P2TP2A Ajak Orangtua Antisipasi Predator Anak

Bagikan Bagikan


Syane Mandessy

SAPA (TIMIKA) - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3A KB) Kabupaten Mimika, mengajak para orangtua untuk  ikut mengawasi pergerakan para predator anak yang semakin marak di Mimika dengan aksi-aksi pemerkosaan yang  meresahkan masyarakat.

"Kami berharap orangtua untuk  ikut mengawasi pergerakan para predator anak ini. Peran orang tua sangat penting dalam mengawasi anak bergaul dengan siapa saja. Jangan sampai teman bergaul anak itu justru predator seks bagi mereka," kata Kabid Perlindungan Anak BP3A KB Mimika, Syane Mandessy kepada Salam Papua di Ruang Kerjanya, Selasa (7/11).

Himbauan ini disampaikan kepada para orangtua, ungkap Syane, mengingat belum lama ini baru saja terbongkar kasus pencabulan anak di bawah umur yang dilakukan oleh seorang oknum pendidik. Korban tidak berani melaporkan selama berbulan-bulan kepada pihak kepolisian karena diancam. Pihaknya telah melakukan rapat bersama staf di P2TP2A untuk  memantau kasus ini sampai ke tingkat pengadilan.

"Saya kemarin sudah cek kasus pencabulan guru SMP kepada siswanya yang baru saja terbongkar. Dan ini sangat miris, karena sekolah merupakan rumah kedua untuk memberikan kenyamanan tetapi justru sebaliknya. Sehingga Sekarang kami dari P2T2A terus dampingi kasus ini sampai ke pengadilan," ungkapnya.

Menurut Dia, dewasa ini sudah menjadi trending topic terkait pelecehan seksual terhadap anak-anak, atau yang sering dikenal dengan istilah Paedofil. Oleh sebab itu, Dia menghimbau agar orang tua selalu mengawasi anaknya supaya terhindar dari hal-hal negarif semacam itu.

"Sekarang itu lagi trend laki-laki suka dengan anak-anak kecil, atau yang biasa disebut Paedofil. Makanya orang tua itu harus awasi jangan kita anggap saudara padahal dia punya niat jahat sama anak kita," ujarnya.

Ia menambahkan, sampai saat ini P2TP2A telah menangani 40 kasus yang proses hukumnya telah sampai ke pengadilan. Dari sejumlah kasus tersebut, ada 3 kasus terkemuka meliputi kasus pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), penelantaran dan kasus perceraian.

"Dari empat puluh kasus ini yang paling banyak itu kasus penelantaran keluarga. Selain kasus pelecehan seksual sebanyak 5 kasus dan kasus pelecehan yang kami tangani. Semua sudah sampai ke pengadilan," tambahnya. (Albin)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment