Penyidik Belum Terbitkan SPDP Kasus Penganiayaan Wartawan

Bagikan Bagikan


Kasipidum Kejari Mimika, Joice E Mariai
SAPA (TIMIKA) - Hingga kini pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Mimika belum juga menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) terkait kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum anggota Polres Mimika terhadap salah satu wartawan di Timika, Saldi Hermanto, pada Sabtu 11 November 2017  malam lalu.

"SPDP kasus itu belum ada. Saya sudah cek, belum ada di meja saya," kata Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Mimika, Joice E. Mariai, SH., MH saat dikonfirmasi awak media, Selasa (28/11).

Sebelumnya, Kapolres Mimika AKBP Victor Dean Mackbon pada Kamis 23 November lalu telah menyatakan delapan anggotanya ditetapkan sebagai tersangka.  Dan kasus penganiayaan itu sudah masuk proses penyidikan.

Sesuai pasal 109 ayat (1) KUHAP mengatur bahwa penyidik Kepolisian wajib menyerahkan SPDP ke Jaksa Penuntut Umum (JPU). Adapun Pasal 109 ayat (1) KUHAP berbunyi, “Dalam hal penyidik telah mulai melakukan penyidikan suatu peristiwa yang merupakan tindak pidana, penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum”.

Kapolres bahkan menyatakan proses penyelidikan dan penyidikan kasus tersebut masuk dalam kategori mudah. Dalam waktu tidak terlalu lama, katanya pula,  penyidik Polres Mimika akan menyerahkan berkas perkara ke Kejaksaan.

"Sudah saya sampaikan ini kasus yang mudah pembuktiannya. Sesegera mungkin berkasnya kita serahkan ke kejaksaan," kata Kapolres saat itu.

Sebelumnya juga pada Senin 13 November lalu, puluhan wartawan dari berbagai media di Kota Timika menggelar demonstrasi sebagai aksi protes di Mako Polres Mimika menyikapi aksi penganiayaan terhadap rekan seprofesinya. Usai menyerahkan pernyataan sikap, wartawan kemudian menemui anggota DPRD Mimika meminta ikut mengawal kasus tersebut.

Victor secara pribadi maupun organisasi Polres Mimika telah menyampaikan permintaan maaf atas tindak penganiayaan yang dilakukan oleh oknum anggotanya. Bahkan ia pun ikut mengecam tindakan oknum anggotanya tersebut
Kala itu, ia berjanji penanganan kasus itu akan terbuka.

Wartawan dan masyarakat bisa mengawal dan mengawasi langsung perkembangan  kasus tersebut. Victor berharap kejadian serupa tak akan terulang lagi di kemudian hari.

Sementara itu, Yosep Temorubun, SH selaku penasehat hukum berharap Kapolres Mimika segera memerintahkan penyidik menerbitkan SPDP. Proses penyidikan sudah harus dimulai apalagi Kapolres telah menyampaikan dihadapan publik bahwa status terlapor atau delapan orang oknum anggota Polres Mimika sudah ditingkatkan menjadi tersangka.

“Berharap kasus penganiyaan terhadap klien kami segera ditingkatkan proses penyidikan. Karena penganiyaan terhadap klien mendapat perhatian dari Kapolda Papua sampai beliau mengutus Kabid Propam Polda Papua ke Timika untuk dapat memastikan kasus klien kami berjalan sampai tuntas,” katanya.

Bahkan, pada saat pemeriksaan korban (klien), hadir Kabid Propam Polda Papua. Selaku penasehat hukum, kehadiran Kabid Propam tersebut ditambah pernyataan yang menyatakan delapan orang tersebut sudah menjadi tersangka, bukan sekedar untuk meredam emosi baik korban maupun rekan-rekan wartawan lainnya.

“Akan tetapi action dalam penanganan kasus tersebut sampai selesai. Karena selaku aparat penegak hukum melakukan tindakan penganiyaan terhadap klien, cara-cara yang dilakukan seperti preman. Padahal Polisi sebagai penegak hukum dikenal dengan pelindung, pengayom tetapi yang terjadi bukan pelindung tetapi tingkah lakunya seperti preman. Lebih baik di pecat atau di pindah tugaskan dari Timika ke daerah pegunungan,” ujarnya.

Dia mempertanyakan: “Kapan klien kami merasa keadilan jika kasus ini dibiarkan berlarut-larut. Sangat disayangkan. Padahal kasus penganiyaan klien saya mendapat perhatian Mabes Polri dan Kapolda, tapi kok kasusnya masih jalan di tempat,” tanyanya.

Kasus ini sangat diharapkan menjadi skala prioritas Polres Mimika. Hal itu agar dapat memberikan rasa keadilan bagi korban, termasuk wartawan di Mimika, secara umum se-Papua dan se-tanah air. (Ricky Lodar/Red)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment