Salam Papua:Yayasan Papua Menyapa Dunia Berikan Pelatihan Batik di Sanggar Phokouw Faa

Bagikan Bagikan


SAPA (JAYAPURA) - Hampir seminggu lebih Yayasan Papua Menyapa Dunia mendampingi kelompok Sanggar Kerja dan Pelatihan Batik Phokouw Faa yang terletak di Jalan Kali Kamp Wolker  RW II/RT 02 Kelurahan Yabansai, Kota Jayapura. Sanggar ini letaknya di seberang kali dari jalan utama Waena menuju Kampus Uncen baru di Waena atau jalan baru ke Kota Jayapura.

Saat mengunjungi sanggar ini, Sabtu (11/11) terdapat enam anggota sanggar tekun dan bersemangat mengikuti pelatihan yang dibimbing  instruktur Mira dan Bisnu Subyandono dari Batik Tata asal Banyumas, Jawa Tengah sebagai perwakilan dari Yayasan Papua Menyapa Dunia.

"Kami sangat senang karena kedua instruktur yang datang mendampingi kami ini telah memberikan banyak ilmu baru yang sangat menunjang dalam mengembangkan usaha batik kami ke depan," kata Ketua Sanggar Phokouw Faa, Y Blandina Ongge kepada Salam Papua, Sabtu (11/11).

 


Dia mengatakan sudah banyak prestasi dan ilmu yang diperoleh selama ini tetapi dengan pendampingan yang diberikan Yayasan Papua Menyapa Dunia, mereka mendapat masukan dan pengetahuan baru guna mengembangkan seni batik tulis produksi asli Papua.

Bl
andina menjelaskan, materi yang diberikan selama pelatihan, mulai dari pewarnaan, menulis batik motif Papua sampai dengan mengembangkan pewarnaan yang memakai bahan-bahan lokal dari alam Papua.

"Saya pernah memakai pewarna alami dari daun matoa tetapi yang sekarang kami pakai dalam pewarnaan ini dari kayu besi dan pewarnaannya sangat bagus serta tahan lama," katanya.

Selain itu kata dia materi lainnya meliputi cara membuat pola gambar, penebalan warna dasar, pencampuran dan pencelupan dalam membuat batik tulis maupun batik yang dicetak.

”Pewarnaan sintesis memang bagus dan tahan lama tetapi bahan-bahan baku pewarnaan dari sintetis ini harus dipesan dan semuanya dari pulau Jawa,” kata Blandina.

Adapun motif-motif Papua yang dikembangkan, jelas Blandina Ongge lebih banyak dari Suku Sentani karena hampir sebagian besar peserta sanggar berasal dari warga Waena Sentani. "Walaupun ada beberapa anggota sanggar dari mahasiswa Institut Seni dan Budaya Papua dari suku lain tetapi mereka semua sudah belajar motif dari Sentani," kata Blandina Ongge.

Dikatakan, sangat dibutuhkan kesabaran dan ketekunan dalam membuat batik tulis serta batik cetak. Apalagi batik tulis harus dikerjakan oleh pembatik yang mengetahui ukir-ukiran Papua, sehingga tidak semua peserta mampu melanjutkan dan meningkatkan kemampuan membatik ini.

Blandina Ongge juga mengakui kalau mendapat bantuan dan binaan dari Korem 172 PYW sejak Juli 2017 dan memfasisiltasi sanggar ini dengan membangun dapur pewarnaan dan perebusan serta melanjutkan dengan pembinaan kepada para pengrajin.

"Sedangkan dari Dinas Perindustrian Papua juga pada 2013 telah memberikan pelatihan batik,"katanya.

Sementara itu instruktur Bisnus Subyandono mengaku bangga karena peserta pelatihan ini memiliki bakat alami dalam pelatihan batik tulis sebab jika ini dikembangkan maka memberikan nilai tambah dan juga karakter serta ciri khas batik Papua.

"Ciri khas dan karakter ini akan tergambarkan saat pembatik ini menulis di atas kain katun sesuai pola yang dikembangkan,"katanya seraya menambahkan motif-motif batik Papua ini akan memberikan kekayaan dan keragaman batik di Indonesia karena ada motif yang dikembangkan para pembatik Papua.

Subyandono merasa senang karena kelompok sanggar ini juga mengembangkan pewarnaan dari bahan-bahan alami dan sangat penting agar mengurangi ketergantungan terhadap bahan-bahan sintetis dari luar Papua."Saya melihat dari enam peserta ini akan membuat sanggar sanggar sendiri dan menyuplai produk batik mereka kepada sanggar utama agar bisa dipasarkan,"katanya.

Lebih lanjut kata Subyandono, produk lain dari batik ini bisa dikembangkan lagi berupa cindera mata khas berukir Papua untuk bantal meubel, tempat hand phone, sepatu dan berbagai produk lainnya. "Mereka punya potensi dan sangat berbakat untuk mengembangkan usaha batik tulis khas ukiran Papua,"katanya.

Hal senada juga dikatakan instruktur Mira. Menurut dia, peserta enam orang baik mama-mama maupun para pemuda sangat berpotensi untuk mengembangkan profesi mereka sebagai pembatik khas Papua.

Sementara Marciano Ohee, mahasiswa ISBI Papua yang juga ikut pelatihan ini merasa senang karena mendapat banyak ilmu baru yang bisa dikembangkan sebagai modal dalam berusaha membatik khas Papua.

Sanggar milik Blandina Ongge ini berdiri pada 2009, dan pernah mendapat bantuan dari instansi pemerintah khususnya Dinas Perindustrian Papua. Beberapa kali dari Dinas Perindustrian Kota Jayapura menggunakan sanggar ini untuk memberikan pelatihan kepada ibu-ibu di Distrik Kota Jayapura. (Red)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment