Pena Media di Sarang KKB

Bagikan Bagikan


KETIKA pertama kali saya mendengar dan memoles kejadian dan aksi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang melalang buana di hutan rimba di sekitar area pertambangan PT. Freeport Indonesia (PT.FI), Tembagapura, saya sedikit terkejut kejadian itu dijadikan sebuah berita. Dan saya semakin gelisah aksi serupa terjadi pada hari ibadah, Minggu akhir-akhir ini. Tampaknya para KKB ini sudah lupa pada filosofi yang diwariskan para pejuang OPM bahwa hari minggu tidak boleh kokang senjata. Apalagi kokang senjata berbuntut penumpahan darah manusia di tanah Papua. Doktrin itu walau tidak tertulis tetapi terekam dalam setiap ingatan para pejuang bersenjata di Papua.

Kondisi itu saya berkaca dari pengalaman, sejak 1980-an dan hasil wawancara dengan para tokoh OPM semisal Willem Ondy almarhum dan wawancara dengan Kelly Kwalik almarhum. Para tokoh pejuang OPM yang sudah meninggal itu mengaku sangat tabu mengokang senjata pada hari minggu. Mereka meyakini hari minggu adalah hari bertobat dan penyerahan diri secara total sambil memohon diampuni Tuhan. Membaca peta perjuangan KKB di Tembagapura sangat berbeda dan menarik diselami. Pertanyaannya, apakah mereka sudah tidak memelihara dan merawat lagi tata krama yang diwariskan para pendahulunya?” Ataukah, para KKB ini sudah silau dan terkena virus era informasi serta teknologi yang berkembang pesat saat ini?” Ataukah ada kelompok lain yang hidup bersama di sarang para KKB?”

Jika itu yang terjadi. Maka asumsi stok amunisi yang dimiliki KKB di distribusi kelompok yang sama di sarang KKB. Apa lagi, potret senjata dan gaya para KKB mempertontonkan memegang senjata sampai beredar di media sosial. Lantas, siapa yang memotret para KKB lengkap dengan senjata yang dimiliki dan HP milik siapa yang mendapat pertama hasil pemotretan itu? Karena, logika untuk membaca pergerakan KKB ini sangat tidak masuk akal mereka mengokang senjata pada hari ibadah, minggu, itu pertama. Kejadian beruntun mengokang senjata berkali-kali mengisahkan sebuah pertanyaan yang sulit di jawab. KKB mendapat pasokan amunisi dari mana kalau tidak ada tangan lain yang memasokan amunisi. Demikian pula dengan hasil pemotretan yang beredar di media sosial. Kok, para KKB ini berani sekali memperlihatkan diri di mata Medsos? Bukankah aksi itu mempertaruhkan nyawa dan jauh dari sisi safety?.

Belajar dari para pejuang yang hidup di hutan rimba masa lalu, mereka sangat kukuh tidak memperlihatkan wajah dan strategi pergerakan. Apalagi, memperlihatkan kemampuan senjata yang dimiliki. Itu sangat konyol. Namun, logikanya gampang terbaca kalau itu dipamerkan kelompok yang hidup bersama di sarang KKB. Maka hasil akhirnya semakin jelas pergerakan ini sebuah misteri di gua hantu kalau tidak mau disebut panggung sandiwara. Maaf kalau saya terlalu berlebihan menyebut seperti itu.

Mengapa? Karena ke mana kita bisa menangkap misteri di balik perjuangan KKB  yang berdampak pada kesejahteraan warga sekitar, sementara begitu sulit diselami dalam suasana yang terjebak dalam arah tujuan yang semu. Seandainya perjuangan itu atas nama penderitaan warga setempat dan memperjuangkan hak-hak yang perlu dipenuhi dari rembesan emas Tembagapura sangat jelas arahnya. Harap perjuangan itu arahnya jelas. Sehingga, ketika KKB berhadapan dengan kelompok satuan terpadu antara TNI-Polri yang mengesampingkan HAM menurut Panglima Kodam XVII/Cenderawasih hingga nyawa melayang masih tersisa kisah cerita ”mati karena berjuang mempertahankan hak-hak masyarakat setempat, sungguh mulia.” Jika tidak! Pasti mati sia-sia. Semoga kita tidak mengorbankan hidup sampai nyawa melayang tanpa bermakna. (Fidelis S J)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment