Polres Gelar Coffee Morning Cari Solusi Atasi Masalah

Bagikan Bagikan

Polres Mimika gelar coffee morning bersama Forkopimda

SAPA (TIMIKA) - Polres Mimika menggelar Coffee Morning bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Mimika dengan Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda dan Tokoh Perempuan, Tokoh Adat di hotel Resto 66 di jalan Cenderawasih, Jumat (17/11) dalam menyikapi situasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di Mimika terlebih khusus di Tembagapura.

Hadir dalam Coffee Morning tersebut, Direktur Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polda Papua Kombes. Pol Heroe, Wakil Bupati Mimika Yohanis Bassang, SE. M.Si, Sekda Mimika Ausilius You, S. Pd, MM, MH, Kasat Brimob Polda Papua Barat AKBP Jeremias Rontini,  Wakapolres Mimika Kompol A Korowa, SH, Forkopimda, perwakilan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimikan, Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB), Tokoh Agama dan Tokoh Pemuda, serta Tokoh Perempuan.

Wakapolres Mimika Kompol A korowa, SH saat membuka diskusi tersebut menjelaskan, tujuan dari pertemuan Forkopimda dan seluruh Tokoh-Tokoh di Timika yang diselenggarakan oleh Polres Mimika, untuk meminta masukkan dari semua Tokoh terkait langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh pihak Kepolisian berkaitan dengan sitkamtibmas baik di Tembagapura dan Kwamki Narama dan kota Timika.

"Jadi pertemuan ini untuk membahas situasi di Timika, jadi kami minta masukan-masukan dari semua pihak," kata Wakapolres Mimika saat pembukaan diskusi di hotel dan resto 66 di jalan Cendrawasih, Jumat (17/11).

Oleh sebab itu. Wakapolres menjelaskan, pihak Kepolisian dalam pertemuan tersebut mau meminta masukan-masukan dari semua Tokoh terkait tertutama Tokoh agama. Dalam hal ini FKUB Mimika untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat tanpa mengesampingkan adat, sehingga bisa terciptanya sitkamtibmas di Mimika.

 "Jadi kita minta kepada FKUB agar bisa bersama-sama dengan pihak Kepolisian untuk memberikan pemahaman bahwa saat ini telah ada agama sehingga perlunya pendekatan diluar dari Adat," jelasnya.

Sementara itu menanggapi pernyataan Wakapolres Mimika Kompol A Korowa, SH. Ketua FKUB Kabupaten Mimika Ignasius Adii mengatakan, ada 3 hal yang perlu menjadi masukan bagi semua. Diantaranya Pendidikan, takut akan Tuhan serta berkaitan dengan adat. Artinya, kurangnya pendidikan membuat orang berani buat jahat, dan sudah tidak takut akan Tuhan. Sehingga melalui pendidikanlah orang bisa merubah pola hidupnya.

Tidak terlepas dari itu berkaitan dengan adat. Pemkab mimika dan Forkopimda harus mengetahui bahwa adat atau tradisi dari masyarakat Papua. Dengan pola pendekatan dengan adat melalui kepala-kepala suku. Sehingga busa tercipta stigma Mimika (Minggu-Minggu Kasih Allah).

"Yang saya perlu berikan masukkan itu ada 3 pendidikan, takut akan Tuhan dan Adat," kata Ignasius Adii yang dikutip saat memberikan masukkan.

Ditempat yang sama Dir Binmas Polda Papua Kombes Pol. Heroe mengatakan, pihak Kepolisian ingin sama-sama dengan masyarakat dalam memelihara keamanan di Mimika sesuai yang diharapkan bersama. Oleh sebab itu perlu masukkan atau solusi dari berbagai pihak sehingga Kamtibmas di Mimika tetap terjaga.

"Kami ingin memlihara keamanan, tapi harus ada solusi dari masalah-masalah yang terjadi," kata Dir Binmas.

Wakdir Yahamak Arnold Ronsumbre mengatakan, untuk menciptakan sitkamtibmas di Mimika perlu pendataan warga mulai dari tingkat RT oleh Disukcapil. Hal tersebut harus dilakukan untuk meminimalisir setiap orang-orang yang mencurigakan dan berbahaya bagi masyarakat.

"Kami minta adanya pendataan warga mulai dari tingkat RT hingga Kelurahan, supaya bisa meminimalisir orang-orang yang diduga bukan merupakan warga negara yang berdomisili di Timika," katanya.

Dikesempatan yang sama Wabup Mimika Yohanis Bassang, SE. MM mengatakan, dirinya merasa prihatin dengan kondisi yang terjadi di Mimika dan di Tembagapura. Namun sebagai wakil dirinya tidak bisa berbicara banyak sebab jabatanlah yang membatasi kewenangan sebagai seorang wakil Bupati.

Kendati demikian, dirinya berharap ada langkah-langkah yang dilakukan oleh pihak TNI-Polri untuk membebaskan warga yang terjebak di Banti, dan Kimbeli.

 "Saya mau bicara tapi tidak bisa karena saya antara ada dan tiada. kiranya ada solusi yang terbaik untuk mereka, selebihnya saya tidak bisa bicara, saya doakan TNI Polri upaya bisa ada negoasiasi dengan KKB diatas supaya bisa bebaskan masyarakat di atas," kata Bassang. (Ricky  Lodar)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment