Polisi Buka Paksa Blokade Aksi Guru Berubah Ricuh

Bagikan Bagikan

Polisi buka paksa blokade aksi guru

SAPA (TIMIKA) – Tiga hari pasca pemblokadean gerbang masuk dan keluar Kantor Pusat Pemerintahan (Puspem) Kabupaten Mimika, SP 3 Distrik Kuala Kencana, Rabu (15/11) aksi ratusan guru yang dinamai aksi damai menuntut pencairan insentif atas pengabdian dalam mencerdaskan generasi muda Mimika berubah ricuh.

Kericuhan antara para guru dan kepolisian ini dikarenakan Kapolsek Kuala Kencana, AKP Junan Plitomo Kambey bersama beberapa anggotanya meminta  gerbang yang dipalang tersebut segera dibuka.

Permintaan yang disertai dengan pemaksaan ini ditolak keras oleh para guru, dengan alasan pemalangan akan dibuka setelah  Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (Dispendasbud) Mimika, Jenni Ohestin Usmany bisa merealisasikan tuntutan pencairan insentif sebagai hak para guru honorer tersebut.

“Saya sudah meminta dengan baik gerbang dibuka agar pelayanan puspem bisa berjalan.  Kalau memang bapak dan ibu guru tidak izin, berarti saya akan buka paksa,” ungkap Kapolsek dihadapan para guru.
Dengan alasan kuat menunggu kehadiran Kadispendasbud, ratusan guru ini menentang keras Kapolsek untuk  tidak membuka gerbang yang telah dipalang tersebut.

Pantauan di lapangan,  ketika Kapolsek dibantu beberapa anggotanya serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mulai membuka paksa gerbang, secara spontan oknum peserta aksi menyiramkan sebotol Pertalite ke arah gerbang yang hendak dibuka. 

Siraman pertalite tersebut sontak mengundang kaget dan amarah Kapolsek dan menantang untuk membekuk onum pelaku penyiraman pertalite yang juga mengakibatkan bagian tubuh Kapolrese terkena percikan pertalite.

Meski tidak terjadi adu fisik, kericuhan kian memanas setelah siraman pertalite berhasil memancing emosi Kapolsek sehingga secara  mendadak ia mengatakan bahwa guru penyiram pertalite ‘bodok’.

Kata ‘bodok’ itu  membuat amarah ratusan guru yang tergabung dalam komunitas guru se Mimika tersebut kian memuncak dan kalimat bodok pun kembali dilontarkan kepada Kapolsek Kuala Kencana.

“Bukan kami yang bodok tapi bapak Kapolsek yang bodok. Kami akan berjuang agar bapak juga dicopot karena membuka gerbang secara paksa.  Ini perlakuan preman. Ini ada indikasi kerja sama dengan Kadispendasbud. Kapolsek dibayar berapa?. Kami di sini hanya melakukan aksi damai dan ini merupakan agenda nasional yang kami tuntut,” kata seorang guru.

Ketua Komunitas Guru se Mimika, sekaligus koordinator aksi penuntutan Insentif guru, Alexander Rahawarin ketika diwawancarai sebelum kericuhan terjadi mengatakan, aksi akan kian meningkat jika janji Kasispendasbud untuk datang hari Kamis (hari ini Red) untuk mempertanggungjawabkan insentif tidak terwujud.

Ia mengakui, seluruh guru pedalaman, pegunungan dan pesisir akan datang dan hadir dalam aksi penuntutan tersebut. Sebab, aksi penuntutan sudah dilaksanakan sejak bulan Juli lalu namun hingga saat ini tidak terealisasi.

“Memang kami sudah duduk bersama  bersama Wakil Bupati dan Sekda bahwa Kadispendasbud akan datang hari Kamis. Tapi kalau pun Kadispendasbud datang, kami tidak akan mau adanya negosiasi, tapi kami mau dia langsung cairkan insentif itu,” ungkap Alexander.

Ia mengatakan, meski pun Wabup dan Sekda serta pejabat tinggi lainnya memberikan negosiasi bersama kami, namun itu tidak memberikan hasil yang memuaskan. Sebab secara pasti semua pejabat di Pemda telah mengetahui bahwa insentif itu ada, akan tetapi dikarenakan belum bisa memastikan ‘Siapa yang melindungi siapa’ maka, tuntutan ini akan terus kami tujukan kepada Kadispendasbud selaku pimpinan kami di bidang pendidikan.

“Apa lagi Wabup sudah akui keberadaan mereka di Pemda tidak diakui, karena Bupati yang memegang kendali. Wabup bilang kami ini ada tapi seperti tidak ada,” katanya.

Aksi pemblokadean kantor Puspem menurut dia, akan terus berlangsung dengan melibatkan seluruh guru se Mimika.

“Semua guru-guru yang di pedalaman akan hadir. Karena  ini sudah sebelas bulan kami tuntut. Terus kami dan seluruh guru-guru mau makan apa?,” tuturnya. (Red)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment