SMK Yapis Timika Tingkatkan Perhatian Literasi Qur’an Siswa

Bagikan Bagikan

Kepala SMK Yapis Timika, Saka Rumagia
SAPA (TIMIKA) – Tingkat literasi Alquran siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun menengah kejuruan (SMK), dinilai agak menyedihkan. Namun, hal itu harus tetap harus dibenahi. Karenanya, pembelajaran Alquran bisa dimulai dengan membaca dan mengartikan Alquran. Seperti yang sedang dilakukan SMK Yapis Timika.

Berdasarkan data yang didapat dari laman Kompasiana, Pusat Litbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama, telah melakukan penelitian Indeks Literasi Alquran siswa SMA. Dalam skala penilian 1 sampai 5, penelitian ini menemukan bahwa indeks literasi Alquran siswa SMA secara nasional berada dalam kondisi sedang dengan indeks rata-rata 2,44.

Penelitian ini dilakukan terhadap 3.710.069 siswa SMA negeri ataupun swasta dari total populasi siswa SMA sekitar tujuh juta siswa di seluruh Indonesia. Ada empat aspek yang dinilai, yaitu membaca (indeks 2,59) dan menulis (2,2) dimana keduanya masuk kategori sedang. Aspek mengartikan bacaan Alquran berada dalam kategori rendah (1,87), dan aspek menghafal dalam kategori tinggi (3,03).

Terkait hal tersebut, Kepala SMK Yapis Timika, Saka Rumagia mengatakan, pihaknya sudah berupaya mengembangkan literasi Quran melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun dimasukkan dalam kurikulum.

“Setiap pagi, kita ada mengaji bersama. Jadi sebelum masuk kelas mereka harus mengaji dulu dan harus diawasi oleh wali kelas,” katanya saat ditemui Salam Papua di ruangannya, Rabu (22/11).

Menurut dia,  perlu dlilihat sejauhmana peran orangtua terhadap anak-anaknya untuk mengaji dan bagaimana peran setiap guru.

“Kami punya absen guru maupun wali kelas. Untuk wali kelas yang tidak menjalankan program ini, akan diberi teguran. Selain itu, kami menyikapi guru-guru lewat tunjangan kinerja dan tunjangan  prestasi, kami juga melandasinya dari sholat. Dari orangtua pun kami meminta untuk mengawasi anaknya sehingga di sekolah pun lebih disiplin” ujarnya.

Lanjut Dia, banyaknya anak-anak yang sibuk dengan dunia gadget membuat pihaknya agak sulit menerapkan pada siswa agar terus mengingat landasan agamanya.

“Teknologi terus berkembang. Anak zaman sekarang sibuk dengan dunia maya. Tapi kita punya cara yakni, selain mengaji, ada jadwal sholat wajib dan sholat duha. Yang kemudian akan diawasi oleh OSIS dan guru,” ungkapnya.

Karena itu, menjalankan perintah Sholat lalu literasi Alquran perlu digalakkan mulai dari mempraktikkan, membaca dan mengamalkan.

“Yang penting sholatnya dulu, lalu bisa baca dan mengamalkan, karena ini aplikasi kehidupan,” kata Saka. (Salma)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment