TNI Bebaskan Sandra

Bagikan Bagikan

Panglima TNI, Gatot Nurmantyo

TPNPB/OPM Tuntut Merdeka
SAPA (TIMIKA) – Dibalik keberhasilan TNI membebaskan 347 sandra yang rata-rata warga non Papua di sarang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Banti dan Kimbely, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika. Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengendus niat KKB alias TPNPB/OPM menyandra 1.300 warga sebagai tameng menuntut merdeka.

"Pak Kapolda sudah melakukan tindakan-tindakan negosiasi berbagai macam cara, menggunakan pendeta, pastor bahkan perwakilan uskup, kepala suku, Pemda dan semuanya. Namun mereka (TPNPB/OPM) tidak bergeming dengan negosiasi itu. Mereka meminta kami  memberikan Papua merdeka," ujarnya.

Menyikapi tuntutan itu, pemerintah tidak tinggal diam. Sehingga, pemerintah memutuskan  operasi militer. Selain perang untuk membebaskan ribuan sandera yang merupakan warga sipil asli Papua maupun non Papua di Kampung Banti dan Kimbeli pada Jumat 15 November lalu.

"Operasi ini harus dilakukan untuk menunjukkan bahwa di Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak boleh satu menusia pun disandera. Tidak ada tempat yang tidak aman, di mana tempat yang pemerintah harus hadir di situ. Itu urgensinya," kata Gatot.

Prajurit gabungan TNI yang berhasil  melakukan operasi pembebasan sandera. Prajurit yang terlatih dan terpilih. Mereka melakukan latihan rahasia secara intensif berdasarkan pemetaan-pemetaan tempat yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil pemetaan itu sebagai petunjuk melakukan operasi sunyi senyap.

 "Mereka masuk kemudian mereka bergerak. Jarak hanya 4,5 kilometer, tetapi hanya ditembus dalam lima hari lima malam, karena mereka hanya bergerak pada malam hari secara senyap. Dan pada saat mereka sudah pada posisi dan melihat benar penyandera di berbagai tempat, baik di Banti 1, Banti 2 dan di Kimbeli, baru prajurit bergerak pada jam 7.30. Dalam waktu yang singkat, dengan tembakan dan ledakan-ledakan membebaskan sandra,” ujaranya.

Menurut Gatot strategi itu bertujuan memisahkan kelompok separatis (penyandera) dengan warga sipil yang disandera.  

"Karena mereka bergabung dengan masyarakat, maka yang paling utama adalah pemisahan itu. Karena perintah saya tegas, faktor utama adalah pembebasan sandera dan tidak ada satu sandera pun jadi korban," katanya.

Taktik itu membuahkan hasil 347 warga sipil (data versi TNI dan versi Polri 344) berhasil dibebaskan dan di evakuasi dari lokasi yang tadinya dikuasai kelompok separatis. Bahkan, sebagain besar dari mereka warga asli Papua yang lebih memilih untuk menetap di wilayah itu, meminta pengamanan dari petugas.

58 Prajurit TNI menerima penghargaan kenaikan pangkat
Buah Manis 
Buah manis dari keberhasilan prajurit gabungan TNI membebaskan sandra menurut Panglima Gatot Nurmantyo sebanyak 58 orang anggota prajurit TNI mendapatkan penghargaan kenaikan pangkat. Namun, lima perwira TNI yang mengomandani prajurit menolak menaikan pangkatnya. Kelima perwira itu meminta yang lebih pantas dan berhak mendapatkan penghargaan sebesar itu anak buah.

Dari pengakuan mereka menyebutkan, keberhasilan operasi pembebesan sandera di Kampung Banti dan Kimbeli, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua adalah berkat kerja keras anak buahnya.

Dua Tewas, 6 Luka
Panglima Gatot Nurmantyo mengatakan, prajurit gabungan TNI selain berhasil membebaskan 347 sandra. Mereka berhasil menembak mati dua anggota TPNPB/OPM dan enam orang menderita luka-luka dalam kontak senjata di Kampung Banti dan Kimbeli, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika pada Jum’at 15 November 2017 lalu.

“Pada saat pembersihan ditemukan dua separatis mati dan satu pistol kita temukan. Ini suatu operasi yang sangat luar biasa, dan saya yakin ini hanya kebesaran Tuhan Allah SWT ini bisa terjadi. 347 sandera bisa selamat semuanya," kata panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di Tembagapura, Minggu (19/11).

Dari data yang dihimpun media ini dari keterangan tertulis tim publikasi TPNPB/OPM mengakui kalau dua anggota mereka tewas dalam operasi  itu. "Dua orang tewas dalam serangan TNI dengan bom roket. Dua orang itu adalah benar anggota TPNPB dan enam orang mengalami luka-luka dan sedang dirawat, yang tewas sudah kubur (Jumat) sore," kata tim tersebut.

Dari sumber lain menyebutkan, pada Jumat 15 November pagi, 13 prajurit Kopassus melakukan operasi senyap dibantu prajurit dari Ton Taipur Kostrad dan Raider Yonif 751. Mereka berhasil menguasai Kampung Banti 1, Banti 2 dan Kimbeli yang sebelumnya dikuasai kelompok OPM dengan menyandera ribuan warga sipil di wilayah itu.  

“Setelah, kami berhasil menguasai dan memukul mundur kelompok tersebut. Tim evakuasi yang dipimpin Kapolda Papua, Pangdam XVII/Cenderawasih dan Asops Kapolri masuk ke perkampungan melakukan proses evakuasi terhadap warga menuju Tembagapura, selanjutnya dievakuasi ke Kota Timika,” katanya. (Red/Ricky Lodar/Ant/Sal)



Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

1 komentar:

  1. yang di sandra siapa coba,

    masa warga yang di sandra kok mash pulang dengan peralatan dapur dan barang2 tu yang di maksud sandra ai...

    ReplyDelete