Renungan Minggu: Jangan Membalas Kemarahan

Bagikan Bagikan
KETIKA seseorang marah, dia pasti melampiaskan kemarahannya dengan berbagai cara. Demikian juga dengan Nebukadnezar. Air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh, dan Abednego (19).Apakah, Nebukadnezar merasa dilecehkan oleh mereka bertiga yang menyandang status  penasihat raja!  Karena, mereka  tidak mau menyembah Nebukadnezar!

Dalam tradisi Yahudi, konsekuensi dari ketidakpatuhan terhadap titah raja adalah hukuman mati. Ketiga teman Daniel ditangkap dan dimasukkan ke dalam perapian yang panasnya tujuh kali lebih panas dari api biasa (19). Setelah tungku dipersiapkan dengan matang, ketiganya diikat dan dimasukkan ke dalam perapian, lengkap bersama dengan jubah, celana dan topi mereka. Tardisi itu tidak lazim. Sebab, dalam hukum dan aturan saat itu biasanya orang-orang terhukum akan ditelanjangi terlebih dulu. Namun hal itu  tidak berlaku bagi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.

Meskipun ketiganya rela mati demi mempertahankan imannya kepada Allah, namun Allah menjaga mereka. Allah mendampingi mereka dalam menjalani hukuman mati tersebut. Dalam hal ini, ada satu hal yang menarik, yaitu raja Nebukadnezar melihat bagaimana Allah Israel melindungi umat-Nya yang setia dengan cara berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu (25). Apa yang dilihat oleh raja dalam mimpinya membuat Nebukadnezar terperanjat.

Peristiwa itulah yang mengubah kemarahan raja menjadi sembah sujud kepada Allah Israel. Raja Nebukadnezar bukan hanya kagum terhadap kesetiaan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego saja, tetapi juga kepada Allah Israel (26-28). Sebagai tanda pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah Israel, Nebukadnezar melakukan dua hal, yakni: Pertama, mengeluarkan titah bagi siapa pun yang menghina Allah Israel akan dikenakan hukuman mati. Kedua, ketiganya dianugerahi kedudukan tinggi di wilayah Babel (30).

Bersyukurlah karena kita memiliki Allah yang Mahakuasa dan penuh kepedulian terhadap pergumulan umat-Nya. Karena itu, janganlah kita membalas kemarahan orang lain dengan perbuatan jahat. Tunjukkanlah imanmu dengan senyuman dan perbuatan baik.

Kita mesti belajar bersikap arif, sabar dan tawakal seperti raja Nebukadnezar bahwa amarah tidak dibalas dengan amarah melainkan dengan kasih dan setia merawat kerahiman Allah lewat sesama yang memusuhi kita. Memang agak berat. Tetapi, ketika kita mulai belajar dan mengendalikan diri dalam emosi jiwa secara psikologis, kita pasti bisa melewatinya, percaya, Allah selalu dan senantiasa bersama kita. Amin (Fidelis. S.J) 

   




Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment