Tingkah Premanisme Anggota Polisi Lenyapkan Kepercayaan Masyarakat

Bagikan Bagikan


Kapolri, Kapolda dan Kapolres Dituntut Kaji Ulang Visi Misi Kepolisian
SAPA (TIMIKA) -  Pristiwa penganiayaan terhadap Wartawan Salam Papua sekaligus sebagai kontributor media online nasional, Okezone atas nama Saldi Hermanto di Timika, sekitar pukul 22. 50 Wit, Sabtu (11/11) malam dinilai sebagai tindakan premanisme. Sebab, tujuh anggota Polres Mimika yang bertugas di bagian Dalmas dengan sadis mengeroyok dan menganiaya hingga korban mengalami bengkak pelipis bagian kiri, wajah rusak dan lebam, bagian kanan tubuh mengalami sakit serta kesulitan bernafas.

Tindakan tujuh anggota Dalmas ini dikutuk keras oleh Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan (Yahamak) Timika. Ketua Yahamak Timika, Arnold Ronsumbre mengatakan, korban ditargetkan dan dijemput paksa serta dikeroyok secara sadis, merupakan tindakan aparat kepolisian yang melanggar salah satu visi misi kepolisian yakni, selaku pengayom masyarakat. Tindakan ini menurut dia, juga melenyapkan kepercayaan masyarakat Mimika terhadap keberadaan Polisi.

“ Masyarakat jadi takut. Karena polisi terkesan menculik korban dan mengeroyok. Wartawan yang menjadi korban itu adalah mitra kepolisian. Tanpa wartawan, instansi kepolisian dan instansi yang lainnya hanya sebagai jagoan kandang. Wartawan yang bisa menyebarkan baik dan buruknya kinerja kita. Lalu kenapa dianiaya?,” ungkap Arnold kepada awak media di halaman Kantor Polres Mimika, Jalan Cendrawasih, Senin (13/11).

Terkait hal ini, Arnold menuntut agar  Kapolri, Kapolda Papua bersama kapolres Mimika harus mengkaji ulang poin-poin yang tertera dalam visi dan misi Kepolisian. Hal ini menurut dia, agar bisa mengembalikan citra kepolisian di mata masyarakat.

“Ini menjadikan masyarakat menilai Polisi itu tidak baik. Citra polisi harus di kembalikan dengan cara mengkaji ulang visi dan misi dan menuntut seluruh anggota kepolisian untuk memahami dan menerapkan visi misi tersebut,” tuntutnya.

Menurut dia, jika ada anggota kepolisian yang tidak memahami visi dan misi kepolisian RI, maka akan lebih baik untuk dikeluarkan dari tugasnya sebagai polisi.
“Saya minta kapolres jangan main-main dengan kejadian ini. Para pelaku itu harus  dihukum seberat-beratnya karena telah merusak citra kepolisian dan mengorbankan oknum wartawan. Wartawan itu harus digandeng sebagai mitra, bukan musuh,” tuturnya.

Selanjutnya ia mengatakan, meski instansi kepolisian tidak bersalah dalam pristiwa penganiayaan Wartawan yang kini menyitah perhatian banyak pihak ini, namun setiap anggota polisi harus dituntut untuk menjadi lebih dewasa dan menjaga wibawa lembaga penegak hukum. Menurut dia, Kapolri, Kapolda dan Kapolres harus memberikan pendidikan pendekatan persuasif secara intens kepada seluruh bawahannya, sehingga bisa menguatkan kepercayaan dari masyarakat.

“Kalau memang dinilai wrtawan yang bersangkutan melanggar Undang-undang IT, maka sebagai polisi harus memanggilnya dan memberikan pemahaman dengan cara yang mendidik. Kenapa harus dengan cara menjemput dengan kendaraan patroli, lalu mengeroyok? Ini sangat jauh dari tindakan anggota polisi selaku pelindung masyarakat. Saya sangat mengutuk keras tindakan ini,” katanya,”. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment