Solidaritas Guru Menuntut Kepolisian Untuk Menangkap Kadispendasbud

Bagikan Bagikan

Ratusan guru se Kabupaten Mimika, yang menuntut pencairan insentif memblokade Gerbang Kantor Pusat Pemerintahan Mimika

Kinerja Kapolres Mimika Dipertanyakan
SAPA (TIMIKA) -  Ratusan guru yang tergabung dalam solidaritas guru se Kabupaten Mimika, yang saat ini masih menuntut pencairan insentif mengakui, nekat memblokade alias memalang Gerbang Masuk dan Keluar di Kantor Pusat Pemerintahan (Puspem) Mimika, SP 3, Distrik Kuala Kencana hingga kepala Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (Dispendasbud), Jenni Ohestin Usmani ditangkap dan dihadapkan kepada para guru dan mempertanggungjawabkan pencairan dana insentif.

Ketua Solidaritas Guru se Mimika, sekaligus koordinator aksi penuntutan insentif, Alexander Rahawarin mengakui, gerbang masuk dan keluar kantor Puspem akan tetap dipalang, hingga kadispendasbud datang untuk mempertanggungjawabkan sekaligus menyerahkan insentif yang dituntut.

“Kami tidak lagi takut Bupati Eltinus Omaleng, SE.MH. Karena kedaulatan itu ada di tangan rakyat. Kami guru dan mengetahui undang-undang NKRI. Kami akan terus duduk dan palang gerbang ini sampai Jeni Usmani datang dan membawa uang yang sudah kami jumlahkan dan tempelkan di gerbang,” ungkapnya ketika diwawancarai ketika usai berorasi.

Ia mengatakan, para guru yang merupakan awal membuka kegelapan akan pendidikan bagi anak-anak Mimika ini, terus berharap agar pihak kepolisian, dalam hal ini Kapolres segera menindak tegas Jeni Usamani.

Ketika memulai aksi penuntutan pada bulan Juli lalu, menurut dia, kapolres telah meminta para guru untuk membuat laporan dan mendukung agar mengambil jalur hukum. Namun ketika semua berkas laporan dilengkapi dan dilimpahkan ke kepolisian. Akan tetapi, sejak hari itu pun kadispendasbud tidak ditangkap.

Ia mengatakan sejak Bulan Juli, setelah permintaan bukti-bukti oleh Kapolres, pihaknya pun langsung ke Provinsi. Dengan demikian di Provinsi juga menemukanadanya kejanggalan.

“ Kami minta Kapolres menegakan hukum seadil-adilnya bukan tajam ke bawah dan tumpul ke atas.Kenapa dahulu waktu kami menyeret pejabat Dispendasbud yang lama berinisial LL, terus Kapolres Yustanto langsung beraksi dan menangkap yang bersangkutan. Kog yang sekarang malah tidak digubris? Padahal dia yang mendukung kami tempuh jalur hukum. Apa perbedaanya?,”  turunya.

Terkait kinerja Kapolres Mimika, diakuinya akan terus mendorong dan menuntuk ke Kapolda Papua hingga Kapolri agar Kapolres Mimika dicopot.

“Kami akan usahakan hingga ke Kapolda dan Kapolri supaya sikap Kapolres Mimika yang tidak menggubris laporan kami akan dikaji. Dan kami akan tuntut Kapolres dicopot dan diganti dengan Anggota kepolisaan lain yang juga mempu,” ungkapnya.

Selanjutnya ia mengakui, saat ini tidak menginginkan adanya negosiasi, dialog atau pun diplomasi. Yang dinginkan para guru, kepolisian harus menangkap Jeni Usmani dan memproses laporan yang telah dilimpahkan dan menjebloskannya ke penjara.

Menurut dia, seluruh guru akan didatangkan dari pedalaman pesisir dan pegungungan untuk terus tingkatkan aksi penuntutan hingga insentif dicairkan dan Jeni Usmani dipenjarakan.

Pencairan insentif, diakuinya telah mendapatkan perintah dari Sekda dan beberapa pejabat petinggi lainnya di Pemda Mimika agar Kadispendasbud cepat mencairkan insentif tersebut. Karena pencairan insentif atau dana apresiasi tersebut telah termuat dalam buku Induk APBD tentang TTP guru.

 Sedangkan terkait pernyataan dari Bupati yang berubah-ubah, dinilainya hanya sebagai pernyataan yang seakan sengaja menancap lebih dalam kekecewaan di hati para guru.

“Jujur kami kecewa sekali dengan pernyataan Bupati yang hari  ini lain dan besoknya lain. Hari ini Bupati perintahkan untuk dibayar. Tetapi kenapa hari berikutnya para guru diminta untuk tidak melanggar hukum? Kami tidak tahu hukum apa yang telah kami langgar. Bukannya kami sudah terima dua kali sebelumnya. Kalau begitu yang pernah dibayarkan Jeni Usmani itu juga melanggar hukum,” ujarnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment