Senjata Api KKB Berjumlah 35 Pucuk

Bagikan Bagikan

Kapolda Papua Irjen Pol, Boy Rafli Amar

SAPA (JAYAPURA) - Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan jumlah senjata api milik kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang mengklaim menguasai Kampung Utikini dan sekitarnya di Kabupaten Mimika, Papua, sebanyak 35 pucuk.

"Kurang lebih sekitar 35 yah, kurang lebih dan ada juga yang menggunakan senjata tradisioanl termasuk panah juga ada," katanya ketika dihubungi dari Kota Jayapura, Papua, Jumat.

Namun, mantan Kapolda Banten itu tidak tahu persis jumlah amunisi yang digunakan oleh KKB itu, apakah menipis atau masih banyak.

"Belum tahu, sejauh mana menipis, kami belum tahu juga," katanya.

Belakang ini, di sejumlah media sosial beredar foto dua senjata api jenis laras panjang dan dikenal jenis Styer Aug. Dua senjata api serbu yang biasa digunakan oleh pasukan khusus itu difoto dengan keadaan berdiri.

Selain foto, kedua senjata yang memiliki kaliber 5,46 mm itu terlihat juga sosok pria dewasa dengan rambut gimbal yang sedang menenteng senjata tersebut.

Kedua foto senjata api itu diduga sebagai bagian dari 30-an senjata yang dimiliki oleh KKB yang mengklaim menguasai Kampung Utikini dan sekitarnya Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua.

Secara terpisah, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI George Elnadus Supit membenarkan informasi yang didapatnya bahwa KKB di Kampung Utikini memiliki 35 pucuk senjata api.

"Iya informasinya sekitar 30 hingga 35 pucuk. Terkait hal kami i merencanakan memperkuat kepolisian," katanya.

Mayjen TNI Supit menegaskan akan mengambil tindakan lebih lanjut bersama kepolisian untuk menyusun rencana bagaimana menghadapi KKB yang sudah sangat meresahkan itu.

"Jika tidak kami ambil tindakan lebih lanjut, kami sedang menyusun rencana diawali dengan negosiasi dulu. Jika temui jalan buntu dan tidak mau kerja sama dengan kami, kami akan ambil tindakan lanjutan, seperti itu," katanya.

Ia menambahkan pihaknya bersama Porli sedang mengambil langkah untuk upaya evakuasi yang melibatkan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan yang berpengaruh.
Sementara itu, Polri belum bisa memastikan pihak yang memasok senjata-senjata yang dimiliki kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Mimika, Papua yang telah menyandera ribuan orang warga sipil.

"Beberapa waktu lalu kami mendapatkan informasi ada senjata-senjata yang masuk secara ilegal. Tidak menutup kemungkinan dari situ. Tapi kami belum bisa memastikan," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (10/11).

Pihaknya juga belum bisa memastikan KKB tersebut berasal dari kelompok mana.

Menurut dia, sejauh ini belum ada laporan kekerasan fisik yang dilakukan KKB terhadap warga yang disandera.

Pihaknya juga mendapat laporan bahwa para ibu diberikan akses untuk berbelanja guna memenuhi kebutuhan makan bagi KKB dan sandera lainnya.

"Laporan yang kami dapatkan, warga masih baik-baik saja. Ibu-ibu diberikan akses untuk keluar belanja. Tidak ada kekerasan secara fisik. Tapi secara psikis, orang dilarang, dibatasi, kan ada (trauma)," katanya.

Dalam menangani KKB, Polda Papua dan Kodam Cenderawasih telah berkoordinasi untuk menangani situasi penyanderaan. Sekitar 200 personel Satgas gabungan TNI-Polri telah dikerahkan guna menangani kasus ini.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian juga meminta agar aparat terlebih dahulu mengedepankan langkah negosiasi dengan melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk membebaskan para sandera dari tangan KKB.

Sebanyak 1.300 orang warga sipil dijadikan sandera oleh KKB di sekitar Kampung Kimberly dan Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua.

"Satgas berupaya mengamankan dan melakukan langkah persuasif guna membebaskan 1.300 warga sipil yang dijadikan sandera oleh kelompok bersenjata di sekitar Kampung Kimberly dan Banti. Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika," kata Kepala Polda Papua, Inspektur Jenderal Polisi Boy Rafli.
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment