Warga Banti dan Kimbeli Minta Pindah Kampung ke Timika

Bagikan Bagikan


Kepala suku Banti dikunjungi pasangan Cabup (R n B)
SAPA (TIMIKA) – Dampak  terjadinya kontak senjata antara  aparat keamanan dan Kelompok  Kriminal Bersenjata (KKB) di Tembagapura yang terjadi beberapa waktu lalu, warga di Kampung Kimbeli dan Banti mengalami  ketakutan kembali berdomisili di kampung mereka.  Warga kedua kampung yang sedang  ditampung di Geraha Meme Neme Yauware ini  meminta pindah kampung ke wilayah Timika.

“Anak dan Istri kami sudah takut untuk kembali ke kampung. Waktu terjadinya kontak senjata itu, kami hidup seperti di jaman dahulu. Mau ke kebun tidak bisa, anak-anak kami jadi tidak tenang untuk sekolah. Jadi kami akan tuntut supaya kami pindah ke Timika saja,” kata  Kepala Suku  Banti, Kamaniel Waker ketika dikunjungi pasangan Calon Bupati (Cabup) Robert Waropea dan Albert Bolang (R n B) di Graha Eme Neme Yauware, Senin (21/11).

Pristiwa kontak senjata yang terjadi beberapa waktu lalu menjadikan anak-anak merasakan ketakutan untuk bermain dan bersekolah. Selain itu, semua perempuan merasa takut untuk melakukan aktivitas di kebun. Tuntutan pemindahan kampung itu akan didiskusikan bersama tokoh masyarakat lain di Tembagapura.

“Kami mau Pemkab Mimika bisa sediakan lahan khusus untuk perkampungan baru bagi kami. Kami mau hidup tenang. Kami sudah rajut hidup dalam tekanan oknum-oknum tertentu,” katanya.

Dia menyebutkan, jumlah Kepala Keluarga (KK) di Kimbeli dan Banti mencapai ribuan. Dan hingga saat ini masih ada sebagian  yang bertahan dan menunggu evakuasi susulan. Warga selain rasa takut dan satu hal yang dikuatirkan  adalah masa depan generasi penerus.

“Kami tidak tahu lagi apakah anak-anak kami masih bisa sekolah atau tidak? Saat ini harta kami seperti babi dan hasil kebun juga ditinggalkan,” ujarnya.

Keinginan yang sama juga disampaikan Moses. Moses adalah bocah bersusia 9 tahun dan mengaku sedang sekolah  di Sekolah Dasar Inpres (SDI) Banti.  Bocah itu mengaku sangat takut untuk kembali ke Banti pasca terjadinya kontak senjata.
Bocah yang disapa Oje ini mengisahkan, hidup dalam suasana perang sangat susah dan selalu dihantuai rasa takut. Karena itu, Oje berharap agar kedua orang tuanya bisa membawa dia dan ke tiga adiknya pindah ke wilayah lain di luar Banti.

“Saat yang anggota Brimob itu mati, saya sudah tidak mau pergi sekolah. Karena saya lihat waktu orang-orang angkat dia masuk ke mobil dan dia punya badan itu penuh darah. Saya punya mama juga setiap hari itu menangis terus karena takut. Saya punya bapak itu bilang tinggal di atas itu sudah tidak aman lagi,” tuturnya  polos.

Menanggapi permintaan tersebut, Calon Bupati Robert Waropea mengaku akan berusaha untuk menjalin koordinasi dengan Pimpinan Daerah (Pemda) yang saat ini sedang menjabat.

Dia menilai  situasi keamanan memang sangat mendukung kelangsungan hidup setiap masyarakat di Mimika termasuk masyarakat Banti dan Kimbeli. Sebab jika selalu hidup dalam ketakutan, maka tidak akan bisa memajukan kehidupan masyarakat khususnya perkembangan anak-anak.

“Saat ini Bupati Eltinus belum ada. Saya akan berusaha untuk mendorong supaya permintaan Bapak-bapak bisa tercapai. Karena kami juga sangat merasakan apa  yang  masyarakat Banti dan Kimbeli rasakan saat ini,” tutur Robert.  (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment