Tajuk : Stop Kekerasan di Papua

Bagikan Bagikan


MIRIS, ketika kita menykasikan kepedihan hidup ratusan anak-anak Banti dan Kimbeli menahan cuaca panas di Penampungan Eme Neme Yauware, Timika.  Mereka biasa sangat jenaka dan ceria  menghirup udara dingin di Banti dan Kimbeli. Tidur lelap dikala mereka beristirahat. Meski, di Kimbeli dan Banti  cuaca dingin menyengat, mereka sudah terbiasa dan  sangat bersahabat dengan suasana itu. Di Banti dan Kimbeli, mereka tidak membutuhkan penyejuk dari kipas angin. Ibu-ibu tidak membutuhkan sobekan karton pengganti kipas untuk  mengipas anaknya yang sedang gelisah dan bolak-balik menahan kepanasan. Disana, Ac alam yang disediakan Tuhan sudah tersedia.

Ibu-ibu tampak berwajah sendu dan bermurung durja. Bapa-bapa pada melepaskan baju dan bertelanjang dada. “Aduh...?  Panasnya minta ampun, di kampung boleh!” teriak salah satu ibu paruh baya sambil menendang pantat suaminya seraya meminta sobekan karton pengganti kipas. Mata saya tidak berkedip memandang suasana itu. Saya tidak mau terusik dan kehilangan momen untuk membaca setiap reaksi bahasa tubuh mereka. Saya hanya bisa menangkap lewat bahasa tubuh, walau mereka berbicara agak keras. Saya tidak mengerti dan menangkap makna yang tersembunyi dibalik percakapan itu. Kecuali, ekspresi bahasa tubuh mereka sangat jelas sedang gelisah, kecewa, bahkan mereka sedang mencaci-maki dan mengumpat kala itu. Entah kepada siapa. Mereka berbicara hingga urat leher terbaca jelas dan jari-jemari saling menunjuk. Seolah, mereka saling menyalahkan satu sama lain. Mereka sedang rindu kampung halaman di Banti dan Kimbeli yang sejuk. Kebahagiaan dan kedamaian hidup di Banti dan Kimbeli bagai terlepas dan tercabut dari jiwa raga mereka, walau hanya secuil dari sisi penyesuaian cuaca. Tampaknya, mereka sedang memikul beban berat yang tiada tara dari sisi itu dan membutuhkan penyesuaian yang lama.

Sekilas menikmati kehidupan warga di Banti dan Kimbeli. Warga setempat, walau cuaca dingin dan awan menerpa wajah  dan seluruh tubuh. Pagi hari, ibu-ibu dan bapa-bapa sudah bergerak menuju ke kebun atau mereka membawa jualan labu hijau, singkong, keladi dan daun selada di Tembagapura. Mereka biasanya menggelar dagangan di trotoar jalan sambil memandang kesibukan karyawan PT. Freeport yang sedang lalu-lalang, truk-truk raksasa dan eksafator. Pokoknya peralatan serba wah. Menyaksikan suasana ibu-ibu menggelar dagangan di trotoar jalan dalam lingkungan penambangan emas seperti itu memprihatinkan. Saya membayangkan situasi itu bagai langit dan bumi. Pada hal, kalau saja satu ban truk dijual membuat tempat mereka berjualan, pasti uangnya masih sisa.

Kebahagian dan kedamaian hidup yang tercabut dari hidup sesorang, bukankah ini bagian dari pelanggaran HAM?. Memaksa sekelompok warga menyesuaikan diri di tempat baru, bukankah ini salah satu bentuk dari penindasan hak hidup orang lain?. Walau, kita tidak bisa sangkal suasana yang dialami warga Kimbeli dan Banti di Penampungan Eme Neme Yauware semata-mata sebagai akibat dari kekerasan kontak senjata antara aparat TNI/Polri dengan kelompok yang berhaluan lain. Mungkin sudah saatnya, kita berpikir arif dan membuka ruang dialog terbuka, setara dan bermatabat membahas dan mencari solusi yang tepat menyelesaikan seluruh realitas sosial politik di Papua. Kita semua bersepakat menyelesaikan masalah politik tidak diboncengi dengan pendekatan menggelar pasukan dan mengangkat senjata. Prajurit secara psikologis kalau sudah memanggul senjata, biasanya agak susah mengerem ketika musuh negara menggertak dan menyalakan senjata. Prajurit otomatis tanpa komando akan meledakan senjatanya. Logika yang dipakai kalau salah prosedur sangat mudah berlindung dibalik dua kata “Melindungi diri.”

Dampak dari kekerasan dan bisingnya mendengar desingan peluru yang terjadi antara TNI/Polri dengan sekelompok warga anak bangsa yang berhaluan lain melahirkan ketidaktentraman hidup warga. Warga Banti dan Kimbeli terpaksa mengungsi dari tanah tumpah darahnya. Maka kita berharap stop sudah kekerasan di Papua. Apakah itu kontak senjata, pemerasan, perampokan, pencurian dan pemerkosaan. Semoga! (Fidelis S J)  
   

  
       


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment