Fira Korban Digigit Ular Diijinkan Pulang

Bagikan Bagikan

SAPA (TIMIKA) – Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Mimika telah menginjinkan Fira (31) kembali ke rumahnya. Fira dinyatakan telah sehat dan pulih dari bisa ular yang telah menggigit dia dan putranya pada Senin (4/12) sekitar pukul 03.00 WIT lalu di Kampung Hiripau, Distrik Mimika Timur.

Ketika ditemui wartawan  Salam Papua di ruangan Bangsal Mambruk RSUD Mimika, Selasa (5/12), Fira terlihat sehat namun raut wajahnya masih tampak sedih mengenang putra semata wayangnya yang bernama Ahmad (2,6) telah pergi untuk selamanya setelah digigit ular di kediamannya.
 
Fira korban digigit ular
Dikatakan Fira, pada saat itu ia bersama anaknya tengah tertidur lelap di kamar, Senin (4/12). Namun sekitar pukul 01.00 WIT, korban berteriak karena kesakitan dan Fira kaget ketika bangun melihat ular yang dikenal ular mono atau ular bodok telah berada di antara mereka berdua di ranjang yang tertutup kelambu.

“Karena anak ku teriak sakit makanya saya bangun dan melihat ular tersebut berada di tengah-tengah, kemudian saya lompat ke bawah dan membangunkan suami saya untuk membunuhnya,”ucapnya lantang.

Menurutnya, ketika mereka berdua tidur, ular tersebut telah menggigit putranya tiga kali. Dua kali di kaki sebelah kanan dan satu kali di kaki sebelah kiri sementara ia digigit dua kali di kaki sebelah kanan.

“Sebelum saya lompat, saya melihat ular tersebut berada di tengah-tengah dalam kondisi diam tidak bergerak sehingga memudahkan suami saya untuk membunuh ular tersebut. Dan pada saat suami saya membawanya keluar, Ahmad bilang bahwa “mama itu ular” dan saya jawab ia anak,”sambil menangis.

Dirinya mengatakan bahwa ucapan itu adalah kata-kata terakhir dari Ahmad, anaknya. Setelah mengatakan itu, lanjut Fira, Ahmad bilang dia sakit perut dan tidak lama kemudian dia mengeluarkan lendir dari mulutnya dengan kondisi tubuh yang sudah lemas sementara matanya sudah sangat susah untuk dibuka.

“Ayahnya berusaha untuk mengelus perutnya namun ternyata racun ular tersebut sudah mengalir ke seluruh tubuh anak saya hingga akhirnya nyawa tidak tertolong,” katanya sambil tersedu-sedu.

Menurut Fira, setelah membunuh ular tersebut, suaminya (Muslimin) langsung membuang ular tersebut ke jalanan.

“Ular tersebut di pukul pakai kayu dan langsung dibuang ke jalanan. Saya tidak tahu ular itu masuk dari mana karena kami sebelum tidur selalu menutup lubang yang ada di rumah. Tetapi apa boleh buat kejadian itu sudah terjadi,” ujarnya.

Fira mengakui, rumah yang mereka tempati itu dulunya adalah sebuah gudang barang yang digunakan untuk menempatkan barang-barang yang akan dibawa ke luar Timika. Muslimin bekerja di bagian kapal barang yang mengangkut barang-barang ke luar Timika. Kemudian dia dan suaminya berfikir untuk mengubah gudang itu menjadi rumah bagi mereka.

Dia berharap, agar Pemda dapat lebih memperhatikan rakyatnya dan dapat memberikan penyuluhan tentang bahayanya ular serta pencegahan bisa ular ke setiap RT-RT, Kepala Kampung maupun Distrik, sehingga masyarakat dapat mengerti.


“Jika kami mengetahui setidaknya kami dapat menolong putra saya. Dan saya harap juga agar kejadian ini tidak terulang lagi. Cukuplah ini menjadi yang terakhir kali dan tidak ada lagi korban lainnya,” harapnya. (Salma)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment