta upacara maupun masyarakat secara umum.

Bahwa nilai-nilai perjuangan yang dilakukan para pejuang terdahulu negeri ini tidak cukup hanya dikenang oleh generasi saat ini dan yang akan datang, akan tetapi diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Hari Pahlawan sebagai peringatan atas peristiwa pertempuran hebat pada 10 November 1945 di Surabaya yang juga disaksikan oleh mata dunia.

Semua golongan agama dan suku beramai-ramai melebur menjadi satu, bertarung dan menyerahkan hidup untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

Jika pada zaman dahulu para pejuang harus berhadapan dengan bedil sang penjajah dan tidak sedikitpun menyurutkan langkah mereka, walaupun nyawa menjadi taruhan, generasi kini dituntut mengaktualisasikan nilai-nilai kejuangan tersebut dengan menyumbangkan kreativitas dan pikiran untuk kemajuan bangsa.

Hal terpenting lainnya saat ini, di tengah kondisi bangsa sedang "tercabik-cabik" oleh perbedaan pandangan politik, momentum Hari Pahlawan harus menjadi tonggak untuk meruntuhkan egoisme kelompok dan selanjutnya mengutamakan semangat persatuan.

Saat ini, memang bukan lagi zaman mengangkat bedil untuk menghadapi bedil penjajah, menumpahkan daerah, dan menggelandang dari hutan ke hutan untuk bergerilya.

Akan tetapi, peringatan Hari Pahlawan tahun ini sebagai momentum kesadaran bersama bahwa generasi bangsa dituntut melepaskan seluruh atribut perbedaan demi kepentingan kemajuan bangsa yang kemerdekaannya dari penjajah telah diperjuangkan para pahlawan melalui cucuran darah.

Selaras dengan semangat Hari Pahlawan tersebut, katanya, Sulbar yang menjadi daerah pemekaran dari Provinsi Sulawesi Selatan sejak beberapa tahun lalu itu, sebagai daerah yang terbuka dan menerima semua orang, tanpa memandang perbedaan.

Tidak ada penolakan bagi orang-orang yang ingin masuk Sulbar hanya karena alasan politik ataupun perbedaan ras.

Ali Baal yang juga mantan Bupati Polewali Mandar itu, mengemukakan bahwa jika dibandingkan dengan perjuangan para pahlawan pada masa lalu, perjuangan generasi saat ini tidak terlalu berat.

Generasi bangsa saat ini dituntut menanggalkan perbedaan guna merajut persatuan dan kesatuan yang dibutuhkan sebagai modal membangun kemajuan Indonesia sebagai bangsa yang beradab, maju, dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Saat ini, tidak ada lagi penjajah yang menenteng bedil yang harus dilawan dengan bambu runcing.

Yang ada saat ini egoisme kelompok yang dapat menjerumuskan bangsa ke dalam jurang perpecahan. Wujud "bambu runcing" yang harus ditenteng oleh generasi saat ini adalah semangat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Kita tentu tidak ingin pahlawan yang ada di alam sana, menitikkan air mata dan menyematkan rasa penyesalan atas pengorbanan yang telah mereka lakukan," ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat Sulbar untuk terus melanjutkan perjuangan para perintis kemerdekaan. Dengan semangat para pahlawan itu, Bangsa Indonesia dapat sederajat dengan bangsa lain, sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, dan berdaulat.

Melalui peringatan Hari Pahlawan tahun ini, Pemprov Sulbar akan mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk beberapa nama pejuang dari daerah itu memperoleh gelar pahlawan nasional, di antaranya Baso Barani, H. Andi Hasan Manggabarani, dan Andi Depu sebagai komandan Keris Muda Sulbar.

Pemprov Sulbar juga akan mengusulkan kepada lembaga legislatif untuk menggunakan nama-nama pejuang dari daerah itu sebagai nama tempat-tempat penting, seperti bandar udara dan pelabuhan di daerah tersebut.

Perekat Persatuan Tonggak sejarah bangsa berupa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 merupakan momentum perekat persatuan Indonesia yang meliputi ribuan pulau, banyak suku, beragam agama dan kelompok.

Para pemuda kala itu mengikrarkan semangat persatuan dalam berbagai perbedaan tersebut dalam bingkai Indonesia yang kemudian menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tonggak persatuan yang diikrarkan para pemuda pada 1928 harus menjadi cemeti bagi para pemuda saat ini dalam memaknai Hari Pahlawan. Mereka harus terus menjaga cita-cita luhur persatuan bangsa yang diikrarkan para pemuda terdahulu.

Terkait dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2017, Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar menggambarkan pemuda pemudi zaman sekarang atau yang tren disebut "Kids Zaman Now", sering berselisih paham, mudah sekali menvonis orang, mudah terpecah belah, saling mengutuk satu dengan yang lain, menebar fitnah dan kebencian, seolah-olah kehidupan bersamanya terhalang tembok raksasa tebal yang tak bisa ditembus siapapun.

Begitu pula, ujarnya, saling caci-maki bertebaran di berbagai mediao sosial.

Sejatinya, pemuda sebagai penerus pembangunan harus memanfaatkan momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan sebagai ajang introspeksi atas peran mereka dalam hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, serta mengenang cucuran darah para pejuang yang telah mengorbankan nyawa demi kemerdekaan Indonesia.

Bupati Mamuju Habsi Wahid membacakan pidato Menpora Imam Nahwari pada peringatan Hari Sumpah Pemuda 2017 di daerah itu beberapa waktu lalu.

Ketika itu, ia bertutur tentang sejarah Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda II yang dihadiri pemuda lintas suku, agama, dan daerah.

Secara imajinatif, ujarnya, sulit rasanya membayangkan mereka dapat bertemu dengan mudah Para pemuda pada masa itu memiliki perbedaan latar belakang agama, suku, bahasa, dan adat istiadat. Namun, perbedaan itu bukan menjadi halangan bagi mereka untuk bersatu demi cita-cita besar terwujudnya Bangsa Indonesia.

Hal itulah yang disebut dengan "Berani Bersatu" sebagaimana tema peringatan Hari Sumpah Pemuda pada tahun ini.

Habsi mengajak masyarakat untuk menghentikan segala perdebatan yang mengarah kepada perpecahan bangsa.

Saat ini, menjadi waktu bagi pemuda untuk melangkahkan semangat guna mewujudkan cita-cita besar mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial.

Selaku kepala daerah, Habsi Wahid meminta para pemuda setempat menjadikan momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda sebagai kesempatan introspeksi untuk menemukan kembali semangat besar pemuda Indonesia zaman dahulu dalam merebut kemerdekaan.

Menurut dia, semangat Hari Sumpah Pemuda tahun ini menjadi tongkat estafet bagi pemuda zaman sekarang agar mengembangkan pemikiran yang kritis dan kreatif bagi kelangsungan dan kemajuan pembangunan bangsa.

"Generasi muda berpikir positif, memberikan pandangan-pandangannya dalam rangka menyusun program-program di Kabupaten Mamuju ini, agar pembangunan yang sementara kita galakkan bisa betul-betul meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan tahun ini, harus menjadi "pecut" generasi muda untuk menanggalkan segala perbedaan, merenungkan pengorbanan para pemuda dan pahlawan untuk mempersatukan bangsa serta merebut kemerdekaan Indonesia. (***)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment