Salam Papua: Karyawan PT Freeport Disandera KKB

Bagikan Bagikan


Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli

SAPA (JAYAPURA) -  Kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang saat ini menguasai sejumlah kampung di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika Papua semakin bertindak brutal. Informasi terkini yang berkembang, KKB diduga telah menyandera seorang karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) dan menggunakan alat berat untuk merusak jalan menuju Banti, Distrik Tembagapura.

"Memang betul ada laporan tentang karyawan PT Freeport yang disandera KKB bersama kendaraan berat jenis eksavator milik perusahaan yang kini digunakan untuk merusak jalan dari Utikini ke Banti," kata Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli, Minggu (12/11).

Irjen Boy Rafli mengatakan, saat merusak jalan, KKB bersenjata api melakukan pengawalan agar aksi perusakkan jalan menggunakan alat berat yang dikemudikan oleh karyawan Freeport yang disandera itu terus dilakukan.

Namun, belum diketahui identitas karyawan yang disandera saat sedang mengerjakan jalan itu. Belum diketahui juga keberadaan dan bagaimana nasib dari karyawan tersebut.
Kapolda Papua juga mengakui, hingga kini KKB masih membatasi aktivitas warga sipil di Banti dan Kimbely, Distrik Tembagapura.

"Para sandera (warga sipil) hanya diizinkan berada di sekitar lokasi yakni di kampung Kimbely dan Banti," kata Boy Rafli seraya menambahkan, pihaknya sedang berupaya untuk membebaskan warga sipil dengan mengedepankan tindakan persuasif.

Tokoh masyarakat dan tokoh agama juga dilibatkan untuk bernegoisasi guna membantu proses evakuasi warga.
Sejak aksi teror bersenjata yang dilakukan KKB sejak Oktober lalu di sekitar wilayah operasional PT Freeport di Tembagapura.

Penyanderaan terhadap karyawan PT Freeport menambah jumlah korban warga dari aksi kekerasan yang dilakukan KKB. Sebelumnya, Marthinus Beanal, seorang karyawan PT Pangansari Utama, salah satu penyedia jasa katering di lingkungan PT FReeport Indonesia yang sempat dikabarkan diculik oleh KKB ditemukan warga dalam keadaan meninggal.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal ketika dihubungi dari Kota Jayapura, Jumat (10/11) malam mengatakan, kabarnya Marthinus Be
anal ditemukan meninggal setelah keluarga korban dari Kampung Banti melaporkan kepada polisi pada Jumat sore sekitar pukul 15.00 WIT.

"Jadi, sebenarnya saksi mendapat informasi pada Kamis (9/11) bahwa Marthinus Beanal, warga sipil yang sebelumnya dikabarkan menjadi korban penculikan telah ditemukan oleh masyarakat di Kampung Utikini, Distrik Tembagapura, yang berdekatan dengan lokasi KKB dalam keadaan meninggal dunia dan jenazah korban sudah dimakamkan oleh keluarga korban," katanya.

Mengenai kronologis peristiwa, Kamal menjelaskan bahwa kasus itu berawal dari Selasa (7/11)
lalu,  sekitar pukul 05.00 WIT, Marthinus Beanal yang tinggal di barak E 214 Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika memutuskan untuk berjalan kaki melalui hutan dari arah Amole Tembagapura dengan maksud untuk turun ke Kampung Utikini, Distrik Tembagapura, guna menemui istrinya yang dikabarkan takut dengan situasi terkini.

Lalu sekitar pukul 08.00 WIT, anak dari Martinus Beanal masih sempat berkomunikasi lewat telepon seluler dan menanyakan posisi yang bersangkutan.

"Kemudian Martinus Beanal menjawab kalau dirinya sudah berada di Kampung Baru yang merupakan area pengibaran Bendera Bintang Kejora, tapi tidak berapa lama kemudian terdengar bunyi tembakan dan selanjutnya komunikasi tersebut terputus," katanya.

Beranjak dari peristiwa tersebut, pihak keluarga bernama Yulianus Beanal berasumsi bahwa Martinus Beanal telah menjadi korban penembakan KKB.

"Sehingga pihak keluarga menyimpulkan bahwa korban telah ditembak dan mereka melakukan upaya pencarian terhadap keberadaan Martinus Beanal, namun sampai dengan pagi harinya belum berhasil ditemukan," katanya.

Kemudian, lanjut Kamal, pihak keluarga menghubungi keluarga lain yang berada di area Opitawak namun hasilnya juga nihil. Pencarian dilanjutkan dengan mencari di sekitar barak-barak yang ada di Tembagapura dan hasilnya nihil juga.

"Dari sinilah pihak keluarga melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tembagapura guna penanganan lebih lanjut. Hingga pada akhirnya keluarga kembali melaporkan bahwa korban sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dan sudah dikuburkan," kata Kamal.

Terkait persoalan ini, Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar mengimbau agar masyarakat yang berdomisili di sekitar Tembagapura untuk berhati-hati melakukan perjalanan ke beberapa kampung yang diisolasi oleh KKB. Situasi Tembagapura dan sekitarnya menjadi perhatian aparat keamanan.

Sementara itu, Kepolisian Resor Mimika, Papua menetapkan 21 orang pelaku berbagai aksi teror penembakan di wilayah Distrik Tembagapura masuk dalam daftar pencarian orang/DPO.

Kapolres Mimika AKBP Victor Dean Mackbon kepada Antara di Timika, Sabtu (11/11), mengatakan 21 orang tersebut diduga kuat terlibat berbagai aksi teror penembakan terhadap kendaraan dan fasilitas milik PT Freeport Indonesia, kasus penembakan terhadap anggota Brimob, kasus penembakan terhadap warga sipil, kepemilikan senjata api dan lainnya sejak 2015 sampai sekarang.

"Kami mengimbau agar mereka segera menyerahkan diri," kata AKBP Victor.

Kapolres memastikan ke-21 DPO tersebut kini menguasai sejumlah perkampungan di dekat Kota Tembagapura seperti Utikini Lama, Kimbeli hingga Banti.

Kelompok ini juga yang ditengarai menghalang-halangi dan melakukan intimidasi kepada warga sipil untuk melintas ke Tembagapura guna mendapatkan barang kebutuhan pokok sehari-hari.

"Diindikasikan seperti itu. Mereka menghambat warga untuk bepergian kemana-mana. Tidak ada penyanderaan warga sipil, cuma mereka membatasi untuk melintas saja," jelas Victor.

Identitas ke-21 pelaku penembakan di wilayah Tembagapura yang masuk dalam DPO Polres Mimika tersebut sebagai berikut: Ayuk Waker, Obeth Waker, Ferry Elas, Konius Waker, Yopi Elas, Jack Kemong, Nau Waker, Sabinus Waker, Joni Botak, Abu Bakar alias Kuburan Kogoya, Tandi Kogoya, Tabuni, Ewu Magai, Guspi Waker, Yumando Waker alias Ando Waker, Yohanis Magai alias Bekas, Yosep Kemong, Elan Waker, Lis Tabuni, Anggau Waker, dan Gandi Waker.

Hampir semua pentolan kelompok bersenjata tersebut berkedudukan di Kampung Utikini Lama, Distrik Tembagapura. Mereka diduga secara bersama-sama kelompok kriminal bersenjata atau KKB melakukan penembakan dan mengusai senjata api tanpa hak atau izin.

Perbuatan mana melanggar ketentuan Pasal 340 KUHP, Pasal 187 KUHP, Pasal 170 KUHP dan Pasal 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951. (Ant)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment