Tajuk : Wartawan Saja Dianiaya Warga Akar Rumput...?”

Bagikan Bagikan


Tragedi yang menimpa salah satu redaktur Surat Kabar Harian (SKH) Salam Papua yang juga wartawan media online nasional, Okezon, Saldi Hermanto Sekitar pukul 10.30 Wit, Sabtu (11/11) malam  mendapat perlakukan yang tidak terpuji dari beberapa oknum anggota Polres Mimika. Saldi dianiya dan dikeroyok  hingga pelipis kiri bengkak, kepalanya ditendang dan bekas sepatu oknum aparat masih membekas pada bagian punggung ketika dokter memvisum. Tragedi itu membuat kita miris, memprihatikan, memilukan dan membuat urat saraf kesadaran nyaris putus. Ketika kita mengenang kasus kekerasan terhadap wartawan menambah daftar panjang terjadi diberbagai daerah di Indonesia yang setia menganut paham negara hukum, sangat miris.

Tampaknya semboyan bagi oknum  Polri sebagai pelindung dan pengayom rakyat hanya sebatas pemanis dibibir. Oknum anggota penegak hukum  dari Polres Mimika yang diharapkan menjadi payung dan mencerminkan keteladanan dalam menyapa warga dengan senyum yang ramah masih jauh dari yang diharapkan, bak antara langit dan bumi. Apabila wartawan saja dianiya dan dikroyok hingga babak belur. Saya semakin menerawang  jauh, jauh sekali! Ketika, saya mengenang nasib warga akar rumput. Nasibnya seperti apa?

Siapapun bisa berdalih dan membaca secara jernih kasus kekerasaan yang dialami Saldi ibarat tiada api tanpa asap, benar! Dan ada yang beranalisa sambil menyebut berawal dari postingan unggahan status lewat facebook sebagai pemicu emosi dan pemantik sumbu hubungan sebab akibat. Menarik sekali dikaji premis seperti ini ketika disejajarkan dengan pandangan hidup dalam bernegara. Apalagi, kita kaji dari sisi bertugas dinegara yang memiliki koridor hukum dalam bertindak dan beraksi. Mari kita berpikir secara sederhana saja dari pada urat saraf putus. Ibarat, kita memasak nasi dan sayur dari olahan sendiri saja. Kita masih menunggu dingin dulu baru disantap atau menunggu hangatnya seperti suam-suam kuku baru dinikmati.

Mungkin baik pula dan sekedar menyegarkan ingatan kita soal etika dalam bermedia sosial mesti patuh dan taat pada asas etika dan sopan santun yang menyejukan. Dan kepada oknum anggota Polres Mimika atau siapa saja yang mengikrarkan semboyan Polri kembali merasapi dan mengaplikasikan semboyam Polri. Karena, dari berbagai referensi yang saya pelajari. Semboyan Polri kalau diamalkan dalam tugas harian di Bumi Amungsa bagai Surga jatuh ke bumi. Bagaimana tidak!  Lambang polisi bernama Rastra Sewakottama yang berarti “Polri adalah abdi utama dari pada Nusa dan Bangsa.”

 Sebutan itu adalah Brata pertama dari Tri Brata yang diikrarkan sebagai pedoman hidup Polri sejak 1 Juli 1954. Polri bertumbuh dan berkembang dari rakyat dan untuk rakyat harus berinisiatif dan bertindak sebagai abdi sekaligus pelindung dan pengayom rakyat. Harus jauh dari tindak dan sikap sebagai “penguasa”. Prinsip itu sejalan dengan dengan paham kepolisian di semua negara yang disebut: New modern police philosophy, Vigilant Quiescant” (Kami berjaga sepanjang waktu agar masyarakat tentram). Prinsip itu diwujudkan dalam bentuk logo dengan rincian sebagai berikut: Perisai bermakna pelindung rakyat dan negara. Tiang dan nyala obor bermakna penegasan tugas Polri, disamping memberi suluh atau penerangan juga bermakna penyadaran hati nurani masyarakat agar selalu sadar perlunya kondisi kamtibmas yang mantap.

Pancaran obor yang berjumlah 17 dengan 8 sudut pancar berlapis 4 tiang dan 5 penyangga bermakna 17 Agustus 1945, hari Proklamasi Kemerdekaan yang berarti Polri berperan langsung pada proses kemerdekaan dan sekaligus pernyataan bahwa Polri tidak pernah lepas dari perjuangan bangsa dan negera. Dan referensi lain menyebutkan, Polri pengejawantahan dan cermin dari harapan warga yang mendambakan ketentraman. Karena Polri menampilkan sikap kesejukan, ketenangan, berpikir jernih, bersih dan bersikap adil dalam mengambil keputusan.

Kita berharap kasus yang dialami Saldi menjadi pelajaran berharga dan bahan permenungan  bagi kita semua untuk melangkah dan bertindak  profesional dalam mengambil keputusan. Merawat keharmonisan dan mengedepankan proses hukum setiap ada masalah, bukan sebaliknya mengandalkan kekuatan dan mempertontonkan senjata laras panjang di depan mata warga. Semoga! (Fidelis S J)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment