Sampai ke Akar Masalah Warga Asmat

Bagikan Bagikan

Bupati Asmat sedang menggendong seorang bayi dari hasil program 1000 HPK yang sedang digalakkan di Kabupaten Asmat.


SEBERKAS cahaya mentari pagi menyelinap masuk ruangan Gedung Olah Raga (GOR) Asmat ditengah ibu-ibu hamil dan menyusui menanti kunjungan Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos dan Kepala Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD), Jum’at (3/11) lalu. Bupati berniat menyaksikan dengan mata kepala makanan bergizi tinggi yang dinikmati warganya dan sajian makanan yang disiapkan para petugas medis. GOR dijadikan posko program 1000 HPK.

Saya melihat wajah para ibu-ibu hamil, menyusui, anak-anak usia nol tahun sedang asik mengisap susu dari ibu mereka sangat gembira. Saya pula melihat keceriaan suami-suami ibu-ibu itu. Ekspresi kepolosan bahasa tubuh mereka sangat ceria. Meski mereka berbusana seadanya. Dan anak-anak mereka pun tiada beda. Semua warga asli Papua Asmat. Warna kulit mereka sudah mulai berwarna-warni, ada yang sawo matang, dan berkulit putih, walau sebagian besar berkulit hitam. Anehnya tiada satupun anak-anak bay yang menangis dalam moment itu.

Ditengah saya sedang asyik merekam bahasa tubuh 247 orang ibu hamil dan menyusui yang sedang mengikuti program 1000 HPK di Distrik Agats. Seorang ayah paruh baya mengaku bernama Petrus Sirets mendatangi saya sambil berbisik pelan. “Bapak wartawan ya?” bisiknya dan saya menyahut: ”Ya betul! Bapa tahu dari mana saya wartawan?” kata saya berbalik tanya dan dia menjawab: “Habis dari tadi saya perhatikan bapa sibuk mengambil gambar,” ujarnya.

“Begini! Saya mau bilang. Program ini sangat bagus dan Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos dan Wakil Bupati Asmat, Thomas Eppe Safanpo, ST sudah sampai pada menjawab akar persoalan yang dihadapi warga Asmat selama ini dengan program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) manusia. Selama ini, kami untuk makan tiga kali sehari saja sangat sulit. Apa lagi, kami menikmati makanan bergizi. Betul bahwa program ini hanya makan sekali sehari setiap hari. Program ini sangat menyentuh dan menjawab masalah yang dihadapi warga Asmat. Itu makanya saya mendorong istri saya mengikuti program ini aktif setiap hari,” katanya sambil menunjuk ke arah istrinya yang sudah hamil kurang lebih lima atau enam bulan.

Petrus mengaku pula istrinya setiap hari mandi tiga kali, rajin membersihkan dan menjemur tikar yang dipakai untuk tidur. “Saya senang sekali setelah istri saya ikut program ini banyak berubah dan kelihatannya cantik. Hanya saya tidak suka kalau dia mulai bersolek sedikit. Saya marah. Saya takut dia dilirik laki-laki lain!” akunya jujur dan disahuti media ini:”Cemburu ya.”

Waktu terus berlalu dan saya sadar saya sedang berbagi rasa dengan apa yang dialami Petrus. Saya mulai mengerti dan menangkap mimpi apa yang berada dibalik benak dan hati Bupati Asmat dan Wakil Bupati Asmat menggalakan program 1000 HPK manusia dan memberi makanan tambahan gizi kepada anak sekolah. Memang! Dimensi dibalik jabatan bupati semestinya cermin dari mengabdikan diri seutuhnya untuk menjawab akar-akar persoalan yang dihadapi warga. Peka dan terbuka mendesain program  yang dibutuhkan warga sendiri, ad omnes, untuk semua.

“Saya dan adik saya Thomas Eppe Safanpo akan berarti dan bermakna bagi kamu semua. Apabila janin yang masih dalam kandungan dan anak-anak yang sudah mengikuti program ini bisa lahir sehat, berat badannya bagus dan ketika mereka sekolah menjadi anak-anak yang cerdas serta pintar. Itu tujuan saya dan Thomas. Jadi, saya minta ibu-ibu hamil dan menyusui makan di Posko ini. Jangan kamu membawa makanan ke rumah. Saya kuatir bukan kamu yang makan tetapi kamu punya suami, itu tidak boleh terjadi. Maka saya minta semua kamu punya suami hari ini hadir. Supaya mereka dengar sendiri betapa pentingnya program ini. Jangan kamu pikir soal biaya. Saya akan mencari uang untuk mensukseskan program ini. Bagaimana setuju atau stop program ini,” kata Elisa  berkelakar dan disahut ibu dan bapa-bapa itu serempak: “Jangan...., pa bupati, program ini lanjut terus,” teriak mereka.

Dia mengingatkan para medis dari Puskesmas Agats menyajikan makanan sesuai standart kesehatan yang telah disepakati bersama sesuai besaran biaya perorang. “Pa Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah, Pa Frans. Kalau misalnya ditemukan makanan yang tidak sesuai standart kesehatan dan standart biaya, tahan semua tunjangan petugas kesehatan, ya,” katanya disahut Kepala BPKAD: “Siap!”

Dia mengakui sedang bermimpi besar. “Saya sedang bermimpi kalau program ini terwujud. Berarti mimpi saya tercapai dan hidup saya bermakna. Saya atas nama adik saya Thom serta atas nama warga Asmat. Saya berterima kasih kepada petugas yang setia melayani warga saya yang sedang hamil dan menyusui dalam pelayanan program 1000 HPK ini. Dan ingat! Kita akan berarti hanya melalui pengorbanan yang total dan menjadi saksi pengharapan yang diilhami Tuhan sendiri. Marilah kita meletakan sejarah baru dalam perjalanan warga Asmat 20 tahun mendatang,” katanya.

Dia meminta pula kepada para ibu-ibu hamil dan menyusui menolak makanan yang tidak sesuai standart yang telah ditetapkan pemerintah daerah. “Saya sudah beri standart sesuai standart kesehatan sekali makan per orang ibu hamil dan menyusui itu sekitar Rp75.000. Jadi, saya minta ibu-ibu sebelum makan periksa baik-baik dulu makanan yang disajikan. Makanannya masih hangat atau tidak, itu pertama. Kedua, kamu periksa lauknya apa saja dan ada buah-buahan atau tidak. Periksa baik-baik, kalau kamu tidak suka apa yang disajikan tolak dan lapor saya. Setuju..!” teriak bupati dan disahuti ibu-ibu itu: “Setuju...!” (Fidelis Sergius Jeminta)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment